RADAR TULUNGAGUNG - Pemerintah Indonesia bergerak cepat menanggapi rangkaian bencana hidrometeorologi basah akibat cuaca ekstrem yang melanda Aceh, Sumatera Utara (Sumut), dan Sumatera Barat (Sumbar) sejak Senin (24/11).
Situasi ini menjadi pembahasan utama dalam Rapat Tingkat Menteri (RTM) yang digelar Kamis (27/11) secara hybrid dari Pusdalops BNPB, Jakarta Timur.
Rapat dipimpin oleh BNPB dan Kemenko PMK dengan melibatkan berbagai kementerian dan lembaga.
Menko PMK Pratikno menyampaikan arahan langsung dari Presiden Prabowo Subianto agar penanganan bencana dilakukan secara cepat, terkoordinasi, dan berfokus pada keselamatan masyarakat serta pemenuhan kebutuhan dasar hingga pemulihan pascabencana.
Dalam rapat, dijelaskan bahwa Siklon Tropis Senyar membawa hujan berintensitas sangat tinggi beberapa hari terakhir.
Dampaknya memicu banjir, banjir bandang, dan longsor, serta mengganggu transportasi, jaringan listrik, komunikasi, hingga aktivitas pelayaran.
Tim gabungan terus melakukan kaji cepat di lapangan, namun pendataan masih diperbarui akibat cuaca yang belum stabil.
Menko PMK menegaskan bahwa sebagian bantuan harus dikirim melalui jalur udara karena banyak akses darat terputus.
Melalui sambungan daring, Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto yang sedang berada di Sumut menyampaikan pembentukan Posko Darurat di Tarutung.
Dari posko ini, seluruh upaya penanganan bencana akan dilakukan dalam satu sistem komando, sesuai arahan Presiden Prabowo.
“Operasi pencarian dan penyelamatan korban tetap utama, seperti penanganan di Cilacap dan Banjarnegara,” tegas Suharyanto.
BNPB juga akan menggelar Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk menghalau awan dan meredistribusi curah hujan sebagai upaya percepatan tanggap darurat dan mitigasi susulan. ****
Editor : Dharaka R. Perdana