Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Ratusan Juta Orang di Penjuru Dunia Kelaparan, FAO Serukan Kolaborasi Global untuk Perkuat Ketahanan Pangan di Hari Pangan Sedunia 2025

Iqbal Pangestu • Kamis, 16 Oktober 2025 | 20:30 WIB

xFAO menyerukan kolaborasi global di Hari Pangan Sedunia 2025 untuk memperkuat ketahanan pangan dunia di tengah tantangan perubahan iklim dan krisis global.
xFAO menyerukan kolaborasi global di Hari Pangan Sedunia 2025 untuk memperkuat ketahanan pangan dunia di tengah tantangan perubahan iklim dan krisis global.

RADAR TULUNGAGUNG - Setiap tahun, tepat pada 16 Oktober, dunia merayakan Hari Pangan Sedunia atau World Food Day.

Peringatan ini merupakan momentum global yang sangat penting untuk menumbuhkan kesadaran tentang vitalnya ketersediaan pangan bagi setiap individu.

Pada 2025 ini, Hari Pangan Sedunia memiliki makna ganda karena bertepatan dengan perayaan 80 tahun berdirinya Organisasi Pangan dan Pertanian PBB, atau Food and Agriculture Organization (FAO).

Sejarah penetapan 16 Oktober ini adalah sebagai bentuk penghormatan atas hari diresmikannya FAO, sebuah badan khusus PBB yang memimpin upaya internasional untuk mengatasi kelaparan sejak didirikan pada 1945.

Tema utama yang diangkat oleh FAO untuk Hari Pangan Sedunia 2025 adalah “Hand in Hand for Better Foods and a Better Future,” yang diterjemahkan menjadi “Bergandengan Tangan untuk Pangan yang Lebih Baik dan Masa Depan yang Lebih Baik”.

Tema ini menegaskan pentingnya kolaborasi global dalam menciptakan masa depan yang damai, berkelanjutan, sejahtera, dan berketahanan pangan.

Melalui peringatan ini, masyarakat di seluruh dunia, lintas pemerintah, organisasi, sektor, dan komunitas, diajak untuk bekerja sama mentransformasi sistem agrifood.

Tujuannya jelas untuk memastikan bahwa setiap orang memiliki akses terhadap pola makan sehat dan dapat hidup selaras dengan planet ini.

Baca Juga: Gerakan Pangan Murah 2026 Bakal Digelar 12 Kali di Beberapa Wilayah di Tulungagung, Dinas Ketahanan Pangan Siapkan Anggaran Ratusan Juta Rupiah

Peringatan tahunan Hari Pangan Sedunia ini menjadi simbol solidaritas internasional dalam memastikan bahwa setiap individu di dunia berhak memperoleh akses terhadap makanan yang cukup, bergizi, dan aman.

Penentuan 16 Oktober sebagai hari peringatan sendiri disahkan melalui Resolusi No. 179 tentang World Food Day pada Konferensi FAO ke-20 di Roma pada November 1976.

Sejak peringatan resmi pertama kali digelar pada tahun 1981, momentum ini dirayakan oleh lebih dari 150 negara, termasuk Indonesia, sebagai ajang refleksi global tentang pentingnya ketersediaan pangan dan peran dunia dalam membangun sistem pangan yang berkeadilan dan berkelanjutan.

Tantangan Global dalam Sistem Pangan

Meskipun upaya global terus dilakukan, sistem agrifood saat ini menghadapi tantangan yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Konflik, dampak cuaca ekstrem, guncangan ekonomi, dan meningkatnya ketimpangan global memberikan tekanan besar pada lahan pertanian, sumber air, dan keanekaragaman hayati.

Selain itu, rantai pasokan pangan masih rapuh, dan dampak gangguannya terasa di seluruh dunia, mulai dari ladang, pasar, hingga rumah tangga.

Krisis ini berujung pada kerawanan pangan yang parah. Laporan The State of Food Security and Nutrition in the World 2024 yang dirilis FAO memperkirakan bahwa sekitar 735 juta orang masih hidup dalam kondisi kelaparan kronis.

Diperkirakan pula 673 juta orang hidup dalam kelaparan, dan lebih dari 2 miliar orang mengalami kekurangan gizi mikro.

Ironisnya, di tempat lain, fenomena meningkatnya obesitas dan meluasnya pemborosan makanan menunjukkan adanya sistem yang tidak seimbang, di mana kelimpahan dan kekurangan pangan hidup berdampingan.

Baca Juga: Keputusan Mengejutkan Istana, Alasan Pencopotan Arief Prasetyo dari Kepala Badan Pangan Nasional Terungkap

Tujuan dan Empat Pesan Utama FAO

Tujuan utama dari peringatan Hari Pangan Sedunia mencakup lima hal pokok, di antaranya adalah upaya memberantas kelaparan sebagai hak dasar manusia, menjamin ketahanan pangan melalui peningkatan ketersediaan, akses, dan stabilitas pasokan, serta mengatasi malnutrisi secara global.

Tujuan lainnya adalah mendorong produktivitas pertanian dengan praktik berkelanjutan dan membangun sistem pangan yang ramah lingkungan dan tangguh menghadapi krisis.

Tema “Bergandengan Tangan” tahun ini mengandung empat pesan penting yang harus dipahami oleh seluruh pihak:

1. Kerja Sama Global adalah Kunci. Upaya ketahanan pangan memerlukan sinergi dari pemerintah, sektor swasta, akademisi, masyarakat sipil, dan lembaga internasional.

2. Membangun Sistem Pangan Berkelanjutan. Ini adalah prioritas untuk menjamin ketersediaan pangan yang aman dan bergizi di masa depan.

3. Akses Pangan Sehat dan Bergizi. Setiap orang berhak atas akses ini sebagai fondasi kualitas hidup.

Perayaan 80 Tahun FAO. Momen ini menjadi simbol konsistensi dan komitmen dunia dalam melawan kelaparan dan malnutrisi.

Peran Indonesia dan Tantangan Pemborosan Pangan

Semua pihak, mulai dari pemerintah, organisasi internasional, petani, peneliti, pelaku bisnis, konsumen, hingga kaum muda memiliki peran penting dalam membentuk transformasi sistem agrifood.

Dalam konteks nasional, Indonesia sebagai negara agraris terus melakukan berbagai terobosan strategis untuk memperkuat ketahanan pangan.

Baca Juga: Percepatan Jaminan Keamanan Pangan MBG, Kemenkes Terbitkan Edaran Khusus SLHS Bagi Dapur Pelayanan Gizi

Upaya yang digencarkan meliputi pengembangan sistem akuaponik yang mampu menghemat air hingga 90 persen sambil meningkatkan produktivitas lahan.

Selain itu, Indonesia menjalankan program food estate melalui pembukaan lahan pertanian berskala besar untuk mengurangi ketergantungan impor, dengan target perluasan area tanam hingga 4 juta hektare pada 2029.

Modernisasi pertanian dengan pemanfaatan teknologi digital dan mekanisasi juga digalakkan. Infrastruktur penunjang seperti irigasi, jalan desa, dan jaringan internet dibangun untuk memperkuat basis produksi di pedesaan.

Namun, isu pemborosan makanan (food waste) tetap menjadi sorotan. Angka food loss and waste di Indonesia sendiri mencapai lebih dari 23 juta ton per tahun.

Jumlah ini sebenarnya cukup untuk memberi makan jutaan orang yang masih hidup dalam kemiskinan.

Oleh karena itu, peran konsumen tak kalah penting; pola konsumsi yang berlebihan harus dihindari, dan kampanye pengurangan limbah makanan perlu digencarkan.

Peringatan Hari Pangan Sedunia 2025 menjadi refleksi penting bahwa persoalan pangan adalah tentang keadilan, akses, dan keberlanjutan.

Tantangan masih besar, tetapi dengan bergandengan tangan, dunia tidak hanya memastikan pangan hari ini, tetapi juga masa depan yang lebih sehat, adil, dan berkelanjutan bagi generasi mendatang. ****

Editor : Dharaka R. Perdana
#fao #world food day #hari pangan dunia