RADAR TULUNGAGUNG – Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa baru-baru ini menyampaikan pesan penting yang sangat relevan bagi generasi muda, khususnya dalam mengelola keuangan pribadi.
Purbaya menekankan agar anak muda tidak mudah terjebak dalam fenomena FOMO (fear of missing out) saat berinvestasi dan juga mengingatkan untuk selalu berbelanja sesuai dengan kemampuan kantong tanpa harus berutang.
Baca Juga: Presiden Prabowo Siapkan Lapangan Pekerjaan untuk Jutaan Orang, Ini 5 Program Unggulannya
Pesan dari Menkeu Purbaya ini datang di tengah serangkaian langkah proaktif pemerintah dalam menjaga stabilitas fiskal dan mendorong perekonomian nasional.
Dalam kesempatan yang berbeda, Menkeu Purbaya juga mengingatkan betapa vitalnya literasi keuangan bagi kaum muda. Ia menegaskan bahwa kunci keberhasilan dalam berinvestasi bukanlah mengikuti tren semata, melainkan dengan memahami secara mendalam instrumen investasi yang dipilih.
Anjuran dari Purbaya ini menjadi sorotan penting mengingat banyak generasi muda yang rentan tergiur investasi dengan imbal hasil fantastis tanpa analisis yang cermat.
Lebih lanjut, Purbaya Yudhi Sadewa juga menyoroti kebiasaan berbelanja. Ia mempersilakan siapa pun untuk berbelanja, baik barang mahal maupun murah, asalkan disesuaikan dengan anggaran pribadi. "Jangan ngutang," tegas Purbaya.
Prinsip ini adalah fondasi penting untuk menghindari jeratan utang konsumtif, terutama bagi Gen Z yang memiliki banyak akses ke berbagai platform keuangan seperti paylater.
Fenomena FOMO dalam berinvestasi sering kali dipicu oleh kisah-kisah sukses aset yang meroket, menimbulkan rasa takut akan kehilangan kesempatan. Namun, Menkeu Purbaya dengan tegas mengingatkan bahwa hal itu harus dihindari.
Menurutnya, sebelum memutuskan untuk berinvestasi dalam instrumen apa pun, anak muda harus terlebih dahulu mempelajarinya secara detail. "Pelajari instrumennya apa, mereka pasti berhasil," ujar Purbaya.
Anjuran ini sejalan dengan imbauan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) agar investor tidak hanya fokus pada satu saham saja dan berhati-hati terhadap investasi bodong.
Tidak hanya soal investasi, gaya hidup konsumtif juga menjadi perhatian khusus Purbaya. Ia menekankan pentingnya menyesuaikan anggaran yang dimiliki saat ingin berbelanja.
Pernyataan ini secara spesifik diarahkan kepada generasi muda, terutama perempuan yang memiliki kecenderungan untuk berbelanja.
Saran dari Purbaya ini memberikan panduan praktis agar masyarakat dapat mengelola keuangan secara sehat dan terhindar dari lilitan utang yang tidak perlu.
Peringatan ini juga mirip dengan seruan Ketua Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) yang mengingatkan untuk menghindari paylater karena sering mendorong pembelian impulsif.
Pada 9 September lalu, Purbaya Yudhi Sadewa resmi dilantik sebagai Menteri Keuangan, menggantikan Sri Mulyani Indrawati.
Momen serah terima jabatan di kantor Kementerian Keuangan Jakarta itu disebutnya sebagai titik penting dalam perjalanan pengabdiannya untuk bangsa.
Purbaya merasa sangat terhormat atas kepercayaan yang diberikan Presiden untuk memimpin kementerian strategis yang mengurus fiskal negara.
Namun, ia juga mengakui bahwa jabatan ini bukan hanya soal tanggung jawab teknis, melainkan juga amanah besar untuk menjaga kepercayaan publik.
Dengan tegas, Purbaya menyatakan kesiapannya untuk bekerja keras melanjutkan peran fiskal sebagai instrumen penjaga stabilitas dan kesejahteraan rakyat.
Tidak hanya mengurus persoalan domestik, Purbaya juga menyoroti tantangan berat yang tengah dihadapi perekonomian dunia.
Ia menyebutkan bahwa geopolitik, perkembangan teknologi, serta isu perubahan iklim merupakan faktor eksternal yang harus diantisipasi dengan serius. "Amanah ini tidak ringan karena dunia dihadapkan tantangan yang semakin kompleks," kata Purbaya.
Baca Juga: Peluang Ekspor Makin Terbuka di 2025, Ini Cara Cerdas Menjangkau Pasar Global
Di bawah kepemimpinannya, Purbaya mengambil langkah berani untuk mendorong pergerakan ekonomi. Ia menegaskan bahwa pemerintah tidak ingin uang negara "menganggur".
Strategi fiskalnya yang proaktif terlihat dari kebijakan menyalurkan dana sebesar Rp200 triliun dari Bank Indonesia ke lima bank nasional, termasuk Bank Mandiri, BRI, dan BNI yang masing-masing mendapat alokasi terbesar Rp55 triliun.
Langkah ini bukan sekadar pemindahan dana, melainkan upaya Purbaya untuk memastikan uang berputar di masyarakat, bukan hanya tersimpan di bank sentral atau obligasi.
Tujuan utamanya adalah mendorong perbankan lebih aktif menyalurkan kredit produktif guna menggerakkan perekonomian. Ia bahkan dengan gaya "koboi"nya membuat direktur bank pusing untuk menyalurkan dana tersebut, "Enak aja, Kasih Semua Biar Mikir!".
Pemerintah mendapatkan bunga 4% atas penempatan dana ini, sementara Purbaya juga memastikan bahwa dana tersebut dapat digunakan untuk kredit dengan bunga yang lebih rendah, seperti contoh 2% untuk Koperasi Merah Putih.
Purbaya juga menegaskan bahwa dana tersebut bisa ditarik kembali kapan saja jika tidak digunakan untuk kredit.
Baca Juga: Mengenal Industri Buzzer Politik di Indonesia, Mesin Opini Publik yang Mengancam Demokrasi
Agar efektif, dana ini harus diarahkan ke kegiatan dengan pengganda besar seperti perumahan rakyat, koperasi desa, pertanian, dan industri pengolahan.
Keseluruhan pesan dan kebijakan yang diusung oleh Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa mencerminkan fokus ganda: mendidik generasi muda agar cerdas finansial dan proaktif mengelola kebijakan fiskal negara untuk menghadapi tantangan global dan mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif. ****
Editor : Dharaka R. Perdana