Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Viral Bangunan Mungil di Tengah Sawah Telan Anggaran Rp112 Juta di Boyolali, Ini Penjelasan dan Fakta Sebenarnya

Ilma Nurrahma • Kamis, 2 Oktober 2025 | 22:25 WIB

Sebuah bangunan mungil di Boyolali viral karena biaya pembangunannya diklaim mencapai Rp112,8 juta. Simak penjelasan resmi dan fakta di balik proyek irigasi perpompaan ini.(on Social Media X)
Sebuah bangunan mungil di Boyolali viral karena biaya pembangunannya diklaim mencapai Rp112,8 juta. Simak penjelasan resmi dan fakta di balik proyek irigasi perpompaan ini.(on Social Media X)

RADAR TULUNGAGUNG Belakangan ini jagat media sosial digemparkan oleh foto sebuah bangunan berukuran sekitar 1,5 × 1,5 meter di tengah persawahan Desa Gagaksipat, Kecamatan Ngemplak, Boyolali.

Dalam unggahan tersebut, disebut bahwa pembangunan bangunan tersebut menyedot dana hingga Rp112,8 juta.

Karena ukurannya sangat kecil, banyak warganet menyebutnya “toilet Rp112 juta” dan mempertanyakan keterbacaan anggaran itu.

Baca Juga: Viral, Asri Welas Dibayar 7 Milyar Hanya untuk Dua Adegan di Film Sukma, Baim Wong Ungkap Alasannya

Menanggapi pro dan kontra, Pemkab Boyolali melalui Dinas Pertanian mengeluarkan penjelasan resmi.

Kepala Dinas Pertanian, Suyanta, menyatakan bahwa bangunan mungil itu bukanlah proyek rumah tinggal, melainkan rumah pompa dari sistem irigasi perpompaan tahun anggaran 2024.

Dana sebesar Rp112,8 juta menurutnya tidak diperuntukkan hanya untuk bangunan kecil tersebut, melainkan mencakup keseluruhan paket kegiatan irigasi perpompaan.

Baca Juga: Viral Surat Pernyataan Orang Tua Murid MTsN 2 Brebes Diminta Tak Menutut Secara Hukum Jika Ada Dampak MBG, Kemenag Bantah Keluarkan

Dalam penjelasan resmi, Dinas menyebutkan rincian berikut:

• Dua titik sumur dalam yang dibor hingga kedalaman 110 meter dan 85 meter, dengan casing serta uji geolistrik.

• Pengadaan dua unit mesin pompa submersible, masing-masing 4 HP dan 3 HP, lengkap dengan instalasi.

• Pembangunan rumah pompa berukuran ± 1,5 × 1,5 meter sebagai ruang proteksi panel listrik dan meteran.

• Pemasangan pipa distribusi sepanjang ≈ 130 meter, serta jaringan listrik PLN dengan kabel sepanjang ± 900 meter dan 300 meter.

• Upah tenaga kerja dan biaya swakelola yang dilakukan oleh kelompok tani penerima manfaat.

Menurut Suyanta, proyek ini dilaksanakan melalui mekanisme swakelola oleh kelompok tani (bukan langsung oleh Dinas) sesuai regulasi yang berlaku.

Tujuan utama proyek ini adalah menjaga produktivitas pertanian terutama saat musim kemarau. Dengan sistem irigasi perpompaan, air dari sumur dalam dapat disalurkan ke lahan sawah seluas sekitar 10 hektare.

Baca Juga: Skandal Video Viral 'Rampok Uang Negara', Anggota Dewan Provinsi Gorontalo Wahyudin Moridu Dipecat PDIP

Ketua Kelompok Tani Sido Mukti I, Fajar Nugroho, turut memberikan klarifikasi bahwa bangunan yang viral hanyalah bagian kecil dari sistem besar.

Ia menjelaskan bahwa sebagian besar anggaran digunakan untuk pengeboran sumur dalam, pemasangan pipa, instalasi listrik, dan saluran pendukung lainnya.

Fajar juga menyebut bahwa optimasi irigasi ini memungkinkan petani menanam padi hingga tiga kali dalam setahun, sedangkan sebelumnya hanya dua kali.

Meskipun sudah ada klarifikasi, kritikan publik belum sepenuhnya mereda. Banyak warganet tetap mempertanyakan efisiensi anggaran dan transparansi pelaksanaan proyek.

Ukuran bangunan kecil memunculkan persepsi bahwa penggunaan dana terlalu berlebihan.

Namun, sejumlah komentar dari masyarakat mempertimbangkan bahwa proyek irigasi terutama pengeboran dan instalasi pompa memang memiliki biaya tinggi jika dilaksanakan dengan standar teknis yang benar. ****

Editor : Dharaka R. Perdana
#proyek irigasi #dana publik #boyolali #Bangunan Mungil #Viral Rp 112juta #transparansi anggaran