RADAR TULUNGAGUNG - Lembaga survei nasional Celios merilis hasil terbaru yang menunjukkan penilaian publik terhadap kinerja Kepolisian Republik Indonesia (POLRI) sangat rendah.
Rata-rata skor yang diberikan hanya 2 dari 10, dengan mayoritas responden menilai kinerja POLRI "sangat buruk".
Data ini menjadi alarm serius atas menurunnya kepercayaan publik terhadap institusi penegak hukum tersebut.
Mayoritas responden, yaitu 55 persen, memberikan nilai 1 untuk kinerja POLRI, dan 23 persen memberikan nilai 2. Artinya, sebanyak 78 persen masyarakat menilai kinerja POLRI berada pada kategori “sangat buruk”.
Penilaian yang sedikit lebih tinggi juga tidak menunjukkan perbaikan signifikan. Sebanyak 7 persen memberi nilai 3, 6 persen memberi nilai 4, dan 4 persen memberikan nilai 5.
Bahkan, nilai tinggi (6 ke atas) hampir tidak ditemukan, dengan hanya 3 persen responden yang memberikan nilai 6.
Dengan seluruh data ini, skor rata-rata kinerja POLRI hanya mencapai 2 dari skala 10, sebuah angka yang sangat rendah untuk institusi penegak hukum yang memiliki peran penting dalam menjaga keamanan dan ketertiban nasional.
Apa Penyebabnya?
Sejumlah analis menilai penurunan kepercayaan ini tidak lepas dari berbagai kasus kontroversial yang melibatkan oknum polisi, serta kurangnya transparansi dan akuntabilitas dalam penanganan perkara.
Belum lagi isu kekerasan berlebihan, kriminalisasi, dan konflik kepentingan yang membuat citra POLRI terus menurun di mata publik.
Alarm Serius untuk Pembenahan Internal
Hasil survei ini harus menjadi peringatan keras bagi pimpinan POLRI, terutama menjelang tahun-tahun krusial dalam transisi pemerintahan baru.
Masyarakat kini menuntut bukan hanya kinerja teknis, tetapi juga etika, integritas, dan keberpihakan pada keadilan.
Tanpa perubahan signifikan, kepercayaan publik terhadap institusi yang seharusnya menjadi pengayom masyarakat ini bisa semakin tergerus. ****
Editor : Dharaka R. Perdana