Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Raja Keraton Surakarta Pakubuwono XIII Wafat di Usia 77 Tahun, Begini Profil dan Perjalanan Hidupnya

Vidya Sajar Fitri • Minggu, 2 November 2025 | 21:38 WIB
Sri Susuhunan Pakubuwono XIII Hangabehi, Raja Keraton Surakarta, wafat pada Minggu (2/11/2025) di usia 77 tahun.
Sri Susuhunan Pakubuwono XIII Hangabehi, Raja Keraton Surakarta, wafat pada Minggu (2/11/2025) di usia 77 tahun.

TULUNGAGUNG — Indonesia berduka atas berpulangnya Sri Susuhunan Pakubuwono XIII Hangabehi, Raja Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat.

Pakubuwono XIII wafat pada Minggu pagi (2/11/2025) sekitar pukul 07.00 WIB di RS Indriati, Solo Baru, Sukoharjo, Jawa Tengah, dalam usia 77 tahun.

Kabar wafatnya Pakubuwono XIII tersebut dikonfirmasi langsung oleh pihak keluarga dan abdi dalem keraton.

Baca Juga: Mendagri Tito Karnavian Bentuk Satgas Khusus untuk Percepatan Pembangunan KDKMP, Ini Tugasnya

Sebelum wafat, Pakubuwono XIII sempat dirawat intensif karena komplikasi penyakit, termasuk gula darah tinggi dan hipertensi, yang membuat kondisinya terus menurun dalam beberapa bulan terakhir.

Profil Singkat Pakubuwono XIII

Pakubuwono XIII lahir di Surakarta pada 28 Juni 1948 dengan nama kecil Kanjeng Gusti Pangeran Harya (KGPH) Hangabehi.

Beliau adalah putra dari Sri Susuhunan Pakubuwono XII dan KRAy Pradapaningrum.

Sejak kecil, beliau tumbuh di lingkungan keraton yang kental dengan nilai-nilai budaya Jawa, kesantunan, dan tanggung jawab luhur sebagai calon penerus tahta.

Baca Juga: Wamendagri Bima Arya Sebut Empat Syarat Strategis untuk Lahan Koperasi Merah Putih, Ini Rinciannya

Setelah wafatnya Pakubuwono XII pada tahun 2004, KGPH Hangabehi dinobatkan sebagai Sri Susuhunan Pakubuwono XIII Hangabehi, melanjutkan garis keturunan panjang raja-raja Surakarta yang sudah berdiri sejak abad ke-18.

Perjalanan Panjang dan Dinamika Kepemimpinan

Masa pemerintahan Pakubuwono XIII diwarnai berbagai dinamika dan tantangan, termasuk konflik internal di tubuh keluarga besar keraton.

Setelah wafatnya PB XII, sempat muncul dualisme kepemimpinan antara kubu Hangabehi dan Tejowulan, yang memecah perhatian publik.

Namun, dalam perjalanannya, Pakubuwono XIII berhasil menempuh jalan rekonsiliasi dengan pihak lain, demi menjaga kehormatan dan persatuan keraton.

Upaya tersebut mendapat dukungan dari berbagai tokoh budaya, pemerintah daerah, serta masyarakat Solo yang menginginkan keraton kembali utuh sebagai simbol budaya Jawa.

Selain itu, beliau juga dikenal gigih dalam melestarikan adat istiadat Jawa di tengah arus modernisasi.

Upacara adat seperti Sekaten, Tedhak Sinten, dan berbagai prosesi kebudayaan lain tetap dijaga pelaksanaannya di bawah kepemimpinan beliau.

Baca Juga: Kata Donald Trump Soal Peran Presiden Prabowo dalam Inisiatif Perdamaian Timur Tengah

Keraton Surakarta pun menjadi pusat perhatian wisatawan dan peneliti budaya dari berbagai daerah.

Sosok Rendah Hati dan Dekat dengan Rakyat

Di luar tembok keraton, Pakubuwono XIII dikenal sebagai pribadi yang sederhana dan bersahaja.

Beliau sering hadir dalam kegiatan sosial dan keagamaan masyarakat Solo.

Banyak warga mengenangnya sebagai sosok berwibawa namun ramah, yang selalu menyapa dengan tutur kata halus khas Jawa.

Baca Juga: Sederet Fakta Kegagalan Upaya Pemakzulan Bupati Sudewo Bdalam Sidang Paripurna Hak Angket DPRD Pati, Hanya Disuarakan Satu Partai

Kepedulian beliau terhadap pelestarian budaya juga diwujudkan melalui kerja sama dengan pemerintah daerah, perguruan tinggi, dan komunitas seni.

Dalam berbagai kesempatan, beliau menegaskan pentingnya menjaga identitas budaya Jawa agar tidak hilang di tengah globalisasi.

Rencana Pemakaman

Setelah disemayamkan di Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, jenazah almarhum akan dibawa ke Makam Raja-Raja Imogiri, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, pada Selasa, 5 November 2025.

Prosesi pemakaman direncanakan dilakukan dengan upacara adat keraton yang penuh khidmat, melibatkan keluarga besar, abdi dalem, dan perwakilan pemerintah.

Ribuan warga Solo diperkirakan akan hadir untuk memberikan penghormatan terakhir.

Pemerintah Kota Surakarta juga telah menyiapkan pengaturan lalu lintas di sekitar area keraton untuk memfasilitasi prosesi tersebut.

Baca Juga: Kamo Visual Hadapi Keterbatasan Waktu dalam Produksi Film untuk RFF 2025

Warisan Budaya dan Makna Kepergian

Kepergian Pakubuwono XIII bukan hanya kehilangan bagi keluarga besar keraton, tetapi juga bagi seluruh masyarakat Jawa dan Indonesia.

Beliau dianggap sebagai penjaga nilai-nilai luhur budaya Jawa di masa modern.

Selama kepemimpinannya, Keraton Surakarta berhasil mempertahankan perannya sebagai pusat kegiatan budaya, spiritual, dan sejarah.

Banyak pihak berharap semangat dan dedikasi almarhum dapat diteruskan oleh generasi penerusnya.***

Editor : Vidya Sajar Fitri
#profil pakubuwono xiii #keraton surakarta #Raja Keraton Surakarta Meninggal #Pakubuwono XIII #Raja Solo Wafat