RADAR TULUNGAGUNG - Indonesia kembali diingatkan akan bahaya gempa megathrust yang sewaktu-waktu bisa terjadi.
BMKG menegaskan, fenomena ini bukan tentang jika, tapi kapan menandakan besarnya potensi energi yang tersimpan di bawah bumi Nusantara.
Dari Aceh hingga selatan Jawa, 13 zona merah kini menjadi perhatian serius para ahli dan pemerintah.
Lembaga BMKG menegaskan bahwa potensi gempa megathrust di Indonesia adalah hal yang tak bisa dihindari, dan kini “tinggal menunggu waktu”.
“Ini bukan prediksi kapan gempa akan terjadi, melainkan pengingat bahwa kita harus siap,” tegas Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati, dalam keterangan resminya di Jakarta.
Menurut BMKG, megathrust adalah istilah untuk zona tumbukan antara lempeng samudra dan benua yang menyimpan energi luar biasa besar.
Baca Juga: Prakiraan Cuaca di Bulan Oktober Makin Sulit Ditebak, Simak Pola Perubahan Musim 5 Tahun Terakhir
Ketika energi itu dilepaskan, getarannya bisa memicu gempa besar yang berpotensi disertai tsunami seperti yang pernah terjadi di Aceh tahun 2004 silam.
Hasil pemetaan BMKG mengungkap sedikitnya 13 segmen megathrust aktif di Indonesia yang kini berada dalam kategori “zona merah”. Wilayah-wilayah itu antara lain:
Zona Aceh-Andaman, Mentawai-Siberut dan Pagai, Selat Sunda – Banten, Selatan Jawa Barat hingga Banyuwangi, Bali – Lombok – Sumbawa, hingga Timur Laut Maluku dan Papua.
Segmen-segmen tersebut disebut “kosong” karena belum melepaskan energi besar selama ratusan tahun.
Dalam istilah geologi, ini disebut seismic gap wilayah yang berpotensi menjadi sumber gempa besar berikutnya.
Baca Juga: Panas Menyengat Belum Usai! Ini Penjelasan BMKG Tentang Cuaca Terik di Indonesia
Namun, BMKG menegaskan bahwa istilah “tinggal menunggu waktu” bukan untuk menakuti masyarakat. Peringatan ini lebih pada upaya membangun kesadaran publik tentang pentingnya mitigasi dan kesiapsiagaan bencana.
Masyarakat diimbau untuk:
1. Mengenali apakah tempat tinggalnya masuk dalam zona rawan gempa atau tsunami.
2. Membangun atau memperkuat bangunan dengan struktur tahan gempa.
3. Mengetahui jalur dan lokasi evakuasi terdekat.
4. Menyimpan tas darurat berisi kebutuhan penting jika bencana terjadi tiba-tiba.
Selain itu, pemerintah daerah di wilayah pesisir seperti Mentawai, Pandeglang, Cilacap, hingga Lombok diminta meninjau ulang tata ruang dan pembangunan agar selaras dengan peta rawan bencana terbaru. ****
Editor : Dharaka R. Perdana