Prilly Latuconsina Sindir Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana Usai Heboh Isu Mandi Air Galon, Dia Bilang Begini
Ilma Nurrahma• Jumat, 26 September 2025 | 19:50 WIB
Artis Prilly Latuconsina melontarkan sindiran tajam kepada Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana setelah viralnya tudingan meminta air galon untuk mandi saat kunjungan kerja.(instagram@vradiofm)
RADAR TULUNGAGUNG - Isu mencuat pertama kali lewat postingan akun Instagram @wakandatalks yang memuat curhatan seseorang yang mengaku sebagai ASN Kementerian Pariwisata.
Dalam unggahan itu, disampaikan bahwa ketika melakukan kunjungan kerja ke daerah-daerah terpencil seperti Labuan Bajo, Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana sering meminta agar disiapkan air galon untuk kebutuhan mandi.
Tuduhan ini memantik reaksi luas di media sosial dan media massa karena dianggap kurang sensitif terhadap kondisi daerah dengan keterbatasan akses air bersih.
Merespons isu yang viral tersebut, Prilly Latuconsina ikut turun ke arena komentar di Instagram.
Dalam komentarnya, ia menyindir agar pejabat pariwisata tidak hanya memahami aspek administratif atau data semata, melainkan juga merasakan langsung pengalaman di lapangan:
"Bu Menteri, pernah enggak sih ngerasain langsung serunya nyemplung di danau, trekking hutan, atau diving bareng peneliti karang? Soalnya pariwisata itu bukan cuma soal data dan laporan, tapi soal rasa dan pengalaman. Biar tahu rasanya jadi traveler di negeri sendiri, bukan sekadar pemaparan di podium dan promosinya cuma jadi jargon."
Isu ini lalu melebar ke berbagai media online, dengan judul-judul seperti “Prilly Latuconsina Sentil Menpar Widiyanti soal Isu Mandi Pakai Air Galon”.
media menyoroti bahwa kritik Prilly bukan sekadar sindiran artis, melainkan panggilan agar pejabat sektor pariwisata menjadi lebih “dekat” dengan destinasi dan masyarakat lokal, bukan hanya berjarak lewat promosi dan data statistik.
Di sisi lain, warganet membandingkan cara kerja pejabat pariwisata masa lalu yang dianggap lebih sederhana dan lebih dekat dengan masyarakat dibanding pendekatan yang dianggap “elit” saat ini.
Beberapa kritik juga mengaitkan isu ini dengan sorotan sebelumnya terhadap kinerja Widiyanti dalam kemampuan public speaking dan gaya komunikasi publik, yang dianggap kurang meyakinkan oleh sebagian kalangan. ****