RADAR TULUNGAGUNG – Kisah bulan madu sepasang pengantin baru di Kabupaten Solok, Sumatera Barat, berubah menjadi tragedi memilukan dan menyita perhatian publik nasional.
Pasangan yang baru empat hari menikah ini, Cindy Desta Nanda (28) dan Gilang Kurniawan (28), ditemukan tak sadarkan diri di kamar penginapan mewah jenis glamping kawasan wisata Lakeside Alahan Panjang pada Rabu (8/10/2025).
Cindy dinyatakan meninggal dunia di lokasi, sementara Gilang ditemukan dalam kondisi kritis dan langsung dilarikan ke rumah sakit. Insiden nahas ini diduga kuat dipicu oleh paparan gas beracun yang bocor dari pemanas air.
Tragedi ini menjadi peringatan keras bagi industri perhotelan dan pariwisata, terutama terkait standar keselamatan fasilitas kamar.
Pasangan pengantin baru ini tiba di lokasi penginapan pada Selasa (7/10/2025) sekitar pukul 13.25 WIB. Mereka check-in dan beristirahat di kamar glamping yang berlokasi di Lembah Gumanti.
Malang tak dapat ditolak, momen kebahagiaan yang seharusnya menjadi awal kehidupan rumah tangga tersebut justru berakhir duka.
Menurut laporan awal, dugaan kuat penyebab musibah adalah sesak napas akibat keracunan gas karbon monoksida (CO).
Penyelidikan mendalam yang dilakukan oleh pihak kepolisian semakin memperkuat dugaan adanya kebocoran pada sistem pemanas air.
Ayah korban laki-laki, Astijon, mengonfirmasi bahwa hasil pemeriksaan medis RSUD Arosuka Solok menunjukkan Gilang mengalami penurunan kesadaran serius akibat water heater yang mengeluarkan gas monoksida (CO).
Gilang Kurniawan (28), yang dalam sumber lain disebutkan berusia 27 tahun, kini masih menjalani perawatan intensif di rumah sakit setelah sempat berada dalam kondisi kritis.
Kronologi Penemuan Korban
Pasangan ini diketahui baru melangsungkan pernikahan empat hari sebelum insiden tragis ini terjadi.
Setelah check-in pada Selasa sore, malam harinya Cindy sempat memesan makanan dari resepsionis, yaitu sup iga, mi kuah pedas, risol mayo, kentang goreng, dan air mineral besar. Pesanan tersebut diantar oleh karyawan penginapan bernama Cecep.
Keesokan paginya, hari Rabu, sekitar pukul 07.15 WIB, petugas penginapan kembali datang ke kamar mereka untuk mengantarkan sarapan.
Saat pintu kamar diketuk, petugas mendengar suara pria dari dalam kamar yang mengatakan sedang mandi. Karena tidak ada kecurigaan, petugas pun meninggalkan lokasi.
Namun, setengah jam kemudian, ketika petugas kembali mengantarkan kebutuhan lain, tidak ada respons sama sekali dari dalam kamar meskipun sudah beberapa kali diketuk.
Merasa curiga dengan keheningan tersebut, pihak penginapan akhirnya memutuskan untuk mendobrak pintu kamar.
Saat pintu terbuka, pemandangan memilukan tersaji. Karyawan penginapan, Jajang, menjadi saksi saat mendapati Cindy Desta Nanda tergeletak tak bernyawa di belakang pintu kamar mandi.
Sementara itu, sang suami, Gilang Kurniawan, ditemukan tergeletak lemas di lantai kamar dalam kondisi kritis dan tak sadarkan diri.
Keduanya segera diberikan pertolongan pertama dengan oksigen portabel. Mereka kemudian dibawa ke Puskesmas Alahan Panjang.
Sayangnya, nyawa Cindy tidak tertolong dan ia dinyatakan meninggal dunia sekitar pukul 08.35 WIB. Gilang, yang kondisinya sangat kritis, segera dirujuk ke RSUD Arosuka untuk mendapatkan perawatan intensif.
Dugaan Kuat Gas Monoksida dari LPG
Kapolsek Lembah Gumanti, AKP Barata, mengonfirmasi bahwa pihaknya menerima laporan dari pengelola penginapan sekitar pukul 07.30 WIB.
Dugaan awal yang diungkapkan oleh AKP Barata adalah korban mengalami sesak napas akibat paparan gas karbon monoksida yang berasal dari water heater berbahan bakar elpiji di kamar mandi.
Namun, ia menekankan bahwa penyebab pastinya masih didalami, dan semua kemungkinan masih terbuka.
Dugaan keracunan gas monoksida (CO) ini semakin diperkuat oleh temuan penting di lokasi kejadian. Beredar foto di media sosial yang menunjukkan tabung gas elpiji 12 kg (yang disebut juga Bright Gas 3 kg nonsubsidi dari Pertamina) berada di dalam kamar mandi, tepat di dekat kloset.
Penempatan tabung gas di ruang tertutup, seperti kamar mandi, langsung menuai sorotan tajam dari publik dan dinilai sangat berisiko serta tidak sesuai dengan standar keamanan penggunaan gas LPG.
Para ahli keselamatan mengingatkan bahwa tabung gas seharusnya ditempatkan di luar ruangan untuk menghindari risiko kebocoran dan akumulasi gas beracun seperti karbon monoksida (CO).
Baca Juga: Calon Pengantin Wajib Tahu Hal Ini Sebelum Menikah
Gas monoksida sendiri dikenal sebagai gas beracun yang tidak memiliki warna dan bau, membuatnya sangat berbahaya dan sulit dideteksi.
Gas ini bekerja dengan cara mengikat hemoglobin dalam darah, yang kemudian secara efektif menghambat suplai oksigen ke otak, menyebabkan korban pingsan hingga akhirnya meninggal dunia.
Kabar terbaru dari Astijon, ayah Gilang, menyebutkan bahwa kondisi Gilang sudah mulai membaik, meskipun ia masih dirawat intensif di Semen Padang Hospital.
Kasus tragis ini kini tengah diselidiki oleh pihak kepolisian Solok, sementara pengelola penginapan diminta untuk segera meninjau ulang sistem keamanan fasilitasnya, terutama yang menggunakan water heater berbahan bakar gas, agar insiden serupa yang merenggut nyawa tidak terulang kembali.
Pihak berwenang berjanji akan terus memberikan fakta jernih dari lapangan seiring berjalannya penyelidikan. ****
Editor : Dharaka R. Perdana