RADAR TULUNGAGUNG - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali menuai sorotan tajam, kali ini dari pakar gizi Dr Tan Shot Yen dalam Rapat Dengar Pendapat bersama Komisi IX DPR RI.
Dr Tan Shot Yen mengkritik keras kelalaian standar keamanan pangan, khususnya terkait suhu makanan yang tidak sesuai protokol dan berpotensi membahayakan kesehatan anak-anak.
Selain itu, Dr Tan Shot Yen juga menyoroti dominasi makanan ultra-processed serta lemahnya kompetensi pelaksana lapangan yang dinilai tidak memahami prinsip dasar food safety.
Baca Juga: Belasan Siswa SMAN 2 Lamongan Muntah setelah Santap MBG, Menu untuk 2 SMA Negeri di Surabaya Basi
Kritik Utama dari Tan Shot Yen
1. Suhu Pangan: Zona Bahaya 5–60 °C
Dr. Tan menekankan bahwa makanan MBG harus disajikan pada suhu di atas 60 °C agar aman dari pertumbuhan bakteri.
Menurutnya, menyimpan makanan dalam kisaran 5–60 °C merupakan “zona bahaya” bagi mikroba.
2. Penggunaan Makanan Ultra-Processed (UPF) dan Menu “kering”
Dr. Tan mengkritisi kebijakan pangan MBG yang justru menyajikan banyak makanan olahan industri seperti burger, sandwich, dan menu kering bukan menu lokal dan segar.
Ia menegaskan agar distribusi UPF dihentikan dan komposisi menu lokal dinaikkan hingga 80%.
“Burger” disebut sebagai simbol bahwa makanan MBG banyak bergantung pada gandum impor yang tak tumbuh di Indonesia.
3. Lemahnya Kompetensi Pelaksana dan Pengawasan di SPPG
Ia menyebut bahwa banyak Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dioperasikan oleh tenaga yang belum terlatih, bahkan tidak paham konsep HACCP (Hazard Analysis Critical Control Points).
Dr Tan menyarankan agar pelatihan dan uji kelayakan terhadap SPPG dilakukan sebelum mereka mulai beroperasi, dan agar proses monitoring & evaluasi diperketat.
4. Keterkaitan Pemberian Susu dan Intoleransi Laktosa
Dr. Tan juga mempertanyakan keberadaan susu dalam MBG berdasarkan fakta bahwa sekitar 80 persen orang Asia Tenggara memiliki intoleransi laktosa.
Ia mengkritik formula susu manis atau produk susu instan yang sering memasuki menu MBG, yang bisa menimbulkan masalah pencernaan bagi sebagian siswa. ****
Editor : Dharaka R. Perdana