RADAR TULUNGAGUNG – Malam pergantian tahun atau malam tahun baru kerap identik dengan turunnya hujan deras di berbagai daerah.
Fenomena ini bukan sekadar kebetulan, melainkan berkaitan erat dengan kondisi klimatologis yang memang sedang berada pada puncak musim hujan.
Secara umum, akhir Desember hingga awal Januari merupakan periode puncak musim hujan di Indonesia.
Pada fase ini, intensitas hujan cenderung meningkat dengan durasi yang lebih lama, bahkan berpotensi terjadi hujan lebat hingga ekstrem. Tak heran jika momen malam tahun baru sering diwarnai guyuran hujan.
Selain faktor musim, aktivitas atmosfer juga turut berperan. Angin monsun Asia membawa massa udara basah ke wilayah Indonesia, termasuk Jawa Timur.
Kondisi tersebut diperkuat oleh dinamika atmosfer lain seperti gelombang cuaca dan pertumbuhan awan hujan yang biasanya aktif pada sore hingga malam hari.
Pola hujan yang kerap memuncak pada malam hari semakin menguatkan kesan bahwa hujan “selalu datang” saat pergantian tahun.
Apalagi, hujan yang turun di momen spesial seperti malam tahun baru cenderung lebih diingat masyarakat karena dapat memengaruhi rencana perayaan di luar ruangan.
Meski demikian, tidak setiap malam tahun baru pasti diguyur hujan. Namun secara klimatologis, peluang terjadinya hujan memang lebih besar karena bertepatan dengan puncak musim hujan.
Masyarakat diimbau tetap waspada terhadap potensi cuaca basah saat merayakan pergantian tahun, termasuk kemungkinan hujan lebat yang disertai angin kencang.
Kewaspadaan dan kesiapan sejak dini diharapkan dapat meminimalkan risiko gangguan aktivitas maupun kejadian yang tidak diinginkan, sehingga perayaan tahun baru tetap berlangsung aman dan nyaman.
Ramalan Cuaca BMKG
Berdasarkan hasil pengamatan BMKG, pada periode 26–29 Desember 2025 telah terjadi hujan dengan intensitas lebat hingga ekstrem di berbagai daerah.
Curah hujan ekstrem tercatat di wilayah D.I. Yogyakarta dengan intensitas mencapai 172,2 mm per hari.
Sementara hujan lebat juga teramati di Kalimantan Selatan sebesar 84,4 mm per hari, Kalimantan Barat 62,9 mm per hari, Sumatera Utara 77,0 mm per hari, Sulawesi Selatan 90,2 mm per hari, serta Bali 85,3 mm per hari.
BMKG juga melaporkan, pada Senin (29/12/2025) pukul 01.00 WIB, bibit siklon tropis 96S yang terpantau di Samudera Hindia selatan Pulau Sumba, Nusa Tenggara Timur (NTT), mengalami peningkatan intensitas dan berkembang menjadi Siklon Tropis HAYLEY.
Siklon tersebut bergerak ke arah selatan dengan kecepatan angin maksimum mencapai 45 knot dan tekanan udara minimum 990 hPa.
Keberadaan Siklon Tropis HAYLEY diprakirakan memberikan dampak tidak langsung berupa peningkatan potensi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat di wilayah Bali, NTT, dan Nusa Tenggara Barat (NTB).
Selain itu, masyarakat di wilayah NTT dan NTB juga diminta waspada terhadap potensi angin kencang.
Tak hanya dipengaruhi siklon tropis, BMKG menyebut kondisi dinamika atmosfer skala regional hingga global turut berperan dalam meningkatnya kejadian hujan di Indonesia dalam beberapa hari terakhir.
Dalam prakiraan sepekan ke depan, BMKG menyampaikan bahwa dinamika atmosfer global, regional, hingga lokal masih akan berpengaruh signifikan terhadap cuaca di Indonesia.
Pada skala global, fenomena El Niño–Southern Oscillation (ENSO) terpantau menguat pada fase negatif atau La Niña lemah. Kondisi ini berpotensi mendukung peningkatan aktivitas konveksi dan pembentukan awan hujan.
Sementara pada skala regional, seruakan udara dingin atau cold surge dari Asia menuju wilayah Indonesia diprakirakan akan menguat dalam beberapa hari ke depan.
Kombinasi faktor tersebut berpotensi memicu peningkatan curah hujan di sebagian besar wilayah Tanah Air. ****
Editor : Dharaka R. Perdana