RADAR TULUNGAGUNG - Pusat Riset Kebencanaan Geologi, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menegaskan bahwa megathrust yang memicu tsunami raksasa di sepanjang pantai selatan Jawa bukan sekadar kemungkinan, melainkan fenomena alam yang telah berulang kali terjadi dalam sejarah geologi.
Hasil penelitian yang pernah mereka lakukan menjadi peringatan penting bagi pemerintah dan masyarakat, mengingat semakin padatnya aktivitas pembangunan dan permukiman di kawasan pesisir selatan.
Menurut Purna Sulastya Putera, peneliti BRIN, hasil kajian paleotsunami menunjukkan bahwa tsunami besar pernah melanda wilayah selatan Jawa dengan rentang waktu kejadian antara 600 hingga 1.200 tahun sekali.
Berdasarkan perhitungan matematis dari McCaffrey, potensi gempa megathrust berkekuatan magnitudo 9 dapat berulang setiap sekitar 675 tahun.
Jika gempa sebesar itu terjadi, zona patahan yang aktif bisa mencapai lebih dari 900 kilometer, sehingga seluruh pesisir selatan Jawa berpotensi terdampak.
Jejak Paleotsunami di Sepanjang Selatan Jawa
Temuan lapangan BRIN memperlihatkan bukti nyata dari peristiwa tsunami purba di berbagai lokasi:
1. Lebak, Banten
Ditemukan lapisan pasir kaya mikrofauna laut, bongkahan kayu, serta coral bercabang yang masih berdiri tegak di bawah tanah. Lapisan ini diperkirakan berasal dari tsunami sekitar 400 dan 3.000 tahun lalu.
2. Pangandaran, Jawa Barat
Terdapat lapisan endapan tsunami berlapis, menunjukkan adanya perubahan lingkungan akibat uplift (pengangkatan tanah) yang menandakan terjadinya gempa besar disertai tsunami.
3. Adipala, Cilacap (Jawa Tengah)
Peneliti menemukan radiolaria, mikrofauna laut dalam yang jarang ditemukan di darat, sebagai bukti endapan tsunami berusia sekitar 1.800 tahun.
4. Kulonprogo, DIY
Terdapat tiga lapisan endapan tsunami purba berisi cangkang foraminifera dan ‘baby foram’, dengan umur sementara diperkirakan lebih dari 1.800 tahun. Analisis lebih lanjut tengah dilakukan untuk menentukan rentang waktunya secara akurat.
5. Ujung Genteng, Jawa Barat
Lapisan pasir setebal 7 meter ditemukan di lingkungan rawa, mengindikasikan adanya tsunami berusia 4.300 hingga 5.500 tahun.
6. Lumajang, Jawa Timur
Lapisan pasir kontras di antara lempung berusia 300–400 tahun menunjukkan kejadian tsunami lokal, bukan tsunami raksasa seperti di bagian barat selatan Jawa.
Ancaman dan Tantangan Mitigasi
Purna menegaskan bahwa bukti geologi keberadaan tsunami raksasa sudah sangat jelas, namun analisis lebih mendalam masih diperlukan untuk mengetahui frekuensi, kekuatan, dan karakteristik gelombang tsunami masa lalu.
Pertanyaan penting seperti jumlah gelombang yang terjadi, tinggi genangan air, serta estimasi waktu evakuasi masih menjadi fokus penelitian lanjutan.
“Kita belum bisa menjawab berapa jumlah gelombang tsunami masa lalu, seberapa besar genangannya, hingga berapa lama waktu evakuasi yang tersedia. Ini yang akan kita analisis lebih lanjut,” ujarnya. ****
Editor : Dharaka R. Perdana