Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Keracunan Masal MBG Melonjak, Mensesneg Sebut Bakteri Jadi Biang Keladi Utama, Prabowo Perintahkan Bunuh Semua Kuman di Dapur

Mohammad Dzakwan Wahyu Nur Fauzan • Senin, 29 September 2025 | 22:00 WIB

 

Isu minyak babi di ompreng MBG guncang publik! RMI-NU ungkap fakta, MUI & BPJPH siap investigasi (Wartajatim.com)
Isu minyak babi di ompreng MBG guncang publik! RMI-NU ungkap fakta, MUI & BPJPH siap investigasi (Wartajatim.com)

RADAR TULUNGAGUNG – Kasus keracunan masal yang melanda peserta program Makan Bergizi Gratis (MBG) di berbagai wilayah Indonesia belakangan ini telah menjadi sorotan serius di tingkat nasional.

Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi mengemukakan bahwa hasil temuan dari beberapa sampel makanan terkait kasus keracunan MBG menunjukkan adanya bakteri sebagai salah satu penyebab utama.

Meskipun belum dijelaskan secara menyeluruh, Mensesneg menekankan bahwa indikasi bakteri ini berkaitan erat dengan masalah kebersihan, khususnya dalam pengolahan air dan makanan di dapur-dapur MBG.

Situasi darurat ini, yang menyebabkan ribuan siswa mengalami sakit, mendesak pemerintah untuk mengambil langkah perbaikan segera demi menjamin keselamatan anak-anak.

Presiden Prabowo Subianto telah menaruh perhatian besar terhadap maraknya kasus keracunan makanan akibat menu MBG.

Data menunjukkan bahwa sejak Januari hingga September 2025, terjadi lebih dari 5.000 kasus keracunan di seluruh Indonesia.

Khusus di Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, tercatat jumlah korban keracunan akibat menu MBG mencapai 1.333 orang lebih, terakumulasi dari tiga kejadian antara Senin (22/9/2025) hingga Rabu (24/9/2025) di Kecamatan Cipongkor dan Cihampelas.

Baca Juga: Profil Diana Valencia, Wartawan CNN Indonesia yang ID Card-nya Dicabut Istana Kepresidenan

Selain itu, dilaporkan 657 orang di Kecamatan Kadungora, Kabupaten Garut, juga mengalami gejala keracunan usai mengonsumsi MBG.

Skala kasus yang besar ini menunjukkan bahwa penertiban dan peningkatan standar kebersihan menjadi krusial untuk mencegah terulangnya insiden yang membahayakan penerima manfaat program ini.

Hasil pemeriksaan dari Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) Jawa Barat mengungkap identitas bakteri yang menjadi "biang kerok" keracunan massal di Kabupaten Bandung Barat.

Kepala Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Labkesda Dinas Kesehatan Jawa Barat, Ryan Bayusantika Ristandi, mengumumkan bahwa hasil pemeriksaan menunjukkan adanya bakteri pembusuk, yaitu Salmonella dan Bacillus cereus, yang berasal dari komponen karbohidrat dalam makanan MBG.

Kontaminasi ini diduga kuat terjadi karena rentang waktu yang terlalu lama antara penyiapan hingga penyajian makanan.

Ryan menjelaskan, jika makanan disimpan pada suhu ruang lebih dari enam jam, terutama tanpa pengontrolan suhu yang tepat, risiko tumbuhnya bakteri menjadi sangat tinggi.

Menanggapi krisis yang terjadi, Presiden Prabowo telah memberikan arahan tegas kepada jajaran Kabinet Merah Putih. Sejak mendarat di Halim pada Sabtu (27/9/2025), Presiden langsung memanggil beberapa Menteri khusus untuk membahas masalah MBG di Badan Gizi Nasional (BGN).

Rapat lanjutan bahkan dipimpin oleh Menko Pangan di Kementerian Kesehatan untuk merumuskan langkah perbaikan.

Baca Juga: IJTI Soroti Pencabutan ID Card Wartawan CNN Indonesia Diana Valencia, Desak Penjelasan Istana

Prasetyo Hadi menjelaskan bahwa temuan bakteri tersebut patut diduga salah satunya karena kurangnya kedisiplinan dalam proses memasak dan kebersihan air.

Oleh karena itu, Presiden Prabowo telah menginstruksikan agar standar kebersihan dan higienitas diperketat di semua dapur atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) program MBG.

"Kita risau masih ada, makanya kita tertibkan semua SPPG, semua dapur. Kita sudah bikin SOP, semua alat harus dicuci pakai alat modern, tidak terlalu mahal, untuk membersihkan, membunuh semua bakteri," ujar Prabowo.

Selain penertiban dan pembersihan alat dapur secara modern, Presiden juga memerintahkan agar setiap dapur MBG memiliki alat uji (test kit).

Alat ini wajib digunakan untuk menguji makanan sebelum didistribusikan kepada para penerima manfaat.

Langkah mendesak lainnya adalah percepatan penerbitan Sertifikasi Laik Higiene Sanitasi (SLHS) bagi seluruh dapur MBG.

Mensesneg Prasetyo Hadi menegaskan bahwa targetnya adalah dalam hitungan minggu, semua dapur sudah harus memiliki SLHS untuk menjamin kualitas sanitasi. Dapur MBG yang menjadi sumber keracunan bahkan telah ditutup oleh pemerintah.

Baca Juga: Presiden Prabowo Kumpulkan Menteri di Kediaman Pribadi Jalan Kertanegara, Masalah MBG Jadi Salah Satu Pembahasan

Pentingnya menjaga higienitas sangat ditekankan, tidak hanya dari sisi penggunaan air bersih, tetapi juga kebersihan petugas dapur.

Pemasak disarankan untuk mengenakan sarung tangan, pakaian bersih, dan memastikan tidak ada kontaminasi dari bahan lain.

Selain itu, untuk mencegah pembusukan, makanan harus disimpan pada suhu di atas 60 derajat Celsius atau di bawah 5 derajat Celsius.

Bakteri Salmonella sendiri, yang ditemukan dalam sampel makanan MBG di Bandung Barat, adalah bakteri yang umum menyerang saluran pencernaan.

Infeksi Salmonella terjadi ketika sejumlah besar bakteri berhasil melewati asam lambung dan sistem kekebalan tubuh, kemudian menyerang sel-sel yang melapisi usus. Akibatnya, tubuh kesulitan menyerap air dan memicu kram perut, yang kemudian keluar sebagai diare.

Gejala infeksi Salmonella umumnya muncul beberapa jam hingga beberapa hari setelah paparan, meliputi diare (bisa berdarah), demam, kram perut, mual-muntah, dan sakit kepala.

Penularan Salmonella paling umum terjadi melalui makanan yang kurang matang atau proses persiapan makanan yang tidak tepat.

Sumber penularan dapat berupa telur mentah, daging mentah, buah dan sayur yang tidak dicuci, hingga air yang belum diolah.

Baca Juga: Mengurai Carut-Marut DPR-DPRD: Mencari Solusi agar Benar-Benar Mewakili Rakyat

Meskipun saat ini penerima manfaat MBG sudah mencapai 30 juta orang, Presiden Prabowo mengakui bahwa angka ini masih jauh dari target 82 juta penerima manfaat.

Namun, ia menekankan bahwa pemerintah tidak akan memaksakan kecepatan jika hal itu berpotensi menimbulkan penyimpangan dan kekurangan, seperti kasus keracunan yang terjadi saat ini.

"Tapi kita tidak bisa paksakan untuk lebih cepat. Sekarang saja bisa terjadi penyimpangan. Bayangkan kalau kita paksakan dengan secepat-cepatnya. Mungkin penyimpangan dan kekurangan bisa lebih dari itu," tutup Prabowo.

Presiden Prabowo juga berencana memanggil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana dan pejabat terkait lainnya untuk mendiskusikan masalah MBG ini secara mendalam.

Tindakan cepat dan tegas ini menunjukkan komitmen pemerintah untuk memastikan bahwa program MBG dapat berjalan dengan aman dan sehat, dengan fokus utama pada keselamatan anak-anak sebagai penerima manfaat. ****

Editor : Dharaka R. Perdana
#salmonella #keracunan masal #MBG #bakteri #Makan Bergizi Gratis