Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Sinuhun Pakubuwono XIII Naik Tahta dengan Cara Tidak Mudah, Sempat Muncul Fenomena Raja Kembar di Keraton Surakarta, Begini Kisahnya

Dharaka R. Perdana • Senin, 3 November 2025 | 18:30 WIB

Sri Susuhunan Pakubuwono XIII Hangabehi, Raja Keraton Surakarta, wafat pada Minggu (2/11/2025) di usia 77 tahun.
Sri Susuhunan Pakubuwono XIII Hangabehi, Raja Keraton Surakarta, wafat pada Minggu (2/11/2025) di usia 77 tahun.

RADAR TULUNGAGUNG - Berpulangnya Sri Susuhunan Pakubuwono XIII pada Minggu (2/11/2025) benar-benar membawa kedukaan bagi keluarga besar Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat.

Apalagi sosok Sri Susuhunan Pakubuwono XIII dikenal sebagai pribadi yang lembah manah dan penjaga kebudayaan Jawa di era modern.

Namun ingatkah kamu, Sri Susuhunan Pakubuwono XIII naik tahta dengan cara yang tidak mudah?

Bahkan sempat ada fenomena raja kembar atau dualisme kepemimpinan di Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Berikut ulasannya

Baca Juga: Sejumlah Tokoh Mulai Berdatangan Takziah ke Keraton Surakarta, Termasuk Wapres Gibran dan KGPAA Mangkunagoro X

Awal Mula Konflik

Sesaat setelah wafatnya Pakubuwono XII, muncul ketidaksepakatan di antara putra-putri beliau mengenai siapa yang berhak menggantikan posisi sang raja.

Dalam rapat Forum Komunikasi Putra-Putri (FKPP) Pakubuwono XII yang digelar pada 10 Juli 2004, disepakati bahwa KGPH Hangabehi, putra tertua almarhum, akan dinobatkan sebagai raja berikutnya. Tanggal 10 September 2004 pun ditetapkan sebagai hari penobatan resmi.

Namun, situasi berubah pada 31 Agustus 2004. Salah satu putra Pakubuwono XII yang lain, KGPH Tejowulan, justru dinobatkan sebagai raja oleh sebagian keluarga keraton di Sasana Purnama, Badran, Kotabarat, Surakarta — rumah milik pengusaha BRAy Mooryati Sudibyo.

Penobatan ini mengejutkan banyak pihak, sebab dianggap melangkahi keputusan FKPP dan menciptakan perpecahan di kalangan keluarga besar keraton.

Baca Juga: Sosok KGPAA Hamangkunegoro, Putra Mahkota Keraton Surakarta di Tengah Harapan dan Sorotan Publik, Pernah Lontarkan Hal Kontroversial

Insiden Penyerbuan Keraton

Ketegangan semakin memuncak ketika pada awal September 2004, kelompok pendukung Tejowulan menyerbu dan mendobrak pintu Keraton Surakarta.

Insiden ini menimbulkan kekacauan besar; sejumlah bangsawan dan abdi dalem terluka akibat bentrokan tersebut.

Pihak keraton yang dipimpin KP Edy Wirabumi (suami GKR Wandansari) bahkan melaporkan peristiwa itu ke Polresta Surakarta, dengan tuduhan perusakan cagar budaya di lingkungan keraton.

Penobatan Pakubuwono XIII

Meski situasi politik dalam keraton memanas, penobatan KGPH Hangabehi tetap berlangsung sesuai rencana pada 10 September 2004.

Upacara sakral tersebut digelar di Bangsal Manguntur Tangkil, Kompleks Sitihinggil Lor, dan dihadiri oleh tiga sesepuh penting keraton, seperti GPH Harya Mataram, BKPH Prabuwinata, serta GRAy Panembahan Bratadiningrat.

Ketiganya memberi restu dan mengawal KGPH Hangabehi dari Dalem Ageng Prabasuyasa menuju tempat penobatan.

Dalam upacara agung itu, Hangabehi resmi bertakhta dengan gelar Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya (KGPAA) Sri Susuhunan Pakubuwono XIII Hangabehi.

Penobatan tersebut disaksikan oleh keluarga besar keraton, para duta besar negara sahabat, utusan kerajaan-kerajaan Nusantara, dan masyarakat umum.

Baca Juga: Keluarga Besar Wangsa Mataram Berduka, Keraton Yogyakarta dan Pura Mangkunegaran Sampaikan Belasungkawa atas Wafatnya Pakubuwono XIII

Lahirnya Dualisme di Kasunanan Surakarta

Meski penobatan Pakubuwono XIII telah dilakukan secara resmi dan mendapat restu para sesepuh, keberadaan KGPAA Tejowulan yang juga mengklaim gelar serupa membuat Keraton Surakarta mengalami dualisme kepemimpinan.

Konflik ini bukan sekadar perebutan takhta, melainkan juga berkaitan dengan legitimasi, garis keturunan, dan tata nilai tradisi Mataram yang selama ini dijunjung tinggi.

Hingga kini, nama Pakubuwono XIII dikenal publik dengan dua versi: Pakubuwono XIII Hangabehi dan Pakubuwono XIII Tejowulan, yang masing-masing memiliki pengikut dan pendukung.

Peristiwa ini menjadi salah satu bab paling dramatis dalam sejarah modern Kasunanan Surakarta menggambarkan bagaimana pusaka budaya dan kekuasaan Jawa masih menjadi simbol kehormatan yang diperjuangkan dengan segala cara. ****

Editor : Dharaka R. Perdana
#Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat #Dualisme kepemimpinan #Pakubuwono XIII #Raja Kembar