Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Bantah Tudingan Perbudakan, Himpunan Alumni Santri Lirboyo Datangi Gedung DPR RI, Marwah Pesantren Sudah Di Luar Batas

Mohammad Dzakwan Wahyu Nur Fauzan • Jumat, 17 Oktober 2025 | 18:51 WIB

Himpunan Alumni Santri Lirboyo (Himasal) Jabotabek  di  Kompleks Parlemen
Himpunan Alumni Santri Lirboyo (Himasal) Jabotabek di Kompleks Parlemen

RADAR TULUNGAGUNG – Himpunan Alumni Santri Lirboyo (Himasal) Jabotabek mengambil langkah tegas dengan mendatangi Kompleks Parlemen DPR RI, Senayan, Jakarta, pada hari Kamis (16/10/2025), untuk membantah keras tuduhan yang menyebut adanya praktik perbudakan di lingkungan pondok pesantren.

Tuduhan sensitif ini, yang telah menjadi sorotan publik dan viral melalui tayangan program Xpose Uncensored Trans7 belakangan ini, dinilai telah mencederai martabat institusi pendidikan moral dan karakter bangsa.

Ketua Himasal Jabotabek, KH Agus Salim, menjadi juru bicara utama dalam rapat penting tersebut, yang turut dihadiri oleh perwakilan DPR RI, Kementerian Komunikasi dan Digital, serta pihak stasiun televisi Trans7.

Kehadiran para alumni Lirboyo ini, menurut KH Agus Salim, merupakan bentuk keprihatinan yang mendalam dan upaya nyata untuk membela marwah pesantren yang telah lama menjadi benteng pendidikan akhlak di Indonesia.

Baca Juga: Rekrutmen Pegawai Karier Khusus Dokter BPJS Kesehatan 2025: Syarat, Deskripsi Pekerjaan, dan Dokumen yang Harus Disiapkan

Dalam pernyataannya, Himasal dengan tegas menyatakan bahwa tudingan mengenai praktik perbudakan di pondok pesantren, terutama yang dikaitkan dengan tradisi di Lirboyo, merupakan bentuk kesalahpahaman besar terhadap nilai-nilai dan tradisi luhur yang dijunjung tinggi. Sebelum penyampaian aduan dimulai, suasana khidmat menyelimuti ruang rapat.

KH Agus Salim memimpin pembacaan surat Al-Fatihah, yang secara khusus dikirimkan langsung dari Pengasuh Ponpes Lirboyo, KH. Anwar Manshur.

Acara dilanjutkan dengan pembacaan syair oleh seluruh alumni santri yang hadir, menandakan betapa seriusnya masalah ini bagi komunitas pesantren.

KH Agus Salim menyampaikan bahwa kedatangan mereka ke "rumah rakyat" (DPR) adalah untuk mengadu.

Ia mengakui bahwa secara tradisi, santri tidak diajarkan untuk melakukan demonstrasi oleh kiai. Namun, kasus ini dianggap telah "di luar batas" kewajaran, sehingga menuntut para alumni untuk bertindak membela dunia pendidikan pesantren.

Baca Juga: Perwakilan Transcorp dan Trans7 Bersilaturahmi ke Ponpes Lirboyo Kota Kediri, Gus Mu'id Minta Chairul Tanjung Langsung yang Meminta Maaf

Menanggapi tuduhan perbudakan, KH. Agus Salim membagikan pengalamannya pribadi sebagai alumni yang pernah menimba ilmu di Pesantren Lirboyo sejak era 1970-an.

Beliau menegaskan bahwa kegiatan yang dilakukan santri, yang kerap disalahartikan sebagai perbudakan, sejatinya adalah bagian dari tradisi khidmah (pelayanan) dan kebutuhan santri terhadap gurunya.

KH Agus Salim mencontohkan pengalamannya saat berada di Betawi pada tahun 70-an, di mana kegiatan mengaji diiringi dengan aktivitas seperti mengisi kolam.

Santri juga biasa mencari pakan ternak (empanan kambing) hingga ke kawasan Senayan, atau mencari daun nangka. Menurutnya, aktivitas-aktivitas tersebut bukanlah bentuk perbudakan.

"Saya dari Jakarta, ketika di Betawi dulu tahun 70-an kita kalau ngaji biasa ngisi kolam, kita nyari empanan kambing itu Senayan, nyari daun nangka, enggak ada diperbudak atau diinikan oleh guru kita, karena kita yang butuh kepada guru kita,” ujar KH. Agus Salim, menekankan bahwa hubungan antara santri dan kiai didasarkan pada kebutuhan santri untuk mendapatkan ilmu dan keberkahan.

Para alumni menekankan bahwa pesantren jauh dari citra negatif yang dituduhkan; sebaliknya, pesantren adalah benteng utama bagi pendidikan moral bangsa. Pesantren berfungsi menanamkan nilai-nilai fundamental seperti adab dan akhlak kepada para santri.

KH Agus Salim bahkan menyatakan kekhawatiran yang mendalam mengenai masa depan bangsa Indonesia apabila institusi pesantren ini tidak ada lagi.

Baca Juga: Misteri Abadi Makam Dempul di Kediri, Lokasi Pemakaman Mr X yang Terlarang Bagi Santri Ponpes Lirboyo

Lebih lanjut, KH. Agus Salim menjelaskan bahwa pesantren bukan sekadar tempat menuntut ilmu agama. Ia adalah pusat vital untuk pembentukan karakter dan etika sosial, sebuah hal yang kini semakin sulit ditemukan, terutama di wilayah perkotaan seperti Jakarta.

Pendidikan yang diperoleh di Lirboyo dan pesantren pada umumnya berfokus pada pembangunan manusia seutuhnya, dimulai dari adab sebelum ilmu.

Oleh karena itu, kedatangan Himasal ini sekali lagi ditegaskan sebagai tuntutan untuk mendapatkan keadilan bagi dunia pendidikan bernama pesantren. Mereka menuntut agar marwah lembaga yang dikenal sebagai pencetak moral dan karakter ini dikembalikan dan dibela seadil-adilnya.

Rapat ini menunjukkan perhatian serius dari lembaga legislatif terhadap isu ini. Sejumlah anggota DPR dari berbagai komisi tampak hadir, menunjukkan dukungan dan kepedulian terhadap aspirasi alumni pesantren.

Diharapkan, dengan adanya pertemuan di Kompleks Parlemen ini, kesalahpahaman publik terkait tradisi pesantren dapat diluruskan, dan harkat martabat pesantren sebagai lembaga penjaga moral bangsa dapat dipulihkan.

Fokus pada adab dan akhlak, sebagaimana yang dididik di Ponpes Lirboyo, menjadi poin utama yang ingin disampaikan oleh para alumni kepada seluruh masyarakat Indonesia. **** 

Editor : Dharaka R. Perdana
#Himasal #Lirboyo #dpr ri #pondok pesantren