Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Harga Emas Diprediksi Menguat Pekan Depan, Pengamat Sebut Bisa Tembus Rp2,7 Juta per Gram

Auliya Nur'Aini Khafadzoh • Senin, 19 Januari 2026 | 10:00 WIB
Harga emas diprediksi menguat pekan depan dan berpeluang tembus Rp2,7 juta per gram dipicu tensi geopolitik dan pelemahan rupiah.(Pinterest)
Harga emas diprediksi menguat pekan depan dan berpeluang tembus Rp2,7 juta per gram dipicu tensi geopolitik dan pelemahan rupiah.(Pinterest)


JAKARTA – Harga emas diperkirakan kembali menguat dalam sepekan ke depan dan berpotensi menembus level Rp2,7 juta per gram.

Proyeksi ini dipicu oleh meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah dan Eropa, serta pengaruh data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang turut membentuk sentimen pasar global.

Pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas Ibrahim Assuaibi menyampaikan bahwa berdasarkan analisis terbarunya, harga emas logam mulia Antam masih memiliki ruang penguatan dalam waktu dekat.

Pada penutupan perdagangan Sabtu, 10 Januari 2026, harga emas Antam tercatat berada di kisaran Rp2,6 jutaan per gram.

“Hasil analisis terakhir kami menunjukkan bahwa jika terjadi penguatan lanjutan, harga emas akan bergerak di rentang Rp2,63 juta hingga maksimal Rp2,7 juta per gram,” ujar Ibrahim di Jakarta, Minggu petang.

Harga emas hari ini dan proyeksinya ke depan tidak lepas dari dinamika global yang terus memanas sejak awal 2026.

Ketidakpastian geopolitik dinilai menjadi faktor utama yang mendorong investor kembali memburu emas sebagai aset lindung nilai atau safe haven.

Geopolitik Global Jadi Pendorong Utama

Ibrahim menjelaskan, kenaikan harga emas dunia pada awal tahun ini terjadi seiring meningkatnya konflik geopolitik di berbagai kawasan.

Salah satu isu yang menjadi sorotan pasar adalah ketegangan yang melibatkan Amerika Serikat dan Venezuela.

Disebutkan, penangkapan Presiden Venezuela beserta istrinya oleh otoritas Amerika Serikat terkait isu narkotika dan penguasaan minyak bumi telah memicu kegelisahan pasar global.

Kondisi tersebut memperkuat persepsi risiko dan mendorong aliran dana ke aset aman seperti emas.
Selain itu, situasi di Timur Tengah juga dinilai semakin memanas.

Di Iran, gelombang demonstrasi besar akibat inflasi tinggi dan pelemahan mata uang dilaporkan menewaskan ratusan warga.

Ketegangan kian meningkat setelah muncul ancaman Amerika Serikat yang disebut-sebut siap melakukan serangan ke Iran.

“Ketidakstabilan di Iran ini menjadi perhatian serius pasar karena dampaknya bisa meluas ke kawasan lain,” jelas Ibrahim.

Konflik Eropa Perparah Ketidakpastian

Tak hanya Timur Tengah, ketegangan di Eropa turut memperkuat sentimen positif terhadap emas. Ibrahim menyoroti insiden serangan drone ke rumah dinas Presiden Rusia Vladimir Putin yang diduga dilakukan oleh pihak Ukraina.

Peristiwa tersebut disebut telah merusak gencatan senjata dan memicu serangan balasan dari Rusia ke Ukraina.

Situasi ini menambah daftar konflik global yang berpotensi melibatkan lebih banyak negara besar. “Pasar khawatir konflik ini bisa melebar, termasuk kemungkinan keterlibatan Amerika Serikat, bahkan merembet ke Rusia, Tiongkok, hingga Korea Utara,” katanya.

Ketidakpastian geopolitik berskala global inilah yang dinilai menjadi katalis utama penguatan harga emas, meskipun dari sisi data ekonomi Amerika Serikat menunjukkan sinyal yang relatif stabil.

Data AS dan Pelemahan Rupiah

Dari sisi ekonomi makro, data ketenagakerjaan Amerika Serikat memang menunjukkan kenaikan, meski tidak setinggi ekspektasi pasar.

Penambahan tenaga kerja yang tercatat sekitar 50 ribu orang masih mengindikasikan bahwa bank sentral AS atau The Fed berpotensi mempertahankan suku bunga acuannya pada Januari 2026.

Namun demikian, Ibrahim menilai faktor geopolitik jauh lebih dominan dibandingkan data ekonomi dalam mendorong harga emas saat ini.

Di sisi lain, nilai tukar rupiah juga diperkirakan masih berada di bawah tekanan.

“Ada kemungkinan rupiah melemah ke level Rp16.900 per dolar AS. Jika itu terjadi, wajar apabila harga emas logam mulia kembali ke Rp2,6 juta bahkan Rp2,7 juta per gram,” ujarnya.

Baca Juga: Rahasia Weton Pon Pembawa Rezeki Turunan, Disebut Paku Bumi Keluarga yang Mampu Memutus Rantai Kemiskinan Hingga Tujuh Generasi

Investor Diminta Cermat

Dengan kombinasi tekanan geopolitik dan pelemahan rupiah, harga emas diperkirakan tetap bergerak fluktuatif namun cenderung menguat dalam jangka pendek.

Investor disarankan untuk terus mencermati perkembangan global sebelum mengambil keputusan investasi.

Bagi investor jangka panjang, kondisi ini dinilai masih memberikan peluang. Namun, perencanaan matang dan manajemen risiko tetap menjadi kunci agar tidak salah langkah di tengah volatilitas pasar.

Editor : Auliya Nur'Aini Khafadzoh
#emas antam #prediksi harga emas #investasi emas #harga emas hari ini