RADAR TULUNGAGUNG - Industri baja dalam negeri menghadapi tantangan besar untuk mampu menopang kebutuhan dalam negeri.
Namun di satu sisi, produk baja Tiongkok yang mampu memenuhi 60 persen kebutuhan baja dunia menjadi ancaman tersendiri. Peluang investasi di industri baja masih terbuka lebar untuk lebih berkembang.
Direktur Utama PT Krakatau Steel Tbk Muhammad Akbar Djohan memaparkan, total produksi baja masiih di bawah 18 juta ton per tahun, jauh dibandingkan Tiongkok yang memproduksi sekitar 1,3 miliar ton baja setiap tahunnya.
Angka tersebut setara dengan 60 persen dari total kebutuhan baja dunia yang mencapai 1.7 miliar ton per tahun.
"Sering kita ditanya, kenapa competitiveness kita tidak bisa sama atau bahkan lebih murah daripada baja dari Tiongkok? Karena menang situasinya tidak apple to apple.
Produksi baja nasional hanya 18 juta ton pertahun, sedangkan Tiongkok sudah sampai 1,3 miliar ton setahun" ujar Akbar di Jakarta kemarin (22/10).
Menurut dia, peluang investasi di sektor baja masih terbuka lebar. Menurut data dari Oxford Institute, sambung Akbar, setiap investasi senilai USD1 dalam rantai pasok baja mampu memberikan dampak ekonomi hingga USD2,5. Bahkan, efek bergandanya pada industri terkait bisa mencapai USD13.
Selain nilai tambah ekonomi, industri baja juga berperan besar dalam penciptaan lapangan kerja.
Berdasarkan perhitungan Krakatau Steel, satu pekerja di industri baja dapat menumbuhkan 6,5 pekerjaan baru di rantail pasok, serta 35 pekerjaan tambahan di industri terkait.
Baca Juga: Lapangan Kerja dan Harga Melambung, Bisakah Prabowo–Gibran Menjawab Tuntutan Rakyat?
"Dengan strategi transformasi dan dukungan investasi yang tepat, industri baja nasional memiliki peluang besar untuk menjadi salah satu motor penggerak utama pembangunan ekonomi na sional dimasa mendadang' tegas Akbar. ****
Editor : Dharaka R. Perdana