RADAR TULUNGAGUNG – Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan ancaman serius kepada jajaran Bea Cukai usai mencuatnya kasus 250 ton beras ilegal yang lolos masuk melalui pelabuhan Sabang dan Batam.
Dalam pernyataannya yang terekam dalam video dan kini viral di media sosial, Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa menyebut akan membekukan dan bahkan mengganti sistem Bea Cukai jika kinerja tidak segera dibenahi dan tetap mengecewakan publik.
Pernyataan tegas itu disampaikan Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa dalam sebuah rapat internal yang membahas performa instansi pengawas impor dan ekspor tersebut.
Baca Juga: Jalan Tol Prambanan-Tamanmartani Belum Dibuka saat Libur Nataru, Jalan Masih Diperbaiki
Menurutnya, kepercayaan publik terhadap Bea Cukai saat ini berada pada titik yang mengkhawatirkan, terutama setelah munculnya kasus penyelundupan beras ilegal yang lolos tanpa pengawasan.
“Saya beri waktu satu tahun untuk memperbaiki Bea Cukai. Kalau tidak bisa memperbaiki kinerjanya dan masyarakat masih tidak puas, Bea Cukai bisa dibekukan dan diganti dengan SGS seperti zaman dulu,” tegas Menkeu Purbaya dengan nada geram.
Ancaman Pembekuan Bea Cukai
Purbaya menjelaskan bahwa ancaman pembekuan bukan sekadar gertakan.
Ia mengungkapkan bahwa jika sistem pengawasan tidak dibenahi dan kebocoran masih terjadi, maka sebanyak 16.000 pegawai Bea Cukai berpotensi dirumahkan.
Langkah itu, kata dia, bukan sesuatu yang mustahil.
“Kalau kita gagal memperbaiki, nanti 16.000 pegawai Bea Cukai di rumahkan,” lanjutnya.
Ia menyebut, seluruh pegawai Bea Cukai kini memahami ancaman tersebut dan dituntut bekerja lebih profesional serta transparan dalam menjalankan tugas.
Kasus Beras Ilegal Picu Teguran Keras
Kasus masuknya 250 ton beras ilegal melalui pelabuhan Sabang dan Batam menjadi pemantik utama kemarahan Menkeu Purbaya.
Ia mempertanyakan bagaimana barang sebesar itu bisa melintas tanpa terdeteksi, padahal sistem pengawasan seharusnya berjalan ketat.
“Kalau impor ilegal masuk di pelabuhan Sabang dan Batam, itu Bea Cukai garapan gimana?” ujarnya.
Dalam rapat, ia meminta pimpinan Bea Cukai melakukan evaluasi menyeluruh dan menetapkan langkah konkret.
Baca Juga: Kompak Naik, Pertamina Kembali Lakukan Penyesuaian Harga BBM per 1 Desember, Ini Rinciannya
Menurutnya, kerusakan citra Bea Cukai bukan hanya terjadi di mata masyarakat, tetapi juga di kalangan pejabat negara.
Upaya Perbaikan dengan Teknologi AI
Menkeu Purbaya memaparkan sejumlah langkah yang tengah dilakukan untuk memperbaiki sistem pengawasan.
Salah satu upaya yang mulai diterapkan adalah penggunaan teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk meningkatkan kecepatan dan akurasi under enforcing pada titik-titik pengawasan.
“Kita sudah mulai terapkan AI di stasiun-stasiun Bea Cukai, jadi nanti pelanggaran bisa cepat terdeteksi,” jelasnya.
Dengan penerapan teknologi ini, Purbaya optimistis bahwa kinerja pengawasan dapat lebih efektif dan risiko kebocoran dapat diminimalisasi.
Optimisme Perbaikan Tahun Depan
Meski geram, Menkeu Purbaya tetap memberikan ruang perbaikan dan berharap perubahan dapat terlihat nyata pada tahun mendatang.
“Saya pikir tahun depan sudah amanlah. Artinya Bea Cukai akan bisa bekerja dengan baik dan profesional,” ucapnya.
Ia meminta publik memberi kesempatan dan menilai hasil kerja dalam satu tahun ke depan.
Komitmen Bersih-bersih dan Transparansi
Menkeu Purbaya memastikan bahwa tindakan tegas terhadap penyimpangan akan terus dilakukan.
Ia menegaskan bahwa lembaga pengawas seperti Bea Cukai harus menjadi garda terdepan dalam menjaga ekonomi nasional, bukan menjadi celah bagi mafia dan penyelundup.
Menurutnya, koridor penegakan aturan harus ditegakkan.
“Bea Cukai harus berubah. Semangat perbaikan harus menjadi komitmen, bukan slogan,” ujar Purbaya.
Video pernyataan Menkeu Purbaya kini tersebar luas dan menuai beragam tanggapan dari masyarakat.
Banyak yang mendukung langkah tegas pemerintah untuk memperbaiki sistem pengawasan impor agar kasus serupa tidak terjadi lagi.***
Editor : Vidya Sajar Fitri