Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Ancaman Sunda Megathrust di Selatan Jawa: Simulasi Ilmiah Ungkap Potensi Gempa M9 dan Tsunami 30 Meter dari Sukabumi hingga Pacitan

Anggi Septian A.P. • Jumat, 6 Februari 2026 | 01:46 WIB
Ancaman Sunda Megathrust di selatan Jawa berpotensi picu gempa M9 dan tsunami 30 meter dari Sukabumi hingga Pacitan. Simak hasil simulasi ilmiahnya.
Ancaman Sunda Megathrust di selatan Jawa berpotensi picu gempa M9 dan tsunami 30 meter dari Sukabumi hingga Pacitan. Simak hasil simulasi ilmiahnya.

JAKARTA - Ancaman Sunda Megathrust kembali menjadi sorotan setelah sejumlah riset ilmiah terbaru mengungkap potensi gempa besar berkekuatan magnitudo 8,7 hingga 9,0 yang dapat memicu tsunami setinggi 20 sampai 30 meter di sepanjang pesisir selatan Jawa.

Temuan ini bukan sekadar spekulasi, melainkan hasil simulasi berbasis data geologi yang dipublikasikan dalam berbagai jurnal internasional seperti Nature dan Springer dalam lima tahun terakhir.

Para peneliti menemukan adanya segmen patahan di bawah laut selatan Jawa yang sudah terlalu lama “terkunci”.

Kondisi ini justru dianggap berbahaya karena tekanan antar lempeng bumi terus menumpuk selama puluhan hingga ratusan tahun tanpa dilepaskan melalui gempa besar.

Zona tersebut merupakan bagian dari Sunda Megathrust, patahan raksasa sepanjang lebih dari 5.000 kilometer tempat lempeng Indo-Australia terus mendorong masuk ke bawah lempeng Eurasia.

Pergerakannya hanya beberapa sentimeter per tahun, nyaris tak terasa. Namun ketika tekanan yang tersimpan itu dilepaskan sekaligus, dampaknya bisa sangat dahsyat.

Segmen Terkunci yang Mengkhawatirkan

Dalam istilah geologi, kondisi ini disebut lock zone. Artinya dua lempeng saling menahan, tidak bergerak, tetapi energi terus tersimpan.

Para ilmuwan menyebut, segmen terkunci di selatan Jawa sudah melewati siklus normal pelepasan energi gempa.

Wilayah yang berada tepat di depan zona ini membentang dari Sukabumi selatan, Pangandaran, Cilacap, Kebumen, Yogyakarta, hingga Pacitan.

Kota-kota pesisir ini berdiri di area yang dalam simulasi ilmiah disebut sebagai titik paling terdampak jika patahan tersebut pecah.

Para peneliti menggarisbawahi, yang mengkhawatirkan bukan karena patahan ini aktif bergerak, tetapi karena terlalu lama diam.

Skenario Gempa Besar Magnitudo 9

Dalam simulasi yang dibuat para peneliti, ketika zona terkunci ini akhirnya patah, gempa yang terjadi diperkirakan mencapai magnitudo 8,7 hingga 9,0.

Guncangannya tidak seperti gempa biasa. Getaran bisa berlangsung selama 2 hingga 4 menit.

Dalam waktu kurang dari satu menit, sebagian daratan bisa terangkat, sementara bagian lain turun beberapa sentimeter secara permanen.

Jaringan listrik dan komunikasi diperkirakan lumpuh seketika.

Namun yang paling berbahaya justru bukan guncangannya.

Awal Mula Tsunami Raksasa

Ketika dasar laut terdorong naik turun dalam hitungan detik, massa air di atasnya ikut terangkat membentuk kubah raksasa yang tidak terlihat dari pantai. Inilah awal mula tsunami.

Di laut dalam, gelombang ini melaju dengan kecepatan 700 hingga 900 kilometer per jam.

Dari kejauhan, permukaan laut hanya tampak naik beberapa sentimeter. Nyaris tak terlihat.

Tetapi ketika mendekati pantai yang dangkal, energi besar itu berubah menjadi dinding air setinggi 10 hingga 20 meter.

Di beberapa kontur pantai tertentu seperti teluk sempit atau tanjung curam, ketinggiannya bisa melampaui 30 meter.

Waktu Tiba Tsunami Sangat Singkat

Simulasi menunjukkan tsunami bisa mencapai daratan hanya dalam waktu 20 sampai 30 menit setelah gempa besar terjadi.

 

Waktu ini terlalu singkat jika masyarakat menunggu peringatan panjang, tetapi cukup jika warga paham harus segera berlari ke tempat tinggi begitu gempa berhenti.

Peneliti juga mengingatkan bahwa gelombang pertama sering kali bukan yang terbesar.

Gelombang kedua atau ketiga justru lebih mematikan, datang saat banyak orang mengira bahaya sudah lewat.

Dampak ke Permukiman dan Infrastruktur

Daerah wisata dengan pantai landai seperti Pangandaran dan sebagian pesisir Cilacap disebut sebagai wilayah paling rentan.

Gelombang bisa masuk jauh ke daratan, melewati hotel, permukiman, hingga kawasan industri.

Dalam simulasi ekstrem, kilang minyak di Cilacap yang berada dekat garis pantai berpotensi terdampak serius.

Jika itu terjadi, bukan hanya kerusakan fisik yang muncul, tetapi juga gangguan distribusi energi nasional.

Pelabuhan, pembangkit listrik, dan jalur logistik di selatan Jawa juga berpotensi lumpuh, menimbulkan efek domino terhadap perekonomian nasional.

Kesiapsiagaan Jadi Kunci

Para peneliti menegaskan bahwa pembahasan Sunda Megathrust bukan untuk menakut-nakuti, melainkan meningkatkan kesiapsiagaan.

Ancaman ini adalah bagian dari mekanisme alam yang suatu saat pasti terjadi.

Yang bisa dilakukan saat ini adalah mengenali jalur evakuasi, memahami tanda bahaya, dan tidak menunggu sirene berbunyi untuk bergerak menyelamatkan diri.

Karena dalam skenario ini, keselamatan sangat ditentukan oleh keputusan yang diambil dalam menit-menit pertama setelah gempa berhenti.

Sunda Megathrust bukan mitos, bukan pula ramalan. Ia adalah realitas geologi yang diam, tetapi menyimpan energi luar biasa di bawah laut selatan Jawa.

Pertanyaannya kini bukan apakah gempa besar dan tsunami bisa terjadi, tetapi seberapa siap masyarakat pesisir selatan Jawa ketika waktunya benar-benar tiba.(*)

Editor : Anggi Septian A.P.
#megathrust #gempa pacitan