RADAR TULUNGAGUNG - Kebakaran Pasar Induk Kramat Jati Jakarta Timur terjadi pada Senin dini hari dan menghanguskan ratusan kios pedagang buah.
Api yang berasal dari salah satu kios Pasar Induk Kramat Jati Jakarta Timur dengan cepat membesar dan merambat ke kios lain karena banyaknya material mudah terbakar di lokasi kejadian.
Peristiwa kebakaran Pasar Induk Kramat Jati Jakarta Timur ini dilaporkan terjadi sekitar pukul 00.15 WIB.
Aktivitas pasar yang beroperasi selama 24 jam membuat situasi sempat panik, terutama setelah terdengar dua kali suara ledakan dari area los pedagang buah.
Menurut pantauan di lapangan, kebakaran Pasar Induk Kramat Jati Jakarta Timur menghanguskan kios-kios di Gedung C2 yang mayoritas menjual buah-buahan.
Kobaran api terlihat membesar dengan cepat sebelum petugas pemadam kebakaran tiba di lokasi.
18 Unit Damkar Dikerahkan, Api Sempat Sulit Dipadamkan
Sebanyak 18 unit mobil pemadam kebakaran dengan 90 personel dikerahkan untuk menjinakkan api. Kepala Pelaksana BPBD DKI Jakarta, Isnawa Aji, menyebut laporan kebakaran diterima sesaat setelah tengah malam.
Petugas langsung melakukan pemadaman dan pendinginan di sejumlah titik.
Meski api utama berhasil dikendalikan, pemadaman sempat mengalami kendala.
Banyaknya bahan dagangan yang mudah terbakar seperti peti buah berbahan busa, kayu, serta material lainnya membuat api terus menyala di beberapa titik.
Petugas juga menggunakan foam khusus untuk mencegah api kembali merembet ke kios lain.
Hingga pagi hari sekitar pukul 09.00 WIB, proses pendinginan masih terus dilakukan di lokasi kebakaran.
350 Kios Buah Hangus Terbakar
Kapolres Metro Jakarta Timur Kombes Pol Alfian Nurizal memastikan tidak ada korban jiwa maupun korban luka dalam kejadian ini.
Namun, kerugian material diperkirakan cukup besar karena sekitar 350 kios pedagang buah di Gedung C2 hangus terbakar.
“Untuk korban jiwa dan luka nihil. Semua pedagang dan warga dalam kondisi selamat,” ujar Kapolres di lokasi kejadian.
Kebakaran ini juga sempat memicu kepanikan pedagang dan warga yang tengah beraktivitas di pasar.
Polisi dan petugas Damkar langsung meminta masyarakat menjauh demi keselamatan serta memperlancar proses pemadaman.
Dugaan Korsleting dan Temuan Tabung LPG
Penyebab pasti kebakaran hingga kini masih dalam penyelidikan. Dugaan awal mengarah pada korsleting listrik di salah satu kios.
Selain itu, di lokasi kebakaran ditemukan tabung LPG serta bahan kimia yang diduga ikut memicu munculnya ledakan.
Kapolres menyebut pihaknya belum bisa memastikan sumber api sebelum proses olah tempat kejadian perkara (TKP) selesai dilakukan.
“Saat ini fokus kami adalah pendinginan. Setelah itu akan dilakukan olah TKP untuk mengetahui penyebab pasti kebakaran,” jelasnya.
Petugas juga menemukan beberapa material yang menyulitkan proses pemadaman, termasuk bahan kimia yang masih harus diteliti lebih lanjut oleh tim dari Pusat Laboratorium Forensik.
Pasar Tetap Ramai Saat Kejadian
Direktur Pasar Jaya menyebut Pasar Induk Kramat Jati memang beroperasi selama 24 jam. Saat kebakaran terjadi, aktivitas jual beli masih berlangsung cukup ramai.
Bahkan, sebelum petugas Damkar tiba, pihak pengelola pasar sempat menggunakan sekitar 150 alat pemadam api ringan (APAR), namun api tetap tidak terkendali.
Beberapa saksi mata mengaku awal kebakaran ditandai dengan percikan api dari salah satu kios, disusul suara ledakan.
Warga dan pedagang sempat berupaya memadamkan api secara swadaya menggunakan alat seadanya sebelum akhirnya petugas datang.
Proses Pendinginan dan Penyelidikan Berlanjut
Hingga siang hari, petugas pemadam kebakaran masih melakukan pendinginan di sejumlah titik yang sulit dijangkau.
Polisi juga telah mengumpulkan keterangan saksi untuk kepentingan penyelidikan.
Pihak kepolisian memastikan akan segera mengungkap penyebab kebakaran setelah seluruh proses pendinginan dan olah TKP selesai dilakukan.
Sementara itu, area pasar yang terdampak masih ditutup sementara demi keamanan.
Kebakaran Pasar Induk Keramat Jati Jakarta Timur ini menjadi peringatan penting terkait pengawasan instalasi listrik dan penyimpanan bahan berbahaya di kawasan pasar tradisional yang padat aktivitas. ****
Editor : Dharaka R. Perdana