Siswa SD Bunuh Diri di NTT Diduga Tak Mampu Beli Buku dan Pena, Tinggalkan Surat untuk Ibu
Manda Dwi Agustin• Rabu, 4 Februari 2026 | 13:16 WIB
Siswa SD bunuh diri di NTT diduga tak mampu beli buku dan pena. Kasus memilukan ini jadi sorotan DPR dan pemerintah pusat.
RADAR TULUNGAGUNG- Kasus siswa SD bunuh diri di NTT menggemparkan publik dan memantik keprihatinan nasional.
Seorang siswa kelas 4 sekolah dasar di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), berinisial YBS, diduga mengakhiri hidupnya karena tekanan ekonomi keluarga yang tak mampu membelikan buku dan pena untuk sekolah.
Peristiwa memilukan itu terjadi pada Kamis, 29 Januari 2026. YBS ditemukan meninggal dunia di sekitar pondok milik neneknya.
Dugaan sementara, korban nekat bunuh diri setelah merasa putus asa menghadapi kondisi hidup yang dialaminya.
Kasus siswa SD bunuh diri di NTT ini kini masih dalam proses pendalaman oleh kepolisian setempat.
Menurut keterangan yang dihimpun, sebelum kejadian YBS sempat meminta uang kepada sang ibu untuk membeli buku dan pena dengan harga kurang dari Rp10 ribu.
Namun permintaan itu tak dapat dipenuhi. Ibunya, MGT, mengaku tidak memiliki uang saat itu.
Bagi keluarga mereka yang tergolong miskin, nominal tersebut bukanlah perkara mudah. Siswa SD bunuh diri di NTT ini menjadi cermin getirnya persoalan akses pendidikan bagi keluarga kurang mampu.
Latar Belakang Keluarga Korban
MGT merupakan seorang janda yang harus menafkahi lima orang anak. Ia bekerja sebagai petani sekaligus buruh serabutan untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari.
Demi mengurangi beban ekonomi, YBS selama ini tinggal bersama neneknya di sebuah pondok sederhana yang berjarak tidak terlalu jauh dari rumah sang ibu.
Pada malam sebelum kejadian, YBS diketahui menginap di rumah ibunya. Keesokan harinya, ia diantar menggunakan ojek menuju pondok neneknya.
MGT sempat memberikan pesan terakhir agar YBS rajin bersekolah dan memahami kondisi ekonomi keluarga yang serba terbatas.
Ditemukan Warga dan Masih Didalami Polisi
Seorang saksi mata yang diperiksa polisi menuturkan bahwa korban ditemukan sekitar pukul 11.00 Wita.
Saat itu saksi hendak mengikat kerbau di sekitar pondok nenek korban dan melihat YBS sudah dalam kondisi tidak bernyawa.
Kejadian tersebut kemudian dilaporkan kepada warga sekitar dan diteruskan ke pihak kepolisian.
Kasi Humas Polres Ngada, Iptu Benediktus Rpord, mengatakan dugaan awal korban meninggal akibat bunuh diri.
Namun hingga Selasa, 3 Februari 2026, aparat kepolisian masih melakukan pendalaman, termasuk memeriksa saksi-saksi dan mengamankan barang bukti berupa sepucuk surat yang ditinggalkan korban untuk ibunya.
Kasus ini menuai reaksi keras dari berbagai pihak. Wakil Ketua Komisi X DPR RI, Hadrian Irfani, menegaskan negara tidak boleh membiarkan anak-anak memikul beban hidup sendirian.
Ia menilai pemenuhan kebutuhan dasar pendidikan semestinya menjadi tanggung jawab negara sepenuhnya.
Anggota DPR RI asal NTT, Andrea Sugo Pariera, juga menyebut peristiwa tersebut sebagai tamparan keras bagi nurani masyarakat.
Ia mendesak pemerintah daerah agar serius menangani kondisi keluarga korban dan memperkuat sistem perlindungan sosial agar tragedi serupa tidak kembali terulang.
Menteri Sosial RI Saifullah Yusuf atau Gus Ipul turut menyampaikan belasungkawa mendalam atas meninggalnya YBS.
Ia meminta agar kejadian ini menjadi perhatian bersama, baik pemerintah pusat maupun daerah.
Gus Ipul menekankan pentingnya pendampingan berkelanjutan bagi keluarga miskin dan rentan, khususnya yang memiliki anak usia sekolah.
Menurutnya, negara harus hadir memastikan tidak ada anak yang putus asa hanya karena persoalan ekonomi dan kebutuhan belajar dasar.
Tragedi ini tidak hanya meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, tetapi juga menjadi pengingat keras bahwa akses pendidikan yang layak dan dukungan psikososial bagi anak-anak dari keluarga miskin masih menjadi pekerjaan rumah besar di berbagai daerah, termasuk NTT.***