Kunjungan tersebut dilakukan setelah Danantara melayangkan komplain keras terkait aplikasi Kortex pajak yang disebut tidak bisa digunakan untuk memasukkan data perpajakan.
Purbaya mengaku tidak ingin hanya mendengar presentasi di atas kertas, melainkan melihat langsung bagaimana sistem itu bekerja di lapangan.
“Saya mau lihat betul-betul, ini sistemnya yang enggak jalan atau orangnya yang enggak bisa masukin data,” kata Purbaya di lokasi. Ia bahkan membawa tim IT internal serta petugas dari Kantor Pelayanan Pajak (KPP) untuk langsung membantu proses input data di tempat.
Dalam tiga paragraf awal kunjungannya, Purbaya menegaskan bahwa evaluasi aplikasi Kortex pajak harus berbasis fakta, bukan sekadar laporan sepihak. Ia ingin memastikan apakah keluhan tersebut bersifat sistemik atau hanya persoalan teknis yang bisa segera diatasi.
Baca Juga: Harga Emas Hari Ini Ditutup Turun Akhir Pekan, Antam Rp2.663.000 per Gram, Galeri 24 Melemah
Uji Langsung Tanpa Presentasi
Berbeda dari agenda formal, Purbaya menolak paparan presentasi yang telah disiapkan pihak Danantara. Ia memilih pendekatan praktis dengan meminta pengguna langsung menunjukkan bagian aplikasi yang dianggap bermasalah.
Beberapa kendala memang sempat ditemukan, terutama saat proses unggah dan pelaporan data. Namun setelah didampingi tim IT dan petugas pajak, sebagian besar masalah dapat diselesaikan di tempat. Bahkan, sejumlah data yang sebelumnya disebut “macet” ternyata bisa diproses setelah penyesuaian teknis.
“Hampir semua problem sudah bisa diatasi. Tinggal minor-minor saja, nanti software-nya kita adjust,” ujar Purbaya.
Masalah Minor, Sistem Tetap Berjalan
Menurut Purbaya, kendala yang tersisa bersifat minor dan tidak berdampak pada keberlangsungan layanan perpajakan. Ia memastikan aplikasi Kortex pajak tetap bisa digunakan oleh wajib pajak untuk menjalankan kewajiban mereka.
Penyesuaian lanjutan diperkirakan rampung dalam waktu satu hingga dua pekan. Perbaikan ini lebih difokuskan pada peningkatan kemudahan penggunaan, bukan perbaikan sistem inti.
“Minor tadi tidak akan membuat sistem berhenti atau wajib pajak tidak bisa bekerja. Ini lebih ke permintaan fasilitas yang lebih mudah,” jelasnya.
Baca Juga: Harga Emas Diprediksi Menguat Pekan Depan, Pengamat Sebut Bisa Tembus Rp2,7 Juta per Gram
Respons Pengguna Jadi Tolok Ukur
Purbaya mengaku menilai kinerja sistem bukan dari sudut pandangnya sebagai pembuat kebijakan, melainkan dari ekspresi dan respons pengguna saat mengoperasikan aplikasi.
“Kalau saya pakai, pasti bias. Tapi dari muka mereka waktu pakai, kelihatannya sudah cukup baik,” katanya.
Ia menyebut keluhan konsumen soal kemudahan adalah hal wajar dalam pengembangan sistem digital, terutama aplikasi berskala nasional seperti Kortex.
Keamanan Sistem Diawasi Ketat
Selain soal fungsi, Purbaya juga menyinggung aspek keamanan sistem IT pemerintah. Ia menegaskan pentingnya quality control sebelum dan sesudah peluncuran aplikasi digital.
Dengan latar belakang sebagai insinyur, Purbaya menekankan bahwa pengembangan software tidak pernah selesai dalam satu tahap. Sistem harus terus diuji, diperbaiki, dan diperkuat, termasuk dengan melibatkan ahli keamanan siber.
Ia bahkan mengaku melibatkan hacker-hacker andal asal Indonesia untuk menguji ketahanan sistem keuangan negara. Pengujian dilakukan secara berkala untuk memastikan tidak ada celah keamanan serius.
Menuju Sistem Lebih Stabil
Saat ini, implementasi aplikasi Kortex pajak disebut telah mencapai sekitar 95 persen. Dalam waktu satu bulan ke depan, sistem ditargetkan berjalan penuh dengan pengujian keamanan berlapis secara bertahap.
Purbaya optimistis, dengan perbaikan berkelanjutan dan pengawasan ketat, Kortex akan menjadi tulang punggung sistem perpajakan digital yang andal. Ia juga menegaskan bahwa kritik dari pengguna seperti Danantara menjadi bahan penting untuk penyempurnaan sistem.
“Kalau ada masalah, kita benahi. Yang penting sistemnya jalan, aman, dan membantu wajib pajak,” pungkasnya.
Editor : Fadhilah Salsa Bella