RADAR TULUNGAGUNG - Keracunan MBG massal yang melanda ratusan siswa di SMP Negeri 1 Cisarua, Kabupaten Bandung Barat (KBB), menjadi sorotan tajam.
Sorotan tersebut semakin kuat setelah terungkap bahwa salah satu korban merupakan anak dari anggota DPRD KBB.
Insiden ini melibatkan program Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang disalurkan di sekolah tersebut pada hari Selasa, 14 Oktober 2025.
Kasus Keracunan MBG ini menimpa anak dari Pipit Puspita Ahdiani, Anggota Komisi II DPRD KBB dari Fraksi Golkar.
Pipit menceritakan kronologi kepanikan yang terjadi ketika anaknya, seorang siswa kelas 8 di SMPN 1 Cisarua, mulai menunjukkan gejala keracunan.
Meskipun saat pulang sekolah pada siang hari anaknya masih sehat dan biasa saja, gejala mulai muncul sekitar pukul 4 sore.
Gejala yang dialami mirip dengan kebanyakan siswa lain, yaitu lemas, pusing, dan sakit perut.
Sebanyak 132 siswa di SMPN 1 Cisarua dilaporkan mengalami gejala Keracunan MBG.
Tragedi Keracunan MBG ini diduga kuat disebabkan oleh menu daging ayam bumbu kecap yang sudah dalam kondisi basi atau tidak layak konsumsi.
Seorang korban, Desi Oktaviani (15 tahun), membenarkan bahwa lauk ayam kecap tersebut sudah berbau tidak sedap, bahkan ia menyebutkan ada aroma "bau bangkai" dan "hanyir" (amis).
Gejala keracunan yang dirasakan siswa setelah menyantap makanan ini meliputi mual, pusing, muntah-muntah, dan rasa sesak napas (pengap).
Kronologi Gejala dan Penanganan Korban Dewan
Pipit Puspita Ahdiani mengungkapkan bahwa anaknya segera dilarikan kembali ke sekolah, yang kemudian difungsikan sebagai posko darurat, dan selanjutnya dirujuk ke RSUD Lembang untuk mendapatkan perawatan observasi.
Pipit menyebutkan penanganan di RSUD Lembang sangat baik, mencakup perawatan, peralatan, dan obat-obatan yang tersedia.
Hal yang menambah keprihatinan adalah fakta bahwa anak Pipit baru kali pertama ini mencoba menyantap menu MBG yang disediakan sekolah.
"Kebetulan, biasanya enggak pernah makan, dan hari tadi itu dia malah makan ayamnya (ayam bumbu kecap) saja gitu, nasinya yang lain-lain enggak dimakan," ujar Pipit.
Namun, tak lama setelah mengonsumsi bagian ayam tersebut, gejala mulai muncul.
Detik-Detik Keracunan dan Peringatan yang Terlambat
Kepala SMP Negeri 1 Cisarua, Agus Solihin, menjelaskan bahwa pada hari kejadian, sekolahnya menerima sekitar 1.300 paket MBG.
Dari jumlah tersebut, sekitar 1.255 paket telah dibagikan dan dikonsumsi oleh para siswa.
Paket MBG tiba di SMP Negeri 1 Cisarua sekitar pukul 09.00 WIB dan dibagikan kepada siswa pada pukul 09.30 WIB.
Gejala keracunan baru mulai terlihat sekitar pukul 11.00 WIB, ketika satu per satu siswa mulai mengeluhkan sakit.
"Muncul jam 11 siang ada yang pusing, mual, dipisahkan mana yang pusing mana yang mual. Ada yang muntah-muntah juga," ungkap Agus Solihin.
Sementara itu, menurut keterangan dari anak Pipit, himbauan dari pihak sekolah untuk tidak mengkonsumsi makanan tersebut muncul setelah sebagian besar siswa terlanjur menghabiskan paket MBG mereka.
Pipit menambahkan bahwa sebagian siswa belum sempat makan ketika himbauan tersebut disampaikan, tetapi sebagian lainnya sudah terlanjur menghabiskannya.
"Katanya sudah pada habis tuh, baru ada himbauan dari sekolah kalau itu enggak boleh dimakan. Jadi sebetulnya sebagian ada yang belum dibagikan, sebagian ada yang sudah habis. Jadi mungkin enggak semua terdampak gitu ya," kata Pipit.
Guru di SMPN 1 Cisarua, M. Fakhmi Nurdiansyah, menambahkan bahwa siswa yang mengalami gejala awal segera diberikan penetralisir berupa air kelapa oleh pihak MBG dan guru, sehingga gejalanya tidak terlalu fatal.
Evaluasi Program MBG Mendesak
Sebagai orang tua yang anaknya juga menjadi korban, Pipit Puspita Ahdiani menekankan pentingnya evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan program MBG di lapangan.
Ia menyatakan dukungan terhadap program ini karena dianggap baik untuk gizi anak-anak, tetapi mendesak pemerintah untuk lebih memperhatikan aspek kesehatan dan kualitas makanan.
Pipit menyoroti masalah skala produksi yang besar, di mana satu dapur dapat melayani hingga 3.000 porsi.
Menurutnya, kapasitas produksi yang sedemikian besar "tentu itu kurang maksimal". Pipit berharap adanya pengawasan yang lebih ketat dalam proses pengadaan dan distribusi MBG.
Ia menegaskan bahwa insiden ini harus menjadi evaluasi bersama, termasuk bagi pihak DPRD. Meskipun program MBG merupakan kebijakan langsung dari Presiden, Pipit berjanji akan terus mengawal pelaksanaannya di lapangan agar lebih aman dan berkualitas demi keselamatan para pelajar.
Sebelumnya insiden ini, sebanyak 56 orang siswa telah dirujuk ke rumah sakit akibat dugaan keracunan MBG.
Kasus ini menambah daftar insiden keracunan yang diduga terkait MBG, termasuk laporan keracunan di Manonjaya Tasikmalaya dan isu kualitas makanan di daerah lain.
Hingga berita ini dibuat, Pipit Puspita Ahdiani menyatakan anaknya masih dalam perawatan intensif di RSUD Lembang. ****
Editor : Dharaka R. Perdana