RADAR TULUNGAGUNG - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah mengeluarkan prediksi penting yang harus diwaspadai oleh seluruh masyarakat Indonesia, termasuk warga Tulungagung, menjelang akhir tahun ini.
BMKG memprediksi bahwa fenomena iklim global La Nina berpotensi kuat untuk kembali terjadi di wilayah Indonesia.
Fenomena ini dikenal sebagai "pemanggil hujan" dan diperkirakan akan membawa peningkatan signifikan pada curah hujan di sejumlah daerah, khususnya di bagian barat dan tengah Indonesia.
Ancaman kemunculan La Nina ini sangat relevan mengingat dampaknya yang meningkatkan risiko bencana hidrometeorologi.
Secara ilmiah, La Nina merupakan fase "dingin" dari siklus El Niño-Southern Oscillation (ENSO), yang ditandai dengan Suhu Muka Laut (SML) di Samudera Pasifik bagian tengah yang mengalami pendinginan di bawah kondisi normalnya.
Pendinginan yang tidak biasa ini bahkan bisa terjadi hingga anomali suhu melebihi -0,5 derajat celcius. Kondisi dingin ini mengurangi potensi pertumbuhan awan di Samudera Pasifik tengah dan justru meningkatkan curah hujan di wilayah Indonesia secara umum.
Menurut pantauan BMKG, fenomena ini diperkirakan akan bergeser ke arah La Nina menjelang akhir tahun 2025, setelah kondisi El Niño-Southern Oscillation (ENSO) diperkirakan berada di fase netral sepanjang tahun 2025.
Selain itu, kondisi Indian Ocean Dipole (IOD) yang saat ini berada pada fase negatif dan diprediksi bertahan hingga November 2025 juga berpotensi memperkuat intensitas hujan di wilayah Indonesia bagian barat dan tengah.
Kewaspadaan sejak dini sangat diperlukan untuk mitigasi bencana alam yang mungkin menyertai curah hujan tinggi ini.
Baca Juga: Cuaca dan Iklim di September Tak Menentu, Fenomena La Nina Mulai Terbentuk
Asal Usul Nama dan Siklus La Nina
Fenomena La Nina berasal dari Bahasa Spanyol yang memiliki pengertian sebagai “gadis kecil” (gadis kecil).
Istilah ini dipilih sebagai antonim atau lawan dari "El Niño" yang berarti "anak laki-laki kecil" dan sudah lebih dulu digunakan oleh para nelayan di pantai Peru, karena El Niño sering mencapai puncaknya sekitar bulan Desember (Natal).
Secara siklus, La Nina adalah fenomena iklim alami dan merupakan bagian dari siklus ENSO, yang terjadi akibat interaksi kompleks antara atmosfer dan laut di kawasan Pasifik.
La Nina biasanya terjadi setiap 2 hingga 7 tahun sekali, meskipun tidak mustahil bisa terjadi secara berturut-turut.
Umumnya, durasi berlangsungnya dapat memakan waktu selama beberapa bulan hingga 2 tahun. Berdasarkan catatan yang ada, fenomena ini pernah terjadi sebanyak 15 kali, dengan rata-rata terjadi sekitar 6 tahun sekali.
Prediksi Musim Hujan 2025/2026
Prediksi kemunculan La Nina pada akhir tahun ini beriringan dengan waktu masuknya musim hujan di Indonesia, meskipun awal musim hujan tidak terjadi dalam waktu bersamaan di seluruh wilayah.
BMKG memprediksi bahwa:
1. Sekitar 47,6 persen zona musim (ZOM) di Indonesia, yang setara dengan 333 ZOM, diprediksi akan memasuki musim hujan pada periode September hingga November 2025.
2. Beberapa wilayah di Sumatera dan Kalimantan bahkan diketahui telah memasuki musim hujan sebelum September 2025.
3. Musim hujan akan meluas secara bertahap ke wilayah selatan dan timur.
4. Secara keseluruhan, 42,1 persen wilayah (294 ZOM) diperkirakan akan mengalami musim hujan yang datang lebih awal dari rata-rata klimatologis.
Puncak musim hujan 2025/2026 diprediksi terjadi pada bulan November hingga Desember 2025 di Indonesia bagian barat, dan pada Januari hingga Februari 2026 di wilayah selatan dan timur.
Meskipun demikian, kondisi akumulasi curah hujan secara umum diprediksi berada pada kategori normal, yang menunjukkan tidak dalam kondisi yang jauh lebih basah maupun lebih kering daripada biasanya. Namun, keberadaan La Nina akan memicu kondisi yang lebih basah dibandingkan kondisi normal.
Dampak dan Mitigasi yang Harus Dilakukan
Kehadiran La Nina kerap membawa dampak luas bagi berbagai sektor, mulai dari pertanian, perikanan, transportasi, hingga energi.
Bagi Indonesia, kondisi ini berarti akan terjadi risiko banjir yang lebih tinggi, suhu udara yang lebih rendah di siang hari, dan potensi badai tropis yang lebih banyak.
Selain itu, curah hujan ekstrem yang dipicu oleh La Nina dapat merugikan lahan pertanian serta memicu potensi berkembangnya hama dan penyakit tanaman.
Menghadapi potensi peningkatan curah hujan dan bencana yang menyertainya, masyarakat diimbau untuk tetap waspada.
Pemda diharapkan segera memperkuat langkah mitigasi, terutama dalam pengelolaan sumber daya air, sistem drainase, dan kesiapan logistik di daerah-daerah yang rawan bencana.
Masyarakat juga diminta untuk selalu mengikuti informasi cuaca terbaru dari BMKG agar dapat mengambil langkah antisipatif sedini mungkin. Kewaspadaan dan kesiapan bersama adalah kunci utama dalam menghadapi fenomena iklim ini. ****
Editor : Dharaka R. Perdana