Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Perkebunan Sawit dan Dampaknya: Terungkap Faktor yang Memperparah Banjir Besar Sumatera 2025

Siti Fadhilah Salsabila • Jumat, 12 Desember 2025 | 18:00 WIB

Banjir besar Sumatera membuka fakta kelam: alih fungsi hutan ke perkebunan sawit memperburuk kondisi ekologi di kawasan hulu.
Banjir besar Sumatera membuka fakta kelam: alih fungsi hutan ke perkebunan sawit memperburuk kondisi ekologi di kawasan hulu.

RADAR TULUNGAGUNG – Banjir besar yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat selama lebih dari sepekan terakhir kembali membuka perdebatan tentang perkebunan sawit dan dampaknya terhadap ekosistem hutan.

Bencana yang menewaskan hampir 1.000 orang, melukai ribuan warga, dan merusak puluhan ribu bangunan ini disebut para ahli bukan sekadar akibat cuaca ekstrem, melainkan akumulasi kerusakan lingkungan yang telah berlangsung bertahun-tahun.

Para peneliti hidrologi menegaskan bahwa hujan deras yang dipicu siklon tropis Senyar memang menjadi pemicu awal, tetapi dampak banjir bandang diperparah oleh rapuhnya benteng alam di kawasan hulu.

Baca Juga: Sinyal Kuat Pembukaan CASN 2026 Makin Terang, Pemerintah Mulai Hitung Formasi dan Bocorkan Rekrutmen Awal

Alih fungsi hutan menjadi kebun sawit merupakan salah satu penyebab turunnya daya dukung lingkungan, terutama pada daerah aliran sungai yang sensitif.

Di tiga provinsi terdampak, pemerintah pernah menyampaikan bahwa laju deforestasi pada 2024–September 2025 menurun dibandingkan periode sebelumnya. Namun data tutupan lahan membuktikan bahwa penyusutan hutan tetap berlangsung.

Di Aceh, hutan menyusut dari 3,41 juta hektare menjadi 3,39 juta hektare dalam 10 tahun. Di Sumatera Barat, luas hutan turun dari 2,42 juta hektare menjadi 2,40 juta hektare.

Pada saat yang sama, Badan Pusat Statistik mencatat lonjakan signifikan jumlah perkebunan kelapa sawit di Sumatera Utara dan Sumatera Barat.

Baca Juga: Sama-Sama Pohon, Mengapa Pohon Sawit Tidak Bisa Gantikan Fungsi Hutan? Berikut Penjelasan Ilmiahnya

Konversi Hutan ke Sawit Mengubah Ekologi Secara Drastis

Lembaga Madani Berkelanjutan mengungkap bahwa ekspansi kebun sawit merupakan kontributor utama hilangnya hutan alam di Indonesia.

Secara ekologis, perkebunan sawit dan dampaknya terhadap lingkungan berbeda jauh dari hutan tropis.

Meski pohon sawit termasuk tanaman penghasil oksigen, fungsi ekologisnya tidak sebanding dengan keragaman pohon di hutan.

Kutipan Presiden Prabowo Subianto yang menyebut “sawit adalah pohon” memicu diskusi publik. Benar bahwa sawit memiliki daun, batang, dan dapat menyerap karbon.

Namun para ahli ekologi menegaskan bahwa kebun sawit tidak dapat dikategorikan sebagai hutan karena hanya terdiri dari satu jenis tanaman dalam pola monokultur.

Menurut tulisan Wong Elin yang dimuat National Geographic, keanekaragaman hayati di kebun sawit merosot tajam karena hilangnya sumber pakan, tempat tinggal, dan interaksi alami antarspesies.

Akibatnya, banyak flora dan fauna kehilangan habitat dan terancam punah. Ketika hutan benar-benar hilang, struktur ekosistem runtuh, membuat kawasan tersebut tidak lagi mampu menjadi penyangga bencana.

Dampak Sawit terhadap Hidrologi: Air Mengalir Lebih Cepat, Tanah Gampang Erosi

Pada ekosistem hutan, air hujan yang turun akan tertahan oleh kanopi, serasah, dan akar pepohonan berbagai jenis.

Baca Juga: Mobil MBG Tabrak Siswa di Cilincing Jakarta, Kapolda Metro Jaya Beri Keterangan Resmi soal Kronologi dan Penanganan Kasus

Serasah inilah yang memperlambat jatuhnya air ke permukaan tanah sehingga risiko erosi menurun.

Namun ketika hutan diganti perkebunan sawit, serasah hampir tidak terbentuk karena minimnya keragaman tanaman. Akar sawit yang dangkal tak mampu menahan air sebesar akar pepohonan hutan yang rimbun.

Akibatnya air hujan langsung menghantam permukaan tanah dengan kecepatan tinggi, memicu erosi dan memperbesar potensi longsor hingga tiga kali lipat dibanding kawasan hutan alami.

Secara fisik, tanah di kebun sawit juga lebih padat. Bobot isi tanah kebun sawit mencapai 1,34–1,42 gram/cm³, lebih tinggi dibanding tanah lempung yang hanya 0,95–1,2 gram/cm³.

Baca Juga: Gubernur Pramono Anung Pastikan Penanganan Korban Mobil MBG Tabrak Siswa dan Guru di Cilincing Jakarta, Biaya Ditanggung Pemprov DKI

Tanah yang padat membuat air sulit meresap sehingga limpasan permukaan meningkat dan memperparah banjir.

Perbedaan Kapasitas Serap Karbon

Hutan tropis mampu menyimpan 200–400 ton karbon per hektare. Sebaliknya, sawit hanya mampu menyimpan 40–80 ton per hektare.

Perbedaan kapasitas penyimpanan karbon ini membuat suhu kawasan kebun sawit lebih panas karena tidak ada kanopi rimbun yang melindungi tanah dari radiasi matahari.

Alarm Keras bagi Pemerintah

Banjir besar Sumatera menjadi peringatan bagi pemerintah untuk memperkuat tata kelola lingkungan.

Kerusakan akibat dosa ekologis, mulai deforestasi, alih fungsi hutan, hingga illegal logging, harus dihentikan. Jika tidak, kerugian ekonomi yang diprediksi mencapai Rp8,67 triliun dapat kembali berulang.

Pakar lingkungan menegaskan bahwa mitigasi bencana tidak bisa hanya mengandalkan pembangunan infrastruktur, tetapi harus berbasis pada pemulihan ekosistem hutan.

Tanpa langkah tegas, perkebunan sawit dan dampaknya akan terus meningkatkan risiko bencana hidrometeorologi di masa mendatang.***

Editor : Vidya Sajar Fitri
#Banjir besar sumatera #ekosistem rusak #perkebunan sawit #deforestasi adalah #deforestasi Sumatera #Ekosistem Hutan #alih fungsi hutan