Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Wacana Merger Garuda Indonesia-Pelita Air Berpotensi Picu Masalah Baru, Ini Kekhawatiran Pengamat

Mohammad vicky avanda zilmy • Kamis, 18 September 2025 | 05:05 WIB
Rencana merger antara Pelita Air dan Garuda Indonesia menuai sorotan.
Rencana merger antara Pelita Air dan Garuda Indonesia menuai sorotan.

RADAR TULUNGAGUNG - Rencana merger antara Pelita Air dan Garuda Indonesia menuai sorotan.

Langkah penggabungan dua maskapai tersebut dinilai berisiko tinggi dan berpotensi menimbulkan masalah baru di sektor penerbangan nasional.

Saat ini, wacana merger tersebut sedang memasuki penjajakan awal. Danantara juga disebut-sebut akan mengawal aksi korporasi perusahaan pelat merah tersebut.

Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Simon Aloysius Mantiri mengungkapkan, rencana penggabungan anak usaha airline, Pelita Air, dengan Garuda Indonesia tengah dalam proses penjajakan awal.

Penggabungan dilakukan karena ingin mulai fokus dengan bisnis inti perusahaan, yakni migas dan energi terbarukan.

Baca Juga: Catlovers Wajib Tahu, Fakta Menarik di Balik Mode Pesawat Pada Telinga Kucing

"Kami sedang penjajakan awal untuk penggabungan dengan Garuda Indonesia," ujar Simon di Jakarta Selasa (16/9/2025)

Direktur Utama PT Garuda Indonesia Tbk Wamildan Tsani menyebutkan, rencana merger itu masih dalam tahap penjajakan awal.

"Terkait dengan wacana konsolidasi BUMN sektor penerbangan hingga saat ini masih berada di tahap awal penjajakan, dan terkait hal tersebut Perseroan masih terus berkoordinasi dengan para pemangku kepentingan terkait," beber Wamildan.

Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira Adinegara mengatakan bahwa kondisi keuangan kedua maskapai tersebut sangat berbeda jauh.

Pelita Air tercatat memiliki posisi keuangan yang jauh lebih stabil dan bahkan mampu bersaing secara sehat dengan maskapai swasta lain.

Bahkan, menempati urutan pertama maskapai paling tepat waktu dengan tingkat 94,3 persen sepanjang 2024.

"Kenapa yang sehat digabung dengan maskapai bermasalah?" ujar Bhima.

Baca Juga: Pakar Penerbangan Sebut Struktur Kokoh jadi Kurangi Dampak Kecelakaan Pesawat Delta Airlines

Bhima mengingatkan potensi dampak negatif pada operasional Pelita Air pascamerger. Imbasnya ke penurunan jumlah rute.

Mengingat, Pelita Air selama ini bersaing ketat dengan Citilink, anak usaha Garuda yang bergerak di segmen low cost carrier.

Sehingga, bisa memicu terjadi PHK di Pelita Air. Malah menjadi masalah baru lagi nantinya.

Sebagai alternatif, Bhima menyarankan agar Danantara lebih baik fokus memperbaiki kondisi keuangan Garuda (GIIA) terlebih dahulu. ****

Editor : Dharaka R. Perdana
#pertamina #merger #pelita air #garuda indonesia