JAKARTA - Pergerakan IHSG hari ini kembali menjadi perhatian pelaku pasar setelah mengalami fluktuasi tajam dalam beberapa hari terakhir. Meski pada pembukaan perdagangan terbaru indeks menguat 0,69 persen ke level 8.940, volatilitas masih membayangi pasar modal Indonesia, terutama akibat aksi profit taking di saham-saham konglomerasi.
Sehari sebelumnya, IHSG sempat melemah cukup dalam hingga menyentuh level 8.700-an pada sesi kedua perdagangan. Kendati akhirnya ditutup turun terbatas sekitar 0,58 persen di kisaran 8.800, tekanan jual terlihat signifikan pada saham-saham tertentu, khususnya yang tergabung dalam grup konglomerasi besar.
CEO Visor Indonesia, Praska Putranto, menilai pergerakan IHSG hari ini dan beberapa hari terakhir tidak bisa dilepaskan dari aksi ambil untung investor setelah reli panjang. Menurutnya, secara tren jangka menengah hingga panjang, IHSG masih berada dalam fase naik, namun terdapat sinyal teknikal yang patut dicermati.
Aksi Profit Taking Tekan Saham Konglomerasi
Praska menjelaskan bahwa pelemahan tajam IHSG pada sesi kedua perdagangan sebelumnya dipicu oleh tekanan di saham-saham barang baku dan infrastruktur, terutama yang terkait dengan grup Prajogo Pangestu. Saham seperti PTRO dan beberapa emiten afiliasi tercatat terkoreksi lebih dari 5 persen dalam satu hari.
Ia menyebut pergerakan IHSG saat itu menyerupai fenomena flash crash yang sejalan dengan koreksi tajam pada saham PTRO. Menariknya, tekanan tersebut terjadi meski secara data asing masih mencatatkan net buy sekitar Rp250 miliar dalam perdagangan harian, dan lebih dari Rp2,7 triliun secara kumulatif di pasar reguler.
“Ini menunjukkan bahwa tekanan lebih banyak berasal dari aksi profit taking investor yang sudah menikmati kenaikan signifikan sebelumnya,” ujarnya.
Divergensi Negatif Jadi Alarm Pasar
Selain faktor ambil untung, Praska menyoroti adanya divergensi negatif antara pergerakan IHSG dan indikator aliran dana atau money flow index. Dalam beberapa bulan terakhir, indikator tersebut cenderung menurun, sementara IHSG justru terus mencetak rekor dari level 7.600 hingga sempat menyentuh 9.000.
Kondisi ini, menurutnya, menandakan bahwa kenaikan indeks tidak sepenuhnya didukung oleh arus dana yang kuat, sehingga koreksi menjadi hal yang wajar. “Secara teknikal, pasar memang membutuhkan penyesuaian,” jelas Praska.
Isu Perubahan Perhitungan MSCI Tambah Tekanan
Faktor lain yang turut membayangi IHSG hari ini adalah rencana perubahan metodologi perhitungan indeks MSCI. Isu terkait pengecualian kepemilikan korporasi dan waran/script dalam perhitungan free float berpotensi mendorong penyesuaian portofolio investor institusi global.Baca Juga: Transfer Terpanas BRI Super League Putaran Kedua 2025–2026: Semen Padang Lepas Steward, Arema Incar Gabriel Silva, Persib Bidik Bek Timnas
Jika kebijakan ini diterapkan, exposure dana asing ke MSCI Indonesia bisa berkurang secara bertahap. Dampaknya diperkirakan tidak hanya dirasakan saham perbankan besar, tetapi juga saham-saham big caps lain seperti Telkom dan Astra.
“Tekanannya mungkin bertahap dan tidak langsung besar, tapi tetap harus diantisipasi pasar,” kata Praska.
Valuasi Mulai Menarik, Tapi Masih Waspada
Untuk saham-saham konglomerasi di sektor migas, energi, dan logam mineral, Praska menilai sebagian sudah memasuki tren koreksi jangka pendek hingga menengah setelah mencetak harga tertinggi. Secara teknikal, beberapa saham bahkan sudah bergerak di bawah rata-rata pergerakan 20 dan 50 hari.
Sementara itu, saham-saham dari grup konglomerasi lain seperti Hapsoro dinilai baru mulai mengalami koreksi setelah mencapai puncaknya. Kondisi ini membuka peluang valuasi menarik, namun investor tetap disarankan selektif dan memperhatikan manajemen risiko.
Sentimen Geopolitik Masih Minor
Dari sisi global, ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Venezuela dinilai masih berdampak terbatas terhadap IHSG hari ini. Menurut Praska, pasar lebih fokus pada pergerakan harga minyak mentah sebagai imbas dari konflik tersebut.
Selama lonjakan harga komoditas belum signifikan, sentimen geopolitik ini diperkirakan hanya memberikan efek sementara. Apalagi, kontribusi ekspor Venezuela terhadap pasar global relatif kecil.
IHSG Dibuka Menguat, Bursa Asia Hijau
Pada pembukaan perdagangan pagi ini, IHSG bergerak menguat didorong sektor industri dasar, energi siklikal, dan perbankan. Saham-saham top gainers di antaranya MSKY, GWSA, dan APLN, sementara tekanan terjadi pada NATO, HATM, dan GRIA.
Sentimen positif juga datang dari bursa Asia, di mana Nikkei melonjak 3,2 persen, Hang Seng menguat 1,3 persen, dan Kospi naik hampir 1 persen, memberikan dorongan tambahan bagi pergerakan pasar domestik.
Editor : Natasha Eka Safrina