Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Fenomena Sinkhole di Kabupaten 50 Kota Jadi Sorotan, Tim Badan Geologi Turun Tangan

Natasha Eka Safrina • Minggu, 11 Januari 2026 | 21:19 WIB

Fenomena sinkhole di Kabupaten 50 Kota Sumatera Barat dikaji Badan Geologi ESDM. Warga diimbau waspada potensi amblesan susulan.
Fenomena sinkhole di Kabupaten 50 Kota Sumatera Barat dikaji Badan Geologi ESDM. Warga diimbau waspada potensi amblesan susulan.

JAKARTA – Fenomena munculnya sinkhole atau tanah berlubang di area persawahan Nagari Situjuah Batua, Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat, menjadi sorotan warga dan pemerintah. Hingga kini, penyebab kemunculan lubang besar tersebut masih menjadi misteri dan tengah dikaji oleh tim Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).

Kementerian ESDM telah menurunkan tim ahli dari Badan Geologi Bandung untuk melakukan kajian awal terhadap fenomena yang dikenal warga setempat sebagai Singho. Pemeriksaan difokuskan pada pengumpulan data kondisi tanah, air, serta karakteristik geologi di lokasi kejadian.

“Kami melakukan kajian cepat terlebih dahulu. Data akan kami bawa ke Bandung untuk dianalisis lebih lanjut. Saat ini pemeriksaan masih bersifat awal dan belum dilakukan secara menyeluruh,” ujar salah satu anggota tim Badan Geologi di lokasi.

Baca Juga: Gubernur Khofifah Instruksikan Normalisasi Kanal 9 Km, Solusi Jangka Panjang Atasi Banjir Lamongan

Muncul Tiba-tiba Disertai Suara Gemuruh

Fenomena sinkhole tersebut pertama kali muncul pada Minggu, 4 Januari 2026, di persawahan Jorong Tepi, Nagari Situjuah Batua. Warga setempat mengaku mendengar suara gemuruh sebelum akhirnya muncul lubang besar di tengah area sawah yang selama ini menjadi sumber mata pencaharian petani.

Sejak kemunculannya, lokasi sinkhole justru menjadi objek wisata dadakan. Setiap hari, warga dari berbagai daerah datang untuk melihat langsung fenomena alam tersebut. Banyak pengunjung mengabadikan momen menggunakan ponsel, bahkan sebagian warga terlihat mengambil air dari dalam lubang dengan keyakinan memiliki khasiat tertentu.

Namun, ramainya kunjungan ini berdampak pada aktivitas pertanian. Petani setempat mengaku tidak bisa mengolah sawah dan terpaksa menghentikan aktivitas panen demi alasan keselamatan.

Baca Juga: Panji Pragi Waksono Dilaporkan ke Polda Metro Jaya, Stand Up Komedi Mensrea Diproses Polisi

“Bagi kami para petani, ini sangat berdampak. Kami tidak bisa bercocok tanam dan tidak bisa panen,” ungkap salah satu perangkat nagari.

Pengawasan Diperketat

Perangkat Nagari bersama aparat keamanan terus melakukan pengawasan di sekitar lokasi untuk mencegah terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan. Warga diimbau agar tidak mendekati area sinkhole karena dikhawatirkan dapat semakin melebar dan membahayakan keselamatan.

Tim Badan Geologi menyebut bahwa fenomena sinkhole merupakan kejadian yang lazim di Indonesia, khususnya di wilayah dengan bentang alam karst. Namun, potensi bahayanya meningkat jika muncul di area permukiman atau lahan produktif.

Baca Juga: Gunung Semeru Erupsi, Banjir Bandang hingga Longsor Terjang Indonesia: Warga Diminta Waspada Cuaca Ekstrem

Penjelasan Pakar Geologi

Pakar Geologi Lingkungan dan Kebencanaan Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. Dwi Korita Karnawati, menjelaskan bahwa sinkhole umumnya terbentuk di wilayah karst, yakni daerah dengan lapisan batu gamping atau batu kapur yang tebal.

“Di bawah bentang alam karst biasanya terdapat sungai bawah tanah. Lubang seperti corong yang menjadi pintu masuk air ke sungai bawah tanah inilah yang dikenal sebagai sinkhole,” jelas Prof. Dwi Korita.

Menurutnya, sinkhole sering kali tidak terdeteksi karena tertutup sedimen tanah halus. Kondisi ini menjadi sangat berbahaya apabila di atasnya terdapat aktivitas manusia, seperti persawahan, permukiman, bahkan jalan raya.

Baca Juga: Senyum Tukang Becak Trenggalek Pecah, Presiden Prabowo Salurkan 200 Becak Listrik Gratis untuk Lansia

“Yang berbahaya adalah ketika lubang itu tertutup tanah tipis. Saat beban di atasnya bertambah, tanah bisa ambles secara tiba-tiba,” tambahnya.

Potensi Amblesan Susulan

Prof. Dwi Korita mengingatkan bahwa sinkhole berpotensi terus melebar atau bahkan muncul di titik lain dalam radius tertentu. Hal ini disebabkan oleh proses pelarutan batu kapur yang terjadi secara luas di bawah permukaan tanah.

“Jika itu benar bagian dari sistem sungai bawah tanah, lubangnya bisa sangat dalam, bahkan mencapai puluhan hingga ratusan meter. Karena itu masyarakat sebaiknya tidak mendekat,” tegasnya.

Baca Juga: Pidato Megawati Disorot di Rakernas PDIP: Singgung Politik Global, Krisis Lingkungan, hingga Solidaritas Manusia

Ia juga menyoroti potensi pencemaran air, terutama karena lokasi sinkhole berada di area persawahan. Penggunaan pupuk kimia yang berlebihan dikhawatirkan dapat mencemari air bawah tanah.

Perlu Kajian Mendalam

Untuk memastikan penyebab dan tingkat bahaya, Badan Geologi diperkirakan akan melakukan penelitian lanjutan menggunakan metode geofisika guna memetakan kondisi rongga di bawah tanah. Proses kajian ini dapat berlangsung beberapa hari hingga satu minggu, tergantung kompleksitas kondisi geologi.

Jika nantinya dinyatakan aman, sinkhole berpotensi dijadikan kawasan konservasi atau wisata geologi dengan pengamanan ketat. Namun untuk saat ini, keselamatan warga menjadi prioritas utama.

Baca Juga: Rakernas PDIP 2026 Hari Kedua di Ancol: Bahas Pilkada 2029, Isu Geopolitik, hingga Peluncuran Buku Megawati

“Fenomena alam seperti ini bisa menjadi warisan geologi yang langka. Tapi sebelum itu, harus dipastikan aman dan tidak membahayakan,” pungkas Prof. Dwi Korita.


Meta Description (140 karakter)

Fenomena sinkhole di Kabupaten 50 Kota Sumatera Barat dikaji Badan Geologi ESDM. Warga diimbau waspada potensi amblesan susulan.

Editor : Natasha Eka Safrina
#sinkhole