JAKARTA – Gempa Megathrust Pacitan dengan magnitudo 6,2 mengguncang Kabupaten Pacitan, Jawa Timur, pada Jumat dini hari. Meski Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memastikan gempa tersebut tidak berpotensi tsunami, karakter gempa yang terjadi di zona Megathrust selatan Jawa membuat masyarakat diminta memberi perhatian khusus.
Gempa Megathrust Pacitan terjadi sekitar pukul 00.00 WIB. BMKG mencatat gempa tersebut merupakan gempa tektonik yang berpusat di wilayah pertemuan lempeng atau zona subduksi di selatan Jawa. Getarannya dirasakan luas hingga sejumlah daerah di Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Daerah Istimewa Yogyakarta.
Pelaksana Harian Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Wijayanto, menjelaskan bahwa gempa Megathrust Pacitan berkekuatan magnitudo 6,2 tergolong sebagai gempa menengah. Meski sering disebut sebagai gempa megathrust, ia menegaskan bahwa gempa kali ini belum masuk kategori megathrust besar.
Apa yang Dimaksud Gempa Megathrust?
Wijayanto menerangkan, istilah gempa megathrust digunakan untuk gempa besar yang terjadi di zona pertemuan lempeng dengan magnitudo umumnya di atas 8. “Kalau gempa di selatan Jawa yang benar-benar kita sebut megathrust itu magnitudonya di atas 8. Bahkan berdasarkan data Pusat Studi Gempa Nasional (Pusgen) 2024, potensi maksimalnya bisa mencapai magnitudo 8,9,” jelasnya.
Sementara gempa Megathrust Pacitan kali ini terjadi di zona megathrust, namun energinya masih tergolong menengah. “Jadi zonanya memang zona megathrust, tapi gempa ini bukan megathrust besar,” kata Wijayanto.
Kenapa Getaran Terasa Sangat Luas?
BMKG mencatat gempa Megathrust Pacitan dirasakan kuat di Pacitan dan sekitarnya, seperti Trenggalek, Blitar, hingga Yogyakarta. Getaran juga dilaporkan terasa di Solo, Klaten, wilayah Jawa Tengah, Jawa Timur, bahkan hingga Cilacap, Cirebon, sebagian Jawa Barat, dan Bali.
Wijayanto menjelaskan, luasnya sebaran getaran dipengaruhi oleh kedalaman gempa dan karakter gempa di zona subduksi. “Gempa ini terjadi di zona penunjaman atau intraslab, sehingga spektrum guncangannya bisa meluas ke banyak wilayah,” ujarnya.
BMKG Pastikan Tak Berpotensi Tsunami
Meski terjadi di zona megathrust, BMKG memastikan gempa Pacitan tidak memicu tsunami. Menurut Wijayanto, tsunami di selatan Jawa umumnya dipicu oleh gempa besar dengan magnitudo di atas 7.
“Karena gempa ini magnitudonya 6,2, hasil analisis kami menunjukkan tidak ada potensi tsunami,” tegasnya. BMKG juga tidak mengeluarkan peringatan dini tsunami setelah melakukan pemodelan cepat pascagempa.
Wilayah Paling Berisiko Jika Megathrust Lepas Energi Besar
Wijayanto mengingatkan bahwa wilayah pesisir selatan Jawa tetap memiliki risiko tinggi jika suatu saat terjadi pelepasan energi besar di zona megathrust. Daerah yang perlu diwaspadai meliputi pesisir selatan Jawa Timur, Jawa Tengah, hingga Yogyakarta.
Selain potensi tsunami di wilayah pesisir, risiko kerusakan besar juga mengintai daerah padat penduduk dengan karakter tanah lunak dan bangunan yang tidak memenuhi standar tahan gempa. “Kalau guncangan kuat terjadi di daerah seperti itu, risikonya tentu jauh lebih besar,” ujarnya.
Catatan Sejarah dan Siklus Gempa
BMKG mencatat bahwa wilayah selatan Jawa memiliki sejarah gempa besar. Beberapa segmen telah mengalami pelepasan energi, seperti di Banyuwangi pada 1994 dan Pangandaran. Namun, masih ada segmen lain yang relatif lama tidak mengalami gempa besar.
“Kita tidak bisa memprediksi kapan gempa akan terjadi, tapi kita bisa memetakan daerah rawannya,” kata Wijayanto. Ia menambahkan, gempa-gempa berkekuatan sedang seperti 5 hingga 6 magnitudo diharapkan dapat melepaskan energi secara bertahap agar tidak terjadi gempa besar sekaligus.
Mitigasi dan Kesiapsiagaan Jadi Kunci
BMKG menegaskan terus memperkuat mitigasi bencana di wilayah selatan Jawa. Sistem peringatan dini gempa dan tsunami mampu menyampaikan informasi ke masyarakat dalam waktu kurang dari tiga menit setelah gempa terjadi.
Selain itu, BMKG bersama pemerintah daerah dan BPBD gencar melakukan edukasi kebencanaan, membentuk komunitas siaga tsunami, serta sosialisasi ke sekolah-sekolah dan masyarakat pesisir. “Yang paling penting adalah kesiapsiagaan. Masyarakat harus tahu apa yang harus dilakukan saat gempa dan tsunami,” pungkas Wijayanto.
Baca Juga: Heboh Klaim Gaji Pensiunan Naik 12% dan Rapel Cair Diam-diam, Ini Fakta Resmi Taspen dan Kemenkeu
Editor : Natasha Eka Safrina