Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Perkebunan Sawit Ilegal Makin Meluas, Hutan Sumatera Hilang Drastis dan Satwa Liar Kian Terdesak

Zahrotul Afkarina • Jumat, 12 Desember 2025 | 17:36 WIB
Perkebunan sawit ilegal kembali menjadi sorotan setelah berbagai kawasan hutan di Sumatera menunjukkan kerusakan masif dalam dua dekade terakhir.
Perkebunan sawit ilegal kembali menjadi sorotan setelah berbagai kawasan hutan di Sumatera menunjukkan kerusakan masif dalam dua dekade terakhir.

RADAR TULUNGAGUNG - Perkebunan sawit ilegal kembali menjadi sorotan setelah berbagai kawasan hutan di Sumatera menunjukkan kerusakan masif dalam dua dekade terakhir.

Lanskap hijau yang dahulu menjadi ciri khas hutan tropis Indonesia kini berubah menjadi hamparan kebun sawit nyaris tanpa batas.

Perubahan ini bukan sekadar isu lingkungan, melainkan ancaman serius bagi manusia, satwa liar, dan keberlanjutan ekosistem alam.

Pada banyak wilayah Sumatera, perkebunan sawit ilegal telah menggusur pepohonan rimba yang sejatinya menjadi rumah bagi gajah, harimau, dan ribuan spesies flora-fauna endemik.

Desa-desa di sekitar kawasan hutan pun kehilangan sumber air, tanah menjadi tidak subur, dan perubahan iklim mikro mulai dirasakan masyarakat.

Dampak ini menunjukkan betapa besar kerusakan ekologis akibat konversi hutan alam menjadi lahan monokultur.

Dalam berbagai laporan lingkungan, termasuk yang disampaikan National Geographic Indonesia, para ahli menegaskan bahwa perkebunan sawit ilegal sama sekali tidak bisa dianggap sebagai hutan.

Perkebunan sawit hanya memiliki satu jenis tanaman dalam jumlah besar atau monokultur yang tidak mampu menciptakan keseimbangan ekologis seperti hutan alami.

Berbeda dengan hutan yang memiliki keragaman spesies tinggi, perkebunan sawit miskin mikroorganisme dan bakteri menguntungkan yang berperan menjaga kesehatan tanah.

Perbedaan Sawit dan Hutan: Ancaman Nyata bagi Ekosistem

Secara struktur, hutan memiliki lapisan vegetasi yang kompleks dan saling mendukung, mulai dari tumbuhan bawah hingga pohon raksasa yang menopang kehidupan berbagai fauna.

Namun di perkebunan sawit, tanaman penutup tanah justru dihilangkan demi efisiensi lahan. Padahal tanaman penutup berperan penting mencegah erosi, menjaga pori tanah, dan melindungi daerah dari longsor serta banjir bandang.

Ironisnya, demi mempertahankan produktivitas, petani sawit harus menambahkan bahan kimia untuk meniru proses alami hutan dalam menjaga kesuburan tanah.

Akibatnya, hama dan gulma berevolusi menjadi lebih kebal, memaksa penggunaan zat kimia yang lebih banyak.

Siklus ini menambah kerusakan tanah dan membuat lingkungan di sekitar perkebunan semakin tidak stabil.

Tesso Nilo: Hutan Hancur, Satwa Kehilangan Rumah

Dari berbagai lokasi yang terdampak, Taman Nasional Tesso Nilo di Riau menjadi contoh nyata kehancuran hutan akibat ekspansi sawit.

Kawasan yang seharusnya menjadi rumah bagi gajah dan harimau Sumatera itu kini hanya menyisakan sedikit bagian hutan alami.

Pada Juli 2025, dilaporkan bahwa 85 persen wilayah Tesso Nilo telah berubah menjadi kebun sawit ilegal.

Gubernur Riau Abdul Wahid dan Bupati Pelalawan Zukri menyebut, sekitar 700.000 hektare lahan di kawasan tersebut telah dikonversi tanpa izin.

Foto satelit dari tahun 2009 hingga 2020 menunjukkan perubahan drastis: wilayah yang dulunya hijau kini berubah menjadi coklat, tanda deforestasi besar-besaran.

Populasi gajah Sumatera kini hanya tersisa sekitar 150 ekor, menunjukkan betapa seriusnya krisis habitat di daerah itu.

Kerinci Seblat dan Benteng Seblat: Habitat Satwa Kian Tertekan

Kerusakan serupa juga terjadi di sekitar Taman Nasional Kerinci Seblat dan hutan-hutan lain seluas lebih dari 140.000 hektare. Kawasan yang menjadi habitat harimau dan gajah Sumatera itu mulai berubah menjadi kebun sawit.

Sementara itu, di Benteng Seblat, koridor penting gajah, sekitar 40.000 hektare lahan telah dirambah menjadi perkebunan sawit ilegal.

Ketika rumah satwa hilang, konflik manusia dan satwa pun tak terhindarkan. Kepala Desa Gajah Makmur di Bengkulu, Gutomo, menyampaikan bahwa desanya pernah didatangi 17 gajah liar yang masuk ke permukiman karena kehilangan habitat.

Harimau Sumatera bahkan dilaporkan memangsa puluhan sapi dan kambing warga.

Dampak Ekologi: Menurunnya Curah Hujan dan Krisis Air Bersih

Setelah hutan dibabat, masyarakat merasakan dampak langsung perubahan iklim mikro. Desa yang dulu sejuk berubah panas bak kemarau berkepanjangan.

Intensitas hujan menurun drastis, mengakibatkan sumber air cepat kering. Gutomo mengaku bahwa jika dua hari tidak turun hujan, sumur-sumur warga langsung mengering.

Penyebabnya, sawit dikenal sebagai tanaman yang sangat boros air. Karena struktur tanah pada perkebunan monokultur kehilangan lapisan atas yang menyimpan air, sawit membutuhkan suplai air besar dari sungai, danau, atau sumber air alami.

Banjir dan Longsor: Bencana yang Bisa Dicegah

Masifnya perkebunan sawit ilegal bukan hanya menghilangkan hutan, tetapi juga fungsi ekologisnya.

Hutan sejatinya menjadi penyangga alami yang menahan air, menstabilkan tanah, dan mengatur aliran air.

Ketika hutan digantikan sawit, tanah menjadi rentan longsor dan aliran air tidak lagi terkendali. Banjir bandang pun semakin sering terjadi di Sumatera.

Perbedaan antara sawit dan hutan sangat tegas: hutan adalah sumber kehidupan, sedangkan sawit adalah komoditas. Ketika hutan hilang, manusia, satwa, dan keseimbangan alam ikut terancam.***

Editor : Vidya Sajar Fitri
#Satwa Liar Sumatera Terdesak #Kebun Sawit Sumatera #Kebun Sawit Ilegal #hutan sumatera