RADAR TULUNGAGUNG- Kapal Laksamana Malahayati kembali menunjukkan peran strategisnya dalam misi kemanusiaan.
Kapal bantuan yang digagas PDI Perjuangan itu dikerahkan langsung ke wilayah terdampak banjir bandang di Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara.
Fokus utama bantuan bukan hanya pengobatan, tetapi juga penyediaan air bersih, penerangan, serta pemulihan lingkungan warga.
Sejak hari pertama bencana, tim relawan bergerak paralel di berbagai titik terisolasi.
Sejumlah wilayah bahkan hanya bisa dijangkau dengan berjalan kaki berjam-jam, menyusuri sungai, hingga menggunakan perahu kecil.
Kapal Laksamana Malahayati menjadi pusat koordinasi logistik, layanan kesehatan, sekaligus harapan bagi warga yang selama berhari-hari hidup dalam keterbatasan.
Air Bersih dan Penerangan Jadi Prioritas
Salah satu kebutuhan paling mendesak pascabencana adalah air bersih.
Tim relawan bersama Baguna PDI Perjuangan membangun sistem pengolahan air darurat.
Bahkan, pengambilan air dilakukan hingga jarak lebih dari tiga kilometer demi memastikan warga tetap memiliki akses air minum layak.
Selain air bersih, penerangan malam hari juga menjadi fokus.
Kondisi medan yang rawan longsor dan banjir susulan membuat jalur evakuasi harus diterangi.
Lampu darurat dan jalur penyelamatan dipasang untuk meminimalkan risiko korban saat malam tiba.
“Kami tidak hanya memastikan warga bisa makan, tapi juga aman saat beristirahat. Malam hari rawan terjadi galodo, air bercampur lumpur dan batu bisa turun sewaktu-waktu,” ujar Tri Rismaharini dalam pemaparannya.
Relawan dengan Keahlian Lengkap
Keunggulan misi kemanusiaan ini terletak pada kelengkapan sumber daya manusia.
Di dalam tim Baguna terdapat tukang batu, tukang listrik, hingga teknisi air.
Mereka terlibat langsung membersihkan lumpur, memperbaiki jaringan listrik darurat, hingga menahan aliran sungai agar rumah warga tidak semakin tergerus.
Alat berat pun disewa di sejumlah titik dengan biaya tinggi, mencapai ratusan ribu rupiah per jam.
Namun langkah ini dinilai krusial agar rumah warga bisa segera dibersihkan dan kembali dihuni.
Kini, keluhan warga mulai bergeser ke persoalan air sawah.
Tim relawan kembali bergerak membantu aliran irigasi agar aktivitas pertanian bisa pulih secara bertahap.
Layanan Kesehatan untuk Ribuan Warga
Dari sisi kesehatan, Kapal Laksamana Malahayati menjadi rumah sakit berjalan.
Lebih dari 800 warga, mulai dari lansia hingga anak-anak, menjalani pemeriksaan dan pengobatan gratis setiap harinya.
Penyakit yang dominan muncul antara lain gatal-gatal, diare, tekanan darah tinggi, gangguan mata, serta ISPA akibat debu pascabanjir.
Dokter Michel dari tim medis menyebut bayi dan balita menjadi kelompok paling rentan.
Banyak kasus ISPA, gizi kurang, serta diare ditemukan di pengungsian.
Tim medis merekomendasikan tambahan obat batuk-pilek, vitamin anak, hingga makanan tambahan.
Masalah lain yang mencuat adalah ketersediaan susu bayi usia 0–6 bulan.
Tidak semua ibu menyusui, sehingga saat banjir datang mereka kesulitan mendapatkan susu.
Tim relawan mencatat kebutuhan susu formula, MPASI, suplemen ibu hamil, serta popok bayi sebagai prioritas lanjutan.
Kapal Kemanusiaan dan Edukasi Sejarah
Menariknya, kehadiran Kapal Laksamana Malahayati juga menjadi sarana edukasi.
Ratusan siswa dijadwalkan mengunjungi kapal untuk berobat sekaligus mengenal sosok Laksamana Malahayati, pahlawan perempuan Aceh yang namanya diabadikan sebagai kapal kemanusiaan.
Nama kapal ini dipilih sebagai bentuk penghormatan terhadap Laksamana Malahayati, perempuan pejuang yang memimpin armada laut dan terjun langsung ke medan tempur.
Semangat itulah yang kini dihidupkan kembali dalam misi kemanusiaan lintas daerah.
Setelah menyelesaikan tugas di Aceh, kapal dijadwalkan melanjutkan misi ke Sabang dan wilayah Tapanuli.
Relawan memastikan koordinasi terus berjalan agar bantuan tidak terputus.
“Dalam penanganan bencana, yang paling penting adalah kecepatan. Apa pun yang kurang harus segera disampaikan agar bisa langsung dikirim,” tegas Risma.***