Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Ketika Masih Kecil, Nama Sinuhun Pakubuwono XIII Pernah Diganti oleh Neneknya, Latar Belakangnya Disesuaikan dengan Tradisi Jawa

Dharaka R. Perdana • Minggu, 2 November 2025 | 23:55 WIB

Sinuhun Pakubuwono XIII semasa hidup. (WIKIPEDIA)
Sinuhun Pakubuwono XIII semasa hidup. (WIKIPEDIA)

RADAR TULUNGAGUNG – Kabar duka menyelimuti Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Kanjeng Sinuhun Pakubuwono XIII wafat pada Minggu (2/11/2025) sekitar pukul 07.30 WIB di RS Indriati Solo Baru, setelah menjalani perawatan panjang sejak September akibat komplikasi penyakit.

Sosok yang memiliki nama kecil Gusti Raden Mas (GRM) Suryo Partono itu lahir di Surakarta pada Senin, 28 Juni 1948.

Ia merupakan putra tertua dari Sri Susuhunan Pakubuwana XII dengan Kanjeng Raden Ayu (KRAy.) Pradapaningrum, salah satu garwa ampil di lingkungan keraton.

Baca Juga: Terungkap Kondisi Kesehatan Sinuhun Pakubuwono XIII, Sempat Dirawat Beberapa Hari di Rumah Sakit Akibat Komplikasi Penyakit

Menurut catatan dalam buku Mas Behi: Angger-Angger dan Perubahan Zaman terbitan Yayasan Pawiyatan Kabudayan Keraton Surakarta (2004), nama awalnya adalah GRM Suryadi.

Namun karena sering sakit-sakitan, sang nenek, Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Pakubuwana, permaisuri PB XI kemudian mengganti namanya menjadi GRM Suryo Partono sebagai ikhtiar spiritual sesuai tradisi masyarakat Jawa.

Pada tahun 1979, ketika Keraton Surakarta telah beradaptasi dengan alam republik, pranata adat atau paugeran menegaskan bahwa GRM Suryo Partono berhak menyandang nama Hangabehi, dengan gelar Kanjeng Gusti Pangeran Harya (KGPH).

Baca Juga: Raja Keraton Surakarta Pakubuwono XIII Wafat di Usia 77 Tahun, Begini Profil dan Perjalanan Hidupnya

Gelar itu menandakan statusnya sebagai putra tertua yang disiapkan menjadi penerus takhta Kasunanan Surakarta.

Selama hidupnya, PB XIII dikenal sebagai pribadi yang tekun dan berperan besar dalam menjaga warisan budaya keraton.

Ia pernah menjabat sebagai Pangageng Museum Keraton Surakarta serta beberapa posisi penting lain di internal Kasunanan.

Baca Juga: Kalimat Aku Tak Ndelok Saka Kadohan Jadi Firasat Kepergian Ki Anom Suroto, Dimakamkan Berdampingan dengan Orang Tua dan Adiknya

Atas dedikasi dan jasanya saat mengatasi kebakaran besar yang melanda Keraton pada 1985, PB XII menganugerahkan kepadanya Bintang Sri Kabadya I, penghargaan tertinggi yang hanya pernah diterima olehnya di antara semua putra-putri PB XII.

Di luar kehidupan keraton, PB XIII juga menapaki karier profesional. Ia pernah bekerja di Caltex Pacific Indonesia, Riau, sebelum akhirnya pindah ke Jakarta.

Selain itu, ia aktif di berbagai organisasi, termasuk Organisasi Amatir Radio Indonesia (ORARI), dan dikenal memiliki hobi musik, terutama bermain keyboard.

Atas kiprahnya dalam pelestarian budaya dan hubungan internasional, PB XIII menerima sejumlah anugerah kehormatan dari lembaga dalam dan luar negeri, termasuk gelar Doktor Kehormatan dari Global University for Lifelong Learning (GULL), Amerika Serikat.

Kepergian PB XIII meninggalkan duka mendalam bagi keluarga besar Keraton Surakarta dan masyarakat pecinta budaya Jawa.

Semasa hidupnya, beliau dikenal sebagai sosok bijaksana yang berusaha menjembatani nilai-nilai tradisi keraton dengan perubahan zaman modern. ****

Editor : Dharaka R. Perdana
#Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat #Pakubuwono XIII #wafat