JAKARTA - Bendungan jebol menjadi salah satu bencana buatan manusia paling berbahaya yang pernah tercatat dalam sejarah. Meski dibangun dengan material kuat dan teknologi canggih, bendungan tetap memiliki batas daya tampung. Ketika batas itu terlampaui, dampaknya bisa sangat menghancurkan, mulai dari menenggelamkan desa hingga melumpuhkan kota besar dalam hitungan menit.
Kasus bendungan jebol di berbagai negara menunjukkan bahwa faktor alam seperti hujan ekstrem, gempa bumi, hingga kelalaian teknis dapat memicu kegagalan struktur bendungan. Bahkan, dalam beberapa kasus, pemerintah terpaksa mengambil langkah ekstrem dengan menjebol bendungan secara sengaja demi mencegah bencana yang lebih besar.
Berikut ini lima bendungan jebol paling dahsyat dalam sejarah dunia yang terekam dan menjadi pelajaran penting bagi pengelolaan infrastruktur air global.
Bendungan Sardoba, Uzbekistan
Bendungan Sardoba di Uzbekistan menjadi sorotan dunia setelah jebol pada Mei 2020. Bendungan ini awalnya dirancang mampu menampung air sedalam 29 meter dengan kapasitas ratusan juta meter kubik. Namun hujan deras yang mengguyur distrik sekitar selama hampir sepekan membuat volume air melampaui kapasitas maksimal.
Akibatnya, tembok barat bendungan amblas dan air meluap dengan kecepatan tinggi. Aliran air tidak hanya menghantam lahan pertanian, tetapi juga permukiman warga hingga radius sekitar 60 kilometer, bahkan mencapai wilayah Kazakhstan. Citra satelit menunjukkan area terdampak banjir mencapai 610 kilometer persegi. Pemerintah setempat mengevakuasi sedikitnya 70 ribu warga untuk menghindari korban jiwa lebih besar.
Bendungan Xe-Pian Xe-Namnoy, Laos
Bencana bendungan jebol berikutnya terjadi di Laos pada 2018. Bendungan Xe-Pian Xe-Namnoy, yang masih dalam tahap pembangunan dan bernilai sekitar Rp17 triliun, runtuh setelah diguyur hujan deras berkepanjangan. Tanpa peringatan dini, air bah dengan debit sekitar lima miliar meter kubik langsung menerjang desa-desa di sekitarnya.
Sedikitnya 11 ribu warga terdampak dan banyak di antaranya terpaksa naik ke atap rumah demi menyelamatkan diri dari arus deras. Trauma mendalam dialami para korban karena bencana datang secara tiba-tiba. Peristiwa ini tercatat sebagai salah satu bencana bendungan paling mengerikan di Asia Tenggara.
Baca Juga: Badai PHK Honorer 2026: Nasib Ribuan Tenaga Honorer Terancam Hanya Karena Administrasi BKN
Bendungan Sayano-Shushenskaya, Rusia
Berbeda dari kasus sebelumnya, bendungan jebol di Rusia pada 2009 disebabkan oleh kegagalan teknis. Bendungan Sayano-Shushenskaya, yang berfungsi sebagai pembangkit listrik tenaga air, mengalami korsleting pada mesin turbin raksasa. Ledakan hebat terjadi sekitar pukul 08.30 pagi waktu setempat.
Insiden ini menyebabkan banjir di area pembangkit dan menewaskan 74 pekerja. Selain itu, sekitar 40 ton minyak tumpah ke sungai dan mencemari aliran air hingga radius 84 kilometer. Dampak lainnya, pasokan listrik ke sejumlah kota terhenti dan aktivitas masyarakat lumpuh selama beberapa waktu.
Bendungan Wangong, China
Kasus unik terjadi pada Bendungan Wangong di China. Bendungan ini dilaporkan memiliki debit air yang jauh melebihi kapasitas normal akibat curah hujan ekstrem. Untuk mencegah bencana yang lebih dahsyat, pemerintah setempat mengambil keputusan tidak biasa: menjebol bendungan secara sengaja.
Langkah ini memaksa sekitar 30 ribu warga dievakuasi ke tempat aman. Meski menyebabkan kerugian material, kebijakan tersebut berhasil mencegah korban jiwa. Pemerintah bahkan menenggelamkan 12 kapal berisi batu besar untuk mengendalikan arah aliran air agar tidak meluas ke wilayah lain.
Bendungan Brumadinho, Brasil
Tragedi bendungan jebol paling mematikan dalam daftar ini terjadi di Brumadinho, Brasil, pada Januari 2019. Bendungan milik perusahaan tambang ini menampung limbah lumpur beracun. Saat para pekerja sedang beristirahat siang, bendungan tiba-tiba amblas dan jebol.
Lumpur cair bergerak sangat cepat, menimbun area tambang dan permukiman di sekitarnya. Sekitar 300 orang dinyatakan meninggal dunia. Selain korban jiwa, kerusakan lingkungan yang ditimbulkan sangat parah. Perusahaan pemilik bendungan diwajibkan membayar ganti rugi hingga 7 miliar dolar AS atau sekitar Rp97 triliun.
Berbagai peristiwa bendungan jebol di dunia menjadi peringatan penting akan perlunya pengawasan ketat, perawatan rutin, serta sistem peringatan dini yang andal demi melindungi keselamatan manusia.
Editor : Eka Putri Wahyuni