Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Ditolak Warga, Eks Dosen UIN Malang Yai Mim Klaim Ditawari Pindah Warga Negara oleh PM Malaysia Datuk Anwar Ibrahim

Mohammad Dzakwan Wahyu Nur Fauzan • Jumat, 3 Oktober 2025 | 17:48 WIB

Muhammad Imam Muslimin (Yai Mim) dan istri Rosyida Vigneswari di podcast densu.
Muhammad Imam Muslimin (Yai Mim) dan istri Rosyida Vigneswari di podcast densu.

RADAR TULUNGAGUNG - Perseteruan yang melibatkan mantan Dosen UIN Malang Imam Muslimin alias Yai Mim, dengan tetangganya, Nurul Sahara terus bergulir.

Bahkan permasalahan ini telah menarik perhatian internasional dan melibatkan Perdana Menteri (PM) Malaysia Datuk Anwar Ibrahim.

Skandal yang bermula dari konflik lingkungan ini telah menjadi viral di media sosial, dan Yai Mim baru-baru ini melontarkan pernyataan yang sangat mengejutkan publik.

Yai Mim, yang diketahui telah diusir dari lingkungannya, secara terbuka mengklaim bahwa ia telah menerima tawaran langsung dari pucuk pimpinan pemerintahan Malaysia, Datuk Anwar Ibrahim, untuk pindah kewarganegaraan.

Pengakuan ini disampaikannya setelah drama pengusiran warga yang membuatnya merasa tertekan di tanah airnya sendiri.

Namun, meskipun tawaran tersebut datang dari PM Malaysia, Yai Mim menyatakan penolakan tegas, menunjukkan kecintaannya yang mendalam terhadap Indonesia.

Dalam sebuah kutipan yang menirukan percakapannya melalui sambungan telepon dengan Datuk Anwar, Yai Mim mengatakan, "Kemarin saya ditawari Perdana Menteri Datuk Anwar Ibrahim, 'hei, Yai Mim tinggal sini aja. Ngapain, aku cinta Indonesia',".

Sikap patriotik Yai Mim ini muncul setelah ia mendapatkan pengusiran dari warga di lingkungannya. Meskipun memilih tetap menjadi Warga Negara Indonesia, ia kini justru mengalihkan fokusnya untuk mencari perlindungan ke negara lain.

Baca Juga: Nihil Tanda Kehidupan, Tim SAR Kerahkan Crane Angkat Material Reruntuhan Ponpes Al Khoziny Sidoarjo

Tawaran dari Perdana Menteri Malaysia tersebut bukan tanpa alasan, mengingat koneksi Yai Mim dengan tokoh-tokoh penting di Negeri Jiran.

Yai Mim mengakui bahwa ia sering melakukan perjalanan bolak-balik ke Malaysia. Tujuannya adalah untuk menghadiri agenda tahunan pertemuan ulama, atau yang disebut "kumpul-kumpul ulama setiap tahun," yang diselenggarakan di sana.

Dari pertemuan-pertemuan tersebut, Yai Mim mengungkapkan bahwa ia sering kali diberikan hadiah atau bingkisan oleh berbagai tokoh penting Malaysia.

Tokoh-tokoh ini meliputi para raja, gubernur khususnya Gubernur Kelantan, dan termasuk juga dari Perdana Menteri Malaysia.

Meskipun mendapatkan pengakuan dan hadiah dari para tokoh terkemuka Malaysia, ia menegaskan penolakannya terhadap tawaran untuk mengubah status kewarganegaraannya.

Menanggapi pengusiran yang ia terima dari warga di lingkungannya, Yai Mim kini mengambil langkah hukum dan politik yang ekstrem: mencari suaka politik. Ia menyatakan bahwa ia sudah tidak peduli lagi dengan polemik lokal yang terjadi di sekitarnya.

Bahkan, Yai Mim menantang pihak-pihak yang terlibat dalam pengusirannya, seperti Pak RT dan Pak Sofyan, mengenai urusan parkir di area musala atau depan rumah.

Ia mengungkapkan, "Jadi gini, enggak peduli sekarang ini. Pak RT mangga, mau Pak Sofyan disuruh parkir di depan musala, mau parkir di depan rumah monggo, di pinggiran jalan mangga, karena saya sudah diusir dan sebentar lagi saya akan mengurus suaka politik ke Australia," jelasnya.

Keputusannya untuk mengurus suaka politik ke Australia ini menandai eskalasi serius dari perseteruan antar-tetangga yang kini berpotensi menjadi perhatian diplomatik.

Baca Juga: Pertamina Perkuat Ketahanan Energi Nasional, Bangun Empat Tangki Kilang Balongan di Indramayu

Di tengah konflik yang semakin memanas, perhatian publik juga tertuju pada Denny Sumargo (Densu). Meskipun perseteruan antara Yai Mim dan Nurul Sahara telah menyebabkan keduanya saling lapor polisi, Sahara akhirnya menyampaikan permohonan maaf.

Mayoritas netizen yang mengikuti kasus ini menuntut agar podcast yang menampilkan klarifikasi dari Sahara tidak ditayangkan.

Namun, Yai Mim justru mengambil posisi yang bertentangan. Mantan Dosen UIN Malang tersebut secara keras mendesak agar tayangan podcast Denny Sumargo tersebut tetap dipublikasikan.

Melalui unggahan di Instagram-nya pada Kamis (2/10/2025), Yai Mim menyampaikan pesannya kepada "Bang Densu".

Baca Juga: Di Selembar Kain Batik Menyimpan Doa dan Harapan, Begini Pandangan Ketua Asosiasi Batik dan Wastra Tulungagung

Ia menjelaskan bahwa ia berada di pihak minoritas yang menginginkan podcast tersebut ditayangkan. Menurutnya, penayangan podcast tersebut sangat penting agar publik dapat melihat perseteruan yang terjadi dari kedua sisi.

Permintaan agar publik melihat kedua sisi ini menunjukkan upaya Yai Mim untuk memastikan keadilan dalam narasi media.

Kasus ini, yang berstatus Viral di Media Sosial, semakin semrawut dengan terseretnya nama-nama baru dan pengakuan-pengakuan yang mengejutkan.

Selain menghadapi isu suaka politik dan tawaran PM Malaysia, Yai Mim juga mempertegas sikapnya terhadap penyelesaian konflik di tingkat lokal.

Ia dilaporkan telah menyampaikan pesan tegas kepada Wali Kota Malang. Dalam pesannya, Yai Mim menekankan bahwa "Tak Ada Mediasi" yang akan dilakukannya dengan Sahara.

Bahkan, Yai Mim dikabarkan menyambut 'Genderang Perang' dari Sahara dan meminta agar Wali Kota Malang hanya menjadi penonton dalam perseteruan yang tengah berlangsung.

Kasus Yai Mim vs Sahara ini terus menyita perhatian publik sejak tayang pada Jumat, 3 Oktober 2025, membuktikan betapa cepatnya konflik lokal dapat menarik perhatian tokoh dan isu global. ****

Editor : Dharaka R. Perdana
#uin malang #warga negara #Yai Mim #pm malaysia #anwar ibrahim