RADAR TULUNGAGUNG - Pabrik pemurnian emas terbesar di Gresik kini diambang krisis operasional. Jika ancaman berhenti beroperasi benar terjadi, pasokan emas domestik akan mengalami tekanan besar.
Pemerintah dan pelaku industri segera digeser untuk menyelamatkan keberlangsungan industri logam mulia nasional.
Fakta Singkat & Profil Pabrik “Raksasa” Gresik
Pabrik pemurnian logam mulia di Gresik merupakan fasilitas Precious Metal Refinery (PMR) bagian dari integrasi smelter Freeport Indonesia yang mulai aktif memurnikan lumpur anoda menjadi emas batangan dan produk logam mulia lain.
Kapasitas desainnya mencapai sekitar 50–60 ton emas per tahun dengan tingkat kemurnian 99,99 persen.
Sejak Desember 2024, fasilitas ini berhasil memproduksi emas batangan perdana, dan direncanakan agar seluruh produksinya diserap oleh PT Aneka Tambang (Antam).
Ancaman Penghentian Operasi: Apa yang Menyebabkan?
Hingga kini belum ada laporan publik tegas yang menyebut bahwa pabrik tersebut benar-benar akan berhenti, namun sejumlah tantangan dan risiko yang bisa memicu ancaman operasional telah muncul:
Masalah pasokan bahan baku: Produksi emas PMR bergantung pada suplai logam dari proses smelter tembaga (lumpur anoda). Jika suplai terganggu, operasi bisa tersendat.
Baca Juga: Harga Saham Logam Mulia Emas Antam Terus Cetak Rekor Tertinggi, Sentimen Global Mendorong Investasi
Ketergantungan finansial dan investasi besar: Biaya besar untuk pemeliharaan, operasional, dan pengembangan bisa menjadi beban jika pendapatan tidak sesuai harapan.
Regulasi dan kebijakan pemerintah Perubahan regulasi lingkungan, izin usaha, dan perpajakan dapat memengaruhi kelangsungan operasional fasilitas besar seperti ini.
Risiko teknis dan operasional: Gangguan teknologi, kerusakan alat, atau masalah kualitas produksi bisa memicu penghentian sementara.
Pasar dan permintaan emas domestik: Fluktuasi harga emas global dan permintaan domestik yang melemah bisa mempengaruhi keberlanjutan operasi skala besar.
Potensi Dampak Jika Operasi Berhenti
Gangguan rantai pasok emas nasional: Produksi emas batangan dan logam mulia bisa berkurang drastis, memicu kekurangan pasokan domestik.
Ketergantungan impor meningkat: Jika produksi lokal menurun, industri dan lembaga keuangan harus kembali mengimpor emas, menambah beban devisa.
Kerugian ekonomi lokal dan PHK: Kegiatan industri terkait (tenaga kerja, logistik, pemasok) bisa terdampak negatif.
Guncangan ke investor dan pasar: Kabar penghentian operasi bisa meresahkan publik, memengaruhi saham dan kepercayaan pasar terhadap sektor pertambangan & logam mulia.
Antam pun merencanakan mendirikan pabrik pencetakan emas di Gresik (disebut “Avere”) sebagai bagian dari hilirisasi industri emas nasional, dengan investasi sekitar Rp1,1 triliun dan target operasi pada kuartal IV 2027. ****
Editor : Dharaka R. Perdana