Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Agenda Elit Global 2030 Dibongkar Darma Pangrekun: Dari MBG, Smart Farming, Vaksin hingga Prediksi Krisis Pekerjaan Massal

Ayu Dhea Cheryl • Minggu, 8 Februari 2026 | 12:57 WIB

 

Darma Pangrekun mengungkap pandangannya soal Agenda Elit Global 2030, mulai isu MBG, SDGs, hingga prediksi krisis pekerjaan dan ketergantungan pangan di masa depan.
Darma Pangrekun mengungkap pandangannya soal Agenda Elit Global 2030, mulai isu MBG, SDGs, hingga prediksi krisis pekerjaan dan ketergantungan pangan di masa depan.

Pernyataan Agenda Elit Global 2030 kembali menjadi perbincangan publik setelah Darma Pangrekun mengulasnya secara panjang lebar dalam sebuah tayangan video YouTube yang kini ramai diperbincangkan. Dalam dialog tersebut, Darma menyampaikan keyakinannya bahwa berbagai kebijakan global yang terlihat hari ini merupakan bagian dari rencana jangka panjang yang telah disusun puluhan tahun lalu.

Sejak awal pembicaraan, Agenda Elit Global 2030 dMenuju 2030isebut Darma sebagai proyek sistematis yang menurutnya tidak banyak disadari masyarakat. Ia bahkan memprediksi akan terjadi kondisi di mana banyak orang kehilangan pekerjaan dan bergantung pada bantuan pangan, mirip pola makan bergizi gratis (MBG) yang belakangan ramai dibahas.

Menurut Darma, program-program tersebut tidak muncul secara tiba-tiba. Ia menyebut telah ada dokumen dan peta jalan global yang menunjukkan arah perubahan ekonomi, sosial, hingga politik dunia menuju tahun 2030.

Baca juga:SDGs Disebut Sebagai Peta Jalan Global

Dalam penjelasannya, Darma menyinggung Sustainable Development Goals (SDGs) yang kerap digunakan sebagai acuan pembangunan berbagai negara. Ia menunjukkan simbol dan ikon SDGs yang menurutnya sering muncul dalam berbagai kebijakan nasional.

“Ini bukan sekadar slogan, tapi agenda global dengan timeline yang jelas,” ujar Darma. Ia menilai banyak negara berdaulat justru mengikuti agenda tersebut tanpa banyak pertanyaan kritis.

Beberapa poin SDGs yang disorot antara lain zero hunger, good health and wellbeing, quality education, hingga gender equality. Darma menilai narasi yang disampaikan ke publik sering kali berbeda dengan implementasi yang menurutnya memiliki dampak jangka panjang terhadap kedaulatan negara.

Baca juga:MBG, GMO, dan Smart Farming

Salah satu isu yang paling disorot Darma adalah zero hunger atau penghapusan kelaparan. Ia mengaitkan program tersebut dengan makanan hasil rekayasa genetika atau genetically modified organism (GMO).

Dalam pandangannya, ketergantungan masyarakat terhadap bantuan pangan dapat meningkat. Ia juga menyinggung konsep smart farming yang dikaitkan dengan pertanian berbasis teknologi dan kepemilikan korporasi besar.

Darma menyebut bahwa sistem tersebut dapat menggeser pola pertanian tradisional dan membuat masyarakat semakin bergantung pada sistem pangan global.

Baca juga:Isu Kesehatan dan Vaksinasi

Pada sektor kesehatan, Darma kembali mengaitkan Agenda Elit Global 2030 dengan pemaksaan vaksin. Ia menyebut narasi kesehatan global sebagai alat pengendalian yang telah dirancang sejak lama.

Ia juga mengkritisi bagaimana isu kesehatan digunakan sebagai dasar pembenaran berbagai kebijakan yang bersifat wajib dan masif. Pandangan ini, meski menuai pro dan kontra, mendapat respons luas dari warganet di kolom komentar video tersebut.

Baca juga:Pendidikan, Gender, dan Keluarga

Darma juga menyoroti sektor pendidikan yang menurutnya tidak lagi netral. Ia menyebut pendidikan modern sebagai ruang indoktrinasi dengan pola pikir yang diseragamkan.

Selain itu, isu gender equality juga menjadi perhatiannya. Darma berpendapat bahwa konsep tersebut berpotensi memicu konflik dalam unit keluarga jika tidak dipahami secara utuh dan kontekstual.

Baca juga:Energi, Digitalisasi, dan Smart Grid

Tak berhenti di situ, Darma menyinggung agenda energi bersih dan sistem smart grid. Ia mengaitkannya dengan potensi pengawasan digital dan registrasi berbasis teknologi.

Menurutnya, digitalisasi penuh berisiko membatasi kebebasan individu jika seluruh aspek kehidupan terhubung dalam satu sistem kendali.

Baca juga:Harga Emas dan Kondisi Ekonomi

Menjawab pertanyaan warganet, Darma juga mengomentari kenaikan harga emas. Ia menilai kenaikan tersebut bukan tanda kesejahteraan, melainkan indikasi melemahnya nilai mata uang akibat inflasi.

Ia mengingatkan masyarakat agar tidak terlena dengan keuntungan sesaat, karena menurutnya kondisi tersebut justru mencerminkan masalah ekonomi yang lebih besar.

Baca juga:

Di akhir pembahasan, Darma menyebut Indonesia telah berada di fase akhir dari agenda global menuju 2030. Pernyataan Agenda Elit Global 2030 yang disampaikannya pun memicu diskusi panjang di ruang publik, mulai dari yang mendukung hingga yang mempertanyakan validitas pandangan tersebut.

Editor : Ayu Dhea Cheryl
#Agenda elitglobal 2030 #sdgs #MBG #Smart Farming #Darma pongrekun