RADAR TULUNGAGUNG – Daerah tujuan wisata masih menjadi pilihan utama masyarakat dalam melakukan perjalanan pada masa libur Nataru kali ini.
Kementerian Perhubungan memprediksi lonjakan mobilitas masyarakat akan terpusat di sejumlah kota dan kabupaten dengan karakter wisata budaya, alam, hingga rekreasi keluarga.
Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi mengungkapkan, berdasarkan hasil survei potensi pergerakan yang dilakukan Badan Kebijakan Transportasi (BKT) Kemenhub, Yogyakarta menjadi destinasi perjalanan favorit nasional dengan proyeksi 5,15 juta pergerakan selama periode Nataru.
Menyusul Yogyakarta, daerah tujuan favorit lainnya yakni Kabupaten Bandung, Kabupaten Malang, Kabupaten Bogor, dan Kota Denpasar.
“Kelima daerah ini merupakan pusat wisata budaya, alam, dan rekreasi keluarga yang diprediksi menjadi magnet utama mobilitas masyarakat saat libur akhir tahun,” kata Menhub Dudy.
Hasil survei tersebut menunjukkan bahwa minat berwisata dan berkegiatan bersama keluarga menjadi pendorong utama orientasi perjalanan masyarakat pada Nataru 2025/2026.
Momentum libur panjang sekolah yang berbarengan dengan perayaan Natal dan Tahun Baru turut memperkuat tingginya mobilitas ini.
Selain kota dan kabupaten tujuan wisata, data BKT Kemenhub juga memperlihatkan dominasi perjalanan menuju provinsi-provinsi di Pulau Jawa.
Jawa Tengah diprediksi menjadi provinsi tujuan terbesar dengan 20,23 juta pergerakan. Posisi berikutnya ditempati Jawa Timur dengan 16,83 juta pergerakan, disusul Jawa Barat sebanyak 16,61 juta pergerakan.
Di luar Pulau Jawa, sejumlah daerah juga mencatat peningkatan signifikan minat perjalanan, antara lain Sulawesi Selatan, Sumatera Utara, Bali, Nusa Tenggara Timur, serta Lampung.
Sementara dari sisi daerah asal perjalanan, Jakarta Timur tercatat sebagai wilayah keberangkatan terbesar, disusul Kabupaten Bekasi dan Kota Makassar.
Secara nasional, sebanyak 119,5 juta masyarakat Indonesia atau sekitar 42,01 persen dari total penduduk diprediksi akan melakukan perjalanan selama periode Nataru tahun ini.
Dari sisi moda transportasi, mobil pribadi masih menjadi pilihan utama masyarakat dengan porsi 42,78 persen atau sekitar 51,12 juta orang.
Pilihan berikutnya yakni sepeda motor, bus, mobil sewa, travel, moda udara, serta kereta api. Dominasi moda darat ini diperkirakan akan meningkatkan tekanan pada simpul-simpul transportasi dan ruas jalan utama.
Kepadatan lalu lintas berpotensi terjadi di sejumlah ruas tol strategis, seperti Jakarta–Cikampek, Jakarta–Bogor–Ciawi, Semarang–Solo, serta Cikampek–Palimanan.
Untuk itu, pemerintah menyiapkan berbagai skema rekayasa lalu lintas yang akan diterapkan di titik-titik rawan kemacetan.
Adapun puncak arus mudik Nataru diperkirakan terjadi pada Rabu, 24 Desember 2025, dengan proyeksi 17,18 juta perjalanan.
Baca Juga: Pemerintah Siapkan Puluhan Ribu Kuota Mudik Gratis Nataru, Bisa Daftar Melalui Website Resmi
Sementara puncak arus balik diprediksi berlangsung pada Jumat, 2 Januari 2026, dengan jumlah perjalanan mencapai 20,81 juta.
“Tanggal puncak ini menjadi dasar pengaturan operasional terminal, stasiun, bandara, dan pelabuhan,” ujar Menhub.
Menghadapi potensi cuaca ekstrem pada akhir tahun, Menhub Dudy menekankan pentingnya mitigasi lintas sektor.
Risiko hujan dengan intensitas tinggi, angin kencang, hingga gelombang laut berpotensi memengaruhi keselamatan transportasi udara, laut, dan darat.
“Karena itu, koordinasi dengan BMKG dan Basarnas dilakukan secara real time, termasuk kesiapan personel dan peralatan pada titik rawan bencana,” jelasnya.
Kesiapsiagaan juga dilakukan melalui penyiagaan kapal navigasi dan kapal patroli, optimalisasi jam operasional bandara, penguatan pengawasan moda kereta api melalui Daerah Pantauan Khusus (DAPSUS), penyediaan Alat Material Untuk Siaga (AMUS), serta penambahan petugas di perlintasan sebidang.
Selain itu, fenomena lokal seperti pasar tumpah, kawasan wisata padat pengunjung, dan perlintasan rawan akan dikelola melalui koordinasi intensif dengan pemerintah daerah dan seluruh Unit Pelaksana Teknis (UPT), guna memastikan kelancaran dan keselamatan perjalanan masyarakat selama libur Nataru. ****
Editor : Dharaka R. Perdana