PACITAN – Gempa Megathrust Pacitan yang terjadi pada Jumat dini hari menjadi perhatian nasional dan langsung menempati daftar topik terpopuler dengan ratusan ribu pencarian di mesin pencari. Hingga siang hari, isu gempa Megathrust Pacitan tercatat mencapai lebih dari 500 ribu pencarian, seiring munculnya laporan kerusakan bangunan hingga korban jiwa.
Gempa Megathrust Pacitan awalnya dilaporkan berkekuatan magnitudo 6,4 sebelum diperbarui Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjadi magnitudo 6,2. Gempa terjadi sekitar pukul 00.06 WIB dengan episenter di laut, sekitar 68 kilometer tenggara Pacitan, pada kedalaman 58 kilometer.
BMKG menyatakan gempa Megathrust Pacitan merupakan gempa tektonik menengah yang terjadi di zona subduksi atau pertemuan lempeng di selatan Pulau Jawa. Meski berjenis megathrust, BMKG memastikan gempa ini tidak berpotensi menimbulkan tsunami.
BMKG: Gempa Megathrust Tapi Tidak Picu Tsunami
Pelaksana Harian Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Wijayanto, menjelaskan bahwa gempa Megathrust Pacitan terjadi di zona subduksi aktif, namun energinya masih tergolong menengah. “Kita patut bersyukur karena magnitudonya enam koma. Dari hasil pemodelan, gempa ini tidak memicu potensi tsunami,” ujarnya.
Wijayanto menambahkan, gempa di zona megathrust dengan magnitudo di atas 7 baru berpotensi menimbulkan tsunami di selatan Jawa. Karena itu, BMKG tidak mengeluarkan peringatan dini tsunami meski gempa dirasakan sangat luas.
Guncangan Terasa Hingga DIY dan Jawa Barat
Dampak gempa Megathrust Pacitan dirasakan di berbagai daerah. Selain Pacitan, guncangan dilaporkan terasa hingga Trenggalek dan Blitar di Jawa Timur, Bantul, Gunungkidul, dan Yogyakarta di Daerah Istimewa Yogyakarta, serta Klaten dan wilayah Jawa Tengah.
BMKG bahkan mencatat sebagian masyarakat di Jawa Barat hingga Cilacap dan Cirebon ikut merasakan getaran. Luasnya sebaran guncangan dipengaruhi oleh karakter gempa zona penunjaman yang mampu merambat jauh ke daratan.
Data BPBD: Rumah, Sekolah, hingga Kantor Rusak
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pacitan mencatat dampak kerusakan akibat gempa Megathrust Pacitan cukup signifikan. Hingga siang hari, terdapat lima rumah warga yang dilaporkan rusak, empat di Kecamatan Pacitan dan satu rumah di Kecamatan Pringkuku.
Selain rumah warga, sejumlah fasilitas umum juga terdampak. Kepala Pelaksana BPBD Pacitan, Erwin Andriatmoko, menyebut beberapa sekolah mengalami kerusakan, di antaranya SMP Negeri 4 Ngadirojo dan madrasah ibtidaiyah di wilayah Pacitan. Kantor desa di Desa Bubakan, Kecamatan Tulakan, serta kantor Dinas Koperasi juga dilaporkan mengalami kerusakan.
“Kategori kerusakan mulai dari ringan seperti genteng melorot, keretakan dinding, hingga beberapa bangunan yang masuk kategori rusak berat,” ujar Erwin.
Satu Warga Meninggal, Puluhan Luka di Bantul
BPBD Pacitan juga mengonfirmasi adanya satu warga meninggal dunia di Kecamatan Ngadirojo. Namun, korban tersebut tidak meninggal akibat tertimpa bangunan. “Yang bersangkutan sempat menyelamatkan diri, lalu setelah gempa reda mengalami ambruk dan dinyatakan meninggal di puskesmas,” kata Erwin.
Sementara itu, dampak gempa Megathrust Pacitan juga dirasakan di Kabupaten Bantul, DIY. BPBD Bantul melaporkan tiga rumah rusak, satu tempat ibadah rusak, serta tujuh warga mengalami luka-luka akibat tertimpa material bangunan dan genteng.
Gempa Susulan Capai 21 Kali
BMKG mencatat sedikitnya 21 kali gempa susulan pascagempa utama. Gempa susulan berkekuatan magnitudo 2 hingga 4 tersebut tidak dirasakan masyarakat karena pusat gempa berada cukup jauh dari daratan.
Aktivitas warga Pacitan terpantau kembali normal sejak pagi hari. Sekolah, perkantoran, dan kegiatan ekonomi berjalan seperti biasa. Namun, BPBD mengimbau warga tetap waspada dan tidak mendekati wilayah pantai setelah gempa.
“Kami masih menemukan warga yang justru berada di pinggir pantai pascagempa. Ini sangat tidak dianjurkan,” tegas Erwin.
Imbauan Kesiapsiagaan
BPBD dan BMKG mengingatkan masyarakat untuk memahami jalur evakuasi, menata furnitur rumah agar tidak menghalangi penyelamatan diri, serta hanya mengakses informasi resmi. Gempa Megathrust Pacitan menjadi pengingat pentingnya mitigasi dan kesiapsiagaan di wilayah selatan Jawa yang rawan aktivitas tektonik.
Editor : Natasha Eka Safrina