Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Benarkah Zona Megathrust Indonesia Lebih Berbahaya dari Jepang dan Rusia? Ini Penjelasan BMKG yang Mengejutkan

Ilma Nurrahma • Minggu, 26 Oktober 2025 | 03:08 WIB
BMKG menyebut zona megathrust di Indonesia lebih berbahaya dibanding Jepang dan Rusia. Alasannya, beberapa segmen megathrust di Tanah Air sudah ratusan tahun tidak melepaskan energi besar.(WikiPedia)
BMKG menyebut zona megathrust di Indonesia lebih berbahaya dibanding Jepang dan Rusia. Alasannya, beberapa segmen megathrust di Tanah Air sudah ratusan tahun tidak melepaskan energi besar.(WikiPedia)

RADAR TULUNGAGUNG-BMKG menyoroti kondisi megathrust Indonesia yang dinilai lebih berisiko dibanding Jepang dan Rusia.

Sejumlah segmen utama seperti Mentawai-Siberut dan Selat Sunda sudah terlalu lama “tidur” tanpa pelepasan energi besar.

Para ahli mengingatkan, ini bukan pertanda gempa akan segera terjadi, tetapi peringatan agar masyarakat lebih siap menghadapi bencana besar.

Baca Juga: Ramalan Cuaca 20–29 Oktober 2025, BMKG Juanda Imbau Warga Jawa Timur Waspadai Cuaca Ekstrem, Termasuk Tulungagung dan Sekitarnya

Pernyataan ini bukan tanpa dasar. Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati, menjelaskan bahwa sejumlah segmen megathrust di Indonesia khususnya di Selat Sunda dan Mentawai-Siberut sudah berabad-abad tidak melepaskan energi besar.

Dalam ilmu geologi, fenomena itu dikenal sebagai seismic gap, yaitu wilayah yang menyimpan energi tektonik sangat besar karena lama tidak mengalami gempa kuat.

 Baca Juga: Suhu Pulau Jawa Sangat Gerah, BMKG Prediksi Sebagian Besar Wilayah Masuk Musim Hujan Lebih Awal pada Oktober 2025

“Kalau di Jepang atau Rusia, pelepasan energi besar bisa terjadi setiap 50 hingga 100 tahun. Namun di Indonesia, ada segmen yang sudah ratusan tahun tidak ‘meledak’,” ungkap Dwikorita.

Menurutnya, kondisi tersebut membuat tekanan antar lempeng di bawah bumi Indonesia terus meningkat.

Ketika tekanan itu akhirnya dilepaskan, maka potensi gempanya bisa mencapai magnitudo 9 atau lebih, dan berpotensi memicu tsunami besar.

BMKG menegaskan bahwa peringatan ini bukan prediksi waktu terjadinya gempa, karena hingga kini belum ada teknologi di dunia yang mampu memperkirakan secara pasti kapan energi itu akan dilepaskan.

Baca Juga: Panas Menyengat Belum Usai! Ini Penjelasan BMKG Tentang Cuaca Terik di Indonesia

Namun, fakta bahwa zona-zona tersebut “terlalu lama diam” menjadi tanda bahaya bagi kesiapsiagaan nasional.

 “Peringatan kami bukan untuk menakuti, tetapi agar masyarakat dan pemerintah daerah benar-benar bersiap,” kata Dwikorita.

Selain perbandingan durasi seismic gap, BMKG juga menyoroti bahwa kepadatan penduduk di zona rawan gempa Indonesia jauh lebih tinggi daripada Jepang atau Rusia.

Hal itu menjadikan potensi korban dan kerugian bila gempa besar terjadi bisa jauh lebih besar.

Pemerintah daerah di wilayah pesisir seperti Sumatera Barat, Banten, dan Jawa Selatan kini diminta memperkuat sistem peringatan dini tsunami dan jalur evakuasi, serta memastikan bangunan publik mematuhi standar tahan gempa.

BMKG pun mengingatkan bahwa kesiapsiagaan masyarakat adalah pertahanan terakhir.

Edukasi publik, latihan evakuasi rutin, dan kesiapan logistik darurat di tingkat rumah tangga harus menjadi budaya baru di wilayah rawan bencana. ****

Editor : Dharaka R. Perdana
#bmkg #zona merah #mitigasi bencana #gempa megathrust #megathrust indonesia