RADAR TULUNGAGUNG – Satu tahun masa kerja pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka menjadi momentum penting bagi lembaga studi untuk melakukan evaluasi mendalam.
Hasil Survei Celios (Center of Economic and Law Studies) yang dirilis baru-baru ini menyajikan data mengejutkan, menempatkan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, sebagai menteri dengan kinerja terburuk di Kabinet Merah Putih.
Sentimen negatif publik terhadap Bahlil Lahadalia dilaporkan masih sangat tinggi, menjadikannya menteri yang paling santer direkomendasikan untuk di-reshuffle.
Berdasarkan penilaian yang dikumpulkan oleh Survei Celios dari panel ahli (jurnalis) dan masyarakat umum, Bahlil Lahadalia mendapat nilai akumulasi yang sangat rendah.
Secara spesifik, dalam survei pakar yang melibatkan 120 jurnalis dari 60 lembaga pers, Bahlil mendapat skor minus 151 (-151).
Skor ini menempatkannya di posisi teratas sebagai menteri berkinerja buruk dan layak dirombak. Media Wahyudi Askar, Direktur Kebijakan Publik CELIOS, dengan tegas menyatakan, "Peringkat pertama yang harus di-reshuffle itu adalah Pak Bahlil".
Urgensi dari evaluasi kinerja yang dilakukan oleh Survei Celios ini adalah untuk meninjau capaian dan tantangan pemerintah dalam empat sektor utama: ekonomi, sosial politik, hukum, dan hak asasi manusia (HAM).
CELIOS menekankan bahwa data yang tercantum dalam laporan tersebut bukan merupakan opini dari CELIOS atau penulis, melainkan hasil agregasi dari suara masyarakat yang dikumpulkan melalui metodologi penelitian yang ketat.
Responden umum memberikan nilai yang jauh lebih ekstrem, mencapai minus 1.320 (-1320) untuk Bahlil, menandakan hampir seluruh 1.338 responden umum berpendapat Bahlil pantas menyandang gelar menteri dengan nilai terburuk dalam setahun terakhir.
Metodologi dan Indikator Penilaian
Survei ini melibatkan total 1.338 responden dari berbagai wilayah, termasuk pedesaan, pinggiran kota, hingga perkotaan.
Selain itu, survei ini juga melibatkan 120 jurnalis dari 60 lembaga pers di seluruh Indonesia. Pengumpulan data dilaksanakan dalam rentang waktu yang cukup lama, dari akhir September 2025 hingga 13 Oktober 2025, dan juga disebutkan dari medio 2 hingga 17 Oktober 2025.
Mengenai metode penilaian, CELIOS menerapkan sistem peringkat di mana responden ahli diminta memilih tiga menteri berkinerja terbaik dengan sistem poin (tiga poin untuk posisi pertama, dua poin untuk posisi kedua, dan satu poin untuk posisi ketiga).
Akumulasi poin ini kemudian dikurangi dengan skor dari tiga menteri berkinerja terburuk untuk menghasilkan peringkat akhir.
Evaluasi kinerja ditentukan berdasarkan enam indikator penilaian yang komprehensif, meliputi:
- Pencapaian program.
- Kesesuaian rencana kebijakan dengan kebutuhan publik.
- Kualitas kepemimpinan dan koordinasi.
- Tata kelola anggaran.
- Komunikasi kebijakan.
- Penegakan hukum.
Rapor Merah Menteri Lain dan Menteri Terbaik
Selain Bahlil Lahadalia, Survei Celios juga mencatat beberapa menteri lain yang mendapat rapor merah dalam penilaian para pakar/jurnalis:
1. Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, berada di peringkat kedua terburuk dengan nilai minus 81 (-81).
2. Menteri Hak Asasi Manusia (HAM), Natalius Pigai, di posisi ketiga terburuk dengan nilai minus 79 (-79).
3. Menteri Kehutanan, Raja Juli Antoni, mendapat nilai minus 56 (-56).
4. Menteri Kebudayaan, Fadli Zon, mendapat nilai minus 36 (-36).
5. Menteri Pariwisata, Widiyanti Putri Wardhana, dengan nilai minus 34 (-34).
6. Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, dengan nilai minus 22 (-22).
7. Kepala Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan, Budiman Sudjatmiko, minus 14 (-14).
8. Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal, Yandri Susanto, minus 10 (-10).
9. Menteri Agraria dan Tata Ruang, Nusron Wahid, minus 7 (-7).
Di sisi lain, terdapat pula menteri-menteri yang dianggap berkinerja terbaik. Dalam survei pakar, tiga menteri terbaik adalah:
1. Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), di posisi pertama dengan nilai 50.
2. Menteri Agama, Nasaruddin Umar, di posisi kedua dengan nilai 48.
3. Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu'ti, di posisi ketiga dengan nilai 44.
Hasil survei umum menunjukkan kemiripan, di mana AHY (1.042 poin), Nasaruddin Umar (470 poin), dan Abdul Mu'ti (227 poin) juga menempati posisi terbaik.
Sementara di survei umum, posisi terburuk kedua setelah Bahlil (-1320) adalah Natalius Pigai (-346) dan Zulkifli Hasan (-253). CELIOS juga secara terpisah menyoroti bahwa kinerja ekonomi nasional masih buruk.
Tanggapan Menteri Bahlil
Menanggapi hasil survei yang menempatkannya di posisi terbawah, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyatakan bahwa pihak yang berhak menilai kinerjanya adalah Presiden. Bahlil menegaskan, "Jadi, yang berhak untuk menilai kinerja para menteri hanyalah Presiden".
Pernyataan ini disampaikannya setelah menyambangi kediaman Presiden Prabowo di Jalan Kertanegata Nomor 4, Jakarta Selatan, pada Minggu, 19 Oktober 2025. ****
Editor : Dharaka R. Perdana