Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Disebut Tak Perlu Ahli Gizi di MBG, Pernyataan Cucun Ahmad Syamsurijal Picu Kritik dan Berujung Permintaan Maaf

Khoinatul fitriyah • Kamis, 20 November 2025 | 00:40 WIB

Wakil Ketua DPR Cucun Ahmad Syamsurijal saat menghadiri forum konsolidasi SPPG di Bandung, di mana pernyataannya soal ahli gizi dalam program MBG memicu kontroversi. ( Ilustrasi )
Wakil Ketua DPR Cucun Ahmad Syamsurijal saat menghadiri forum konsolidasi SPPG di Bandung, di mana pernyataannya soal ahli gizi dalam program MBG memicu kontroversi. ( Ilustrasi )

RADAR TULUNGAGUNG – Pernyataan Cucun Ahmad Syamsurijal kembali menjadi sorotan publik setelah Wakil Ketua DPR RI itu menyebut bahwa program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak memerlukan ahli gizi.

Komentar tersebut disampaikan dalam forum konsolidasi Satgas Pelaksana Program Gizi (SPPG) di Bandung dan langsung memicu reaksi keras dari masyarakat, tenaga kesehatan, hingga organisasi profesi gizi di Indonesia.

Kontroversi bermula ketika Cucun Ahmad Syamsurijal mengatakan bahwa MBG dapat berjalan tanpa keterlibatan ahli gizi.

Baca Juga: DPR Resmi Sahkan RKUHAP, Era Baru Hukum Acara Pidana Dimulai dengan Pemberlakuan KUHAP 2026

Menurutnya, pengawasan program hanya membutuhkan petugas khusus tanpa harus memiliki latar belakang keahlian gizi.

Ucapan itu memantik gelombang protes karena dianggap meremehkan profesi ahli gizi yang memiliki peran vital dalam perencanaan menu dan kualitas asupan untuk anak-anak.

“Kita tidak perlu ahli gizi, tidak perlu Persagi. Yang diperlukan hanya satu tenaga pengawas yang tidak harus ahli. Selesai,” ujar Cucun dalam forum tersebut.

Kutipan itu kemudian beredar luas dan menjadi bahan kritik di media sosial.

Baca Juga: Cucun Ahmad Syamsurijal Sebut MBG Tak Perlu Ahli Gizi, Video Viralnya Bikin Ahli Gizi Menangis hingga Akun IG Dibanjiri Komentar Pedas

Banyak yang menilai pernyataan tersebut menyesatkan dan berpotensi memperburuk kualitas program MBG yang digagas pemerintah.

Reaksi Publik dan Gelombang Kritik

Sejak potongan videonya menyebar, Pernyataan Cucun Ahmad Syamsurijal menjadi bahan perbincangan panas.

Publik mempertanyakan bagaimana mungkin program pemenuhan gizi nasional dijalankan tanpa tenaga ahli yang memahami kebutuhan nutrisi anak secara komprehensif.

Tenaga gizi, akademisi, dan organisasi profesi juga angkat suara.

Mereka menilai bahwa keberadaan ahli gizi merupakan syarat mutlak dalam memastikan keberhasilan program MBG, terutama karena program ini tidak memiliki standar menu nasional yang seragam dan setiap daerah membutuhkan penyesuaian nutrisi sesuai kondisi lokal.

Di tengah derasnya kritik, Cucun akhirnya menyampaikan permintaan maaf.

Ia menjelaskan bahwa maksud pernyataannya adalah merespons usulan peserta forum yang hendak mengganti istilah “ahli gizi” dengan nomenklatur petugas MBG.

Menurut Cucun, perubahan istilah justru bisa berbahaya karena membuka peluang masuknya profesi lain yang tidak sesuai kompetensi.

Baca Juga: Upaya Penggeledahan Meningkat, Kejagung dan Pemerintah Soroti Reformasi BPJS 20 Triliun hingga Sistem IT

“Teman-teman ahli gizi menyampaikan usulan agar istilahnya diganti. Kalau mau diganti, jangan pakai embel-embel ahli gizi. Kita respon, kita bawa. Namun itu bisa menghilangkan peran profesi yang selama ini penting,” kata Cucun menegaskan klarifikasi yang ia maksud. 

Badan Gizi Nasional Tegaskan Posisi Resmi

Di tengah polemik tersebut, Badan Gizi Nasional (BGN) juga buka suara.

Kepala BGN menegaskan bahwa Pernyataan Cucun Ahmad Syamsurijal bukanlah sikap resmi lembaga tersebut.

Baca Juga: Kejagung Buka Fokus Baru: Dugaan Manipulasi Pajak Seret Pegawai DJP, Investor Pantau Langkah Pemerintah

BGN tetap menempatkan ahli gizi sebagai tenaga utama yang harus ada di setiap SPPG untuk memastikan pelaksanaan MBG berjalan sesuai standar ilmiah.

“Program ini tidak menetapkan standar menu nasional. Karena itu, setiap SPPG wajib memiliki orang yang paham gizi. Prioritas pertama tetap sarjana gizi,” ujar Kepala BGN. 

Namun, BGN mengakui adanya persoalan serius: jumlah sarjana gizi di Indonesia masih terbatas.

Produksi lulusan gizi setiap tahun belum mencukupi kebutuhan program pemerintah yang berskala nasional.

Karena itu, BGN membuka peluang bagi tenaga dari disiplin ilmu lain yang berkorelasi dengan gizi, seperti kesehatan masyarakat atau teknologi pangan, untuk mengisi kebutuhan di lapangan.

Kebutuhan Ahli Gizi Masih Mendesak

Keterbatasan tenaga ahli menjadi tantangan besar dalam implementasi MBG.

SPPG yang tersebar di banyak daerah membutuhkan pengawasan ketat terhadap menu, kandungan nutrisi, serta proses penyajian.

Tanpa tenaga yang memiliki pengetahuan memadai, risiko penyimpangan kualitas gizi sangat besar.

Sebagian pakar menilai, perdebatan ini menjadi momentum penting untuk memperkuat sistem gizi nasional.

Baca Juga: Intensifkan Penyidikan Pajak, Kejagung dan Purbaya Beberkan Tantangan Fiskal serta Dana BPJS Rp 20 Triliun

Pemerintah didorong mempercepat distribusi tenaga ahli, memperluas pendidikan gizi, dan menyiapkan regulasi yang jelas untuk mendukung program MBG.

Polemik Pernyataan Cucun Ahmad Syamsurijal juga menunjukkan bahwa isu gizi adalah urusan strategis yang tidak bisa ditangani secara sembarangan.

Kualitas gizi anak menentukan kualitas sumber daya manusia Indonesia di masa depan.

Dengan permintaan maaf yang sudah disampaikan, publik berharap perdebatan ini berujung pada penguatan program, bukan sekadar kontroversi sesaat.

Program MBG tetap menjadi salah satu prioritas pemerintah, dan keberhasilan program ini sangat bergantung pada kolaborasi antarprofesi di bidang gizi dan kesehatan masyarakat.***

Editor : Vidya Sajar Fitri
#badan gizi nasional #program Makan Bergizi Gratis #Kontroversi DPR #Cucun Ahmad Syamsuriyal #ahli gizi MBG