JAKARTA – Pergerakan harga emas dunia kembali mencuri perhatian pelaku pasar global. Logam mulia berstatus safe haven itu melanjutkan reli penguatannya pada perdagangan Kamis pagi, 5 Februari 2026, dan sukses menembus level psikologis baru di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik serta dorongan kuat dedolarisasi global.
Berdasarkan data perdagangan internasional, harga emas spot tercatat menyentuh level 5.016,89 dolar AS per troy ounce. Angka tersebut mencerminkan kenaikan sekitar 1,1 persen dibandingkan posisi harga pada hari sebelumnya. Kenaikan ini memperpanjang tren positif emas yang sejak awal tahun terus menunjukkan performa impresif.
Bahkan pada pekan sebelumnya, harga emas dunia sempat mencetak rekor tertinggi sepanjang sejarah dengan diperdagangkan di level 5.594,82 dolar AS per troy ounce. Sementara itu, kontrak berjangka emas Amerika Serikat untuk pengiriman April 2026 juga menguat signifikan sebesar 1,8 persen ke level 5.036,8 dolar AS per troy ounce.
Harga Emas Dianggap Rapuh, Tapi Masih Didukung Fundamental
Meski kembali bergerak di zona hijau, reli harga emas kali ini memicu perdebatan di kalangan analis dan pelaku pasar. Sebagian menilai posisi harga emas saat ini sudah cukup rapuh dan rawan mengalami koreksi tajam, mengingat sejak akhir Januari 2026 emas sempat menunjukkan sinyal pelemahan.
Namun, tren penurunan tersebut justru dianggap sebagai koreksi yang wajar. Pasalnya, secara akumulatif sepanjang satu tahun terakhir, harga emas global telah melonjak lebih dari 80 persen. Dengan lonjakan sebesar itu, fase konsolidasi dinilai sebagai bagian alami dari siklus pasar.
Ketika emas kembali menguat, berbagai analisis dan proyeksi pun bermunculan. Salah satu faktor utama yang dinilai menopang reli harga emas dunia adalah menguatnya dorongan global menuju gelombang dedolarisasi.
Baca Juga: Harga Emas Antam Hari Ini Turun Lagi, Anjlok Rp17 Ribu per Gram, Buyback Ikut Melemah
Dedolarisasi BRICS Jadi Pendorong Utama
Dorongan dedolarisasi paling kuat sejauh ini datang dari negara-negara anggota BRICS yang dimotori China dan Brasil. Strategi utama yang ditempuh adalah mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS dengan cara menumpuk cadangan emas secara agresif.
Data World Gold Council (WGC) menunjukkan bank sentral negara-negara BRICS secara kolektif telah membeli sedikitnya 663 ton emas dalam sembilan bulan pertama tahun 2025. Pembelian ini terus berlanjut meski harga emas dunia berada di level tinggi.
Langkah tersebut diyakini sebagai bagian dari strategi jangka panjang BRICS untuk membangun sistem mata uang bersama yang lebih mandiri dan tidak bergantung pada dolar AS.
JP Morgan Pasang Target Tinggi Harga Emas
Optimisme terhadap prospek emas juga tercermin dalam riset terbaru JP Morgan. Bank investasi global itu memproyeksikan harga emas dunia berpotensi mencapai level 6.300 dolar AS per troy ounce pada akhir 2026.
Proyeksi tersebut didasarkan pada meningkatnya permintaan emas global, terutama dari investor institusi dan bank sentral. JP Morgan bahkan memperkirakan total pembelian emas sepanjang 2026 bisa menembus 800 ton.
Menurut JP Morgan, dalam beberapa tahun terakhir terlihat tren jelas di mana banyak bank sentral mulai mengalihkan cadangan devisanya dari dolar AS ke emas fisik. Strategi ini diambil untuk meredam risiko geopolitik, volatilitas nilai tukar, serta potensi sanksi ekonomi lintas negara.
Ancaman Perang Modal Global
Pandangan serupa juga disampaikan investor legendaris Ray Dalio. Ia menilai ancaman konflik global ke depan tidak hanya berbentuk perang fisik, tetapi juga perang finansial dan modal.
Dalio menyebut berbagai instrumen seperti tarif impor tinggi, embargo perdagangan, pembatasan akses pasar modal, hingga pemanfaatan utang sebagai senjata ekonomi telah mulai digunakan oleh negara-negara besar.
Ketegangan ini membuat emas dinilai sebagai aset paling rasional dan aman karena sifatnya yang borderless dan tidak terikat oleh sistem moneter satu negara tertentu.
Dengan dinamika global yang semakin kompleks, harga emas dunia dinilai masih memiliki ruang untuk bertahan di level tinggi. Emas kembali menemukan relevansinya sebagai pelindung nilai di tengah ketidakpastian ekonomi, geopolitik, dan arah kebijakan moneter global yang kian sulit diprediksi.
Editor : Natasha Eka Safrina