Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Tragedi Keracunan MBG di Bandung Barat Meluas, Hanya Santap Stroberi dan Tahu Ibu Menyusui Langsung Rasakan Gejala Parah

Mohammad Dzakwan Wahyu Nur Fauzan • Jumat, 26 September 2025 | 18:45 WIB

 

penanganan ibu menyusui korban MBG di Bandung Barat
penanganan ibu menyusui korban MBG di Bandung Barat

RADAR TULUNGAGUNG – Kasus keracunan MBG (Makan Bergizi Gratis) di Kabupaten Bandung Barat (KBB), Jawa Barat, yang sebelumnya menimpa ribuan pelajar, kini terkonfirmasi turut menyerang kelompok rentan, yaitu ibu menyusui.

Peristiwa ini menambah daftar panjang kekhawatiran publik terhadap kualitas makanan yang didistribusikan dalam program MBG tersebut.

Dua ibu menyusui asal Desa Neglasari, Kecamatan Cipongkor, KBB, terpaksa dilarikan ke Posko Kecamatan pada Kamis (25/9/2025), setelah mengalami gejala dugaan keracunan MBG meskipun mereka hanya mengonsumsi sedikit dari menu yang dibagikan.

Salah satu korban, Siti Nuraeni (25), warga Kampung Cigombong, Desa Neglasari, mengungkapkan bahwa ia hanya memakan buah stroberi dari jatah MBG yang diterimanya pada Rabu (24/9/2025) pukul 10.00 WIB. Menu lengkap yang diterima Siti Nuraeni saat itu terdiri dari ayam, tahu, sambal, dan stroberi.

Baca Juga: Dr. Tan Shot Yen Kritik Pedas MBG di Hadapan DPR: Suhu 5–60 Derajat Celcius Zona Bahaya Elakkan Food Safety MBG Gagal

Meskipun mengaku sudah delapan kali menerima MBG tanpa masalah sebelumnya, kali ini Siti Nuraeni mulai merasakan nyeri perut pada malam hari, yang kemudian diikuti dengan pusing dan mual pada pagi harinya, Kamis (25/9/2025).

Pengalaman pahit ini membuatnya trauma dan mengaku "kapok" untuk mengonsumsi hidangan MBG lagi.

Korban ibu menyusui lainnya, Siti Fatimah (26), yang juga berasal dari Desa Neglasari, mengalami nasib serupa.

Baca Juga: Gempa Bumi Tektonik Magnitudo 5,4 Guncang Jawa Timur dan Bali, Guncangan Terasa Hingga Lombok

Ia mendapatkan menu keracunan MBG berupa ayam geprek, tumis tahu kecap kering, nasi, lalapan, dan buah stroberi yang dibagikan dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) pada Rabu (24/9/2025) pagi.

Siti Fatimah hanya menyantap buah stroberi dan lima potong tahu, sementara ayam dan nasinya dimakan oleh anaknya yang berusia enam tahun itupun tidak habis.

Sekitar pukul 12.00 WIB, Siti Fatimah mulai merasakan nyeri pada bagian pundaknya. Ia sempat minum air kelapa karena sedang ramai isu keracunan, namun pada malam harinya ia merasa lemas.

Gejala semakin memburuk pada pagi hari, sehingga ia dan anaknya yang juga mengalami mual, pusing, hingga lemas, dibawa ke Posko Kecamatan Cipongkor sekitar pukul 15.15 WIB.

Siti Fatimah, yang baru seminggu terakhir mendapat menu MBG program Presiden Prabowo Subianto ini, menyatakan baru kali ini merasakan gejala keracunan.

Siti Nuraeni dan bayinya yang berusia lima bulan diantar menggunakan ambulans ke Posko Kantor Kecamatan Cipongkor pada Kamis (25/9) sekitar pukul 15.25 WIB untuk mendapatkan perawatan.

Sementara itu, ibu menyusui lainnya, Nita Andriyani (24), warga Kampung Cigombong, juga merasakan mual, pusing, dan lemas setelah mengonsumsi menu MBG pada Rabu (24/9/2025) pagi, sekitar pukul 08.00 WIB.

Nita, yang merupakan ibu dua anak dan penerima manfaat MBG untuk ibu menyusui dengan bayi berusia 10 bulan, merasakan gejala mulai pukul 15.00 WIB, disusul anaknya yang mengalami diare pada malam hari.

Baca Juga: Rahasia Bali Jadi Pusat Pariwisata Dunia yang Mendunia, Tak Hanya Sekadar Keindahan Alamnya

Ia menerima paket makanan yang berisi nasi, ayam, tahu, sayuran timun dan tomat, sambal, serta stroberi.

Nita hanya makan sedikit, dan sisanya dimakan oleh anaknya yang berusia tujuh tahun. Setelah mengalami keluhan ini, Nita menegaskan bahwa ia akan menghentikan penerimaan MBG.

Meluasnya korban keracunan hingga menyasar ibu menyusui menunjukkan betapa seriusnya masalah keamanan pangan dalam program ini.

Berdasarkan data yang dihimpun Dinas Kesehatan (Dinkes) Bandung Barat hingga Kamis (25/9/2025) siang, jumlah total korban keracunan mencapai 1.333 orang. Angka ini merupakan akumulasi dari dua kasus kejadian keracunan.

Kasus pertama terjadi pada Senin (22/9/2025) hingga Selasa (23/9/2025) dari SPPG Cipari dengan 393 korban.

Kasus kedua yang terjadi pada Rabu (24/9) hingga Kamis (25/9) melibatkan 730 korban baru yang berasal dari SPPG di Desa Neglasari, Desa Citalem, serta Desa Cijambu, selain 192 orang di Cihampelas.

Baca Juga: 2700 Lubang Bekas Tambang di Sekitar IKN Belum Direklamasi, DPR Desak Evaluasi dan Sanksi Tegas

Sebagian besar korban, mulai dari siswa PAUD, SD, hingga SMA/SMK, serta ibu menyusui, mengeluhkan gejala mual, pusing, lemas, hingga sesak napas. Petugas kesehatan di Posko Kecamatan Cipongkor sigap memberikan penanganan medis.

Pemerintah Kabupaten Bandung Barat telah merespons serius kasus ini dengan menetapkan status Kejadian Luar Biasa (KLB) atas kasus keracunan massal ini pada Selasa (23/9/2025).

Penetapan KLB bertujuan agar proses investigasi dan penanganan korban dapat berjalan cepat dan menyeluruh.

Kejadian berulang ini menimbulkan kekecewaan dan kehilangan kepercayaan dari masyarakat. Nur Jana (38), seorang ibu yang anaknya sempat dirawat di posko karena keracunan MBG, mengaku takut bila kondisi anaknya memburuk lagi.

Ia secara tegas kehilangan kepercayaan dan meminta agar program MBG dihentikan atau dapurnya ditutup.

Baca Juga: Daftar Negara yang Memiliki Hak Veto di PBB dan Sejarah di Baliknya, Negara Pengguna Terbanyak Bukan Amerika Serikat

“Ke depannya kalau dikasih MBG lagi jangan dimakan. Harapan ibu mah udah aja tutup (dapurnya). Dihentikan aja (MBG),” ujarnya dengan nada kesal.

Sementara itu, tiga Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Bandung Barat telah dihentikan sementara akibat insiden keracunan massal ini.

Pengalaman Siti Nuraeni yang sudah "kapok" dan desakan orang tua korban lainnya menjadi cerminan bahwa evaluasi menyeluruh terhadap keamanan pangan MBG sangat mendesak dilakukan. ****

Editor : Dharaka R. Perdana
#Cipongkor #bandung barat #keracunan mbg #ibu menyusui #Makan Bergizi Gratis