Sesar Grindulu Terungkap Lewat Riset Geofisika: Struktur Bawah Permukaan Dipetakan, Ini Fakta Potensi Gempa Pacitan

Anggi Septian A.P. • Dipublikasikan Jumat, 6 Februari 2026 | 02:01 WIB
Riset geofisika ungkap karakter Sesar Grindulu Pacitan di Tegalombo. Ini temuan struktur bawah tanah dan potensi gempa di wilayah tersebut.
Riset geofisika ungkap karakter Sesar Grindulu Pacitan di Tegalombo. Ini temuan struktur bawah tanah dan potensi gempa di wilayah tersebut.

JAKARTA - Keberadaan Sesar Grindulu Pacitan kembali menjadi perhatian setelah riset geofisika terbaru berhasil memetakan struktur bawah permukaan di Kabupaten Pacitan, Jawa Timur.

Penelitian ini mengungkap karakter sesar yang selama ini diduga berpotensi menjadi sumber gempa bumi di wilayah tersebut.

Studi dilakukan menggunakan metode magnetik untuk mengidentifikasi pola struktur geologi di bawah tanah.

HBaca Juga: Ancaman Sunda Megathrust di Selatan Jawa: Simulasi Ilmiah Ungkap Potensi Gempa M9 dan Tsunami 30 Meter dari Sukabumi hingga Pacitan

Hasilnya memberikan gambaran lebih jelas mengenai sifat Sesar Grindulu sekaligus menjadi bahan penting dalam upaya kajian potensi bencana dan pengurangan risiko bencana di Pacitan.

Penelitian mencakup area seluas 2,5 kilometer x 5 kilometer dengan total 242 titik pengukuran. Jarak antar titik dibuat rapat, sekitar 150 meter, guna menghasilkan peta anomali magnetik yang detail dan akurat.

Metode Ilmiah Memetakan Struktur Bawah Tanah

Dalam prosesnya, peneliti melakukan reduksi peta anomali medan magnet total ke bidang datar guna meminimalkan pengaruh topografi.

Selanjutnya dilakukan proses reduksi ke kutub (Reduction to Pole/RTP) untuk menghilangkan efek dipol magnetik yang bisa mengaburkan interpretasi data.

Analisis spektrum kemudian digunakan untuk memperkirakan kedalaman sumber anomali magnetik.

Dari tahapan ini, diperoleh gambaran adanya struktur bawah permukaan yang signifikan di kedalaman tertentu.

Untuk memisahkan pengaruh regional dan lokal, peneliti melakukan metode kontinuasi ke atas hingga ketinggian 400 meter.

Hasilnya menghasilkan dua peta penting, yakni peta anomali regional dan peta anomali residual.

Interpretasi dilakukan secara kualitatif dengan membandingkan peta tersebut dengan data geologi yang sudah ada.

Sementara interpretasi kuantitatif dilakukan melalui pemodelan bawah permukaan.

Tidak Ditemukan Anomali Khas Sesar Aktif

Hasil yang cukup mengejutkan dari riset ini adalah tidak ditemukannya anomali magnetik yang secara langsung menunjukkan keberadaan aktivitas khas dari Sesar Grindulu.

Peneliti menyimpulkan bahwa hal ini terjadi karena Sesar Grindulu merupakan sesar geser (strike-slip fault).

Pada jenis sesar ini, pergerakan lempeng terjadi secara horizontal atau menyamping, bukan vertikal naik turun.

Karakter ini berbeda dengan sesar naik atau sesar turun yang biasanya lebih mudah terdeteksi melalui anomali magnetik karena perubahan struktur batuan yang signifikan secara vertikal.

Dengan kata lain, meski Sesar Grindulu ada dan nyata secara geologi, jejaknya tidak terlalu terlihat dalam peta anomali magnetik karena sifat gerakannya.

Anomali Tinggi Justru Berasal dari Tubuh Intrusi

Penelitian justru menemukan adanya anomali magnetik tinggi yang dominan di wilayah tersebut.

Namun setelah dianalisis lebih lanjut, anomali itu bukan berasal dari aktivitas sesar, melainkan dari keberadaan tubuh intrusi batuan di kedalaman sekitar 700 meter.

Tubuh intrusi ini adalah massa batuan beku yang menyusup ke dalam lapisan batuan lain di masa lalu.

Material ini memiliki sifat magnetik yang kuat sehingga menghasilkan anomali yang jelas pada peta magnetik.

Temuan ini penting karena membedakan mana struktur geologi yang berkaitan dengan sesar, dan mana yang hanya fenomena batuan bawah permukaan.

Penting untuk Kajian Risiko Bencana Pacitan

Meski tidak menunjukkan anomali magnetik yang mencolok, Sesar Grindulu tetap dikategorikan sebagai struktur geologi yang berpotensi memicu gempa bumi karena sifatnya sebagai sesar geser aktif.

Informasi hasil pemodelan ini sangat penting bagi pemerintah daerah dan pihak terkait dalam menyusun peta risiko bencana yang lebih akurat di Kabupaten Pacitan, khususnya wilayah Tegalombo.

Dengan mengetahui karakter bawah permukaan secara detail, mitigasi bencana bisa disusun lebih tepat, termasuk perencanaan tata ruang, pembangunan infrastruktur, dan jalur evakuasi jika terjadi gempa.

Dasar Ilmiah untuk Mitigasi, Bukan Ketakutan

Penelitian ini menegaskan bahwa kajian geofisika seperti metode magnetik bukan untuk menimbulkan kekhawatiran, tetapi memberikan dasar ilmiah dalam memahami potensi bencana.

Sesar Grindulu mungkin tidak “terlihat” jelas dalam peta anomali magnetik, tetapi keberadaannya nyata dan tetap perlu diperhitungkan dalam kebijakan mitigasi bencana di Pacitan.

Dengan data ilmiah ini, upaya pengurangan risiko bencana dapat dilakukan lebih terarah dan berbasis bukti, bukan sekadar asumsi.(*)

Editor : Anggi Septian A.P.
sesar grindulu bmkg struktur bawah tanah gempa pacitan