Nama Darma Pongrekun kembali menjadi sorotan publik setelah pernyataannya dalam sebuah tayangan video YouTube viral di media sosial. Dalam perbincangan tersebut, Darma Pongrekun klaim dokumen Epstein bongkar rekayasa Covid-19, yang menurutnya menjadi bukti bahwa pandemi bukan semata isu kesehatan, melainkan bagian dari skenario global.
Sejak awal video, Darma Pongrekun klaim dokumen Epstein bongkar rekayasa Covid-19 sebagai momentum yang membuat masyarakat perlu kembali berpikir kritis terhadap berbagai narasi besar yang selama ini diterima begitu saja. Ia menyebut terbukanya sejumlah dokumen yang dikaitkan dengan kasus Jeffrey Epstein sebagai “kotak Pandora” yang selama ini tertutup oleh framing global.
Menurut Darma, kemunculan dokumen tersebut bukan kebetulan. Ia menyebutnya sebagai bentuk campur tangan Tuhan agar umat manusia tersadar dari apa yang ia sebut sebagai kejahatan kemanusiaan berskala global.
Baca juga:Dokumen Epstein Disebut Jadi Titik Balik
Dalam pemaparannya, Darma menyatakan bahwa dokumen Epstein memperlihatkan praktik-praktik elite dunia yang selama ini tersembunyi dari publik. Ia menilai, terbukanya dokumen tersebut membuat banyak narasi global yang sebelumnya dianggap teori konspirasi kini kembali dipertanyakan.
“Ini jadi fakta yang tidak terbantahkan,” kata Darma dalam video tersebut. Menurutnya, fakta itu kemudian menjadi data yang seharusnya mendorong masyarakat untuk meninjau ulang berbagai kebijakan dan narasi selama pandemi Covid-19.
Ia juga mengkritik cara kerja media arus utama yang menurutnya terlalu terpaku pada pendekatan 5W+1H tanpa menggali lebih dalam kepentingan di balik sebuah narasi. Darma menilai pola pikir tersebut membuat publik sulit melihat konteks yang lebih besar.
Baca juga:Kritik terhadap Sistem Edukasi dan Media
Darma turut menyoroti sistem pendidikan yang ia nilai gagal membentuk pola pikir kritis. Menurutnya, masyarakat hanya diajarkan melihat “batu”, tetapi tidak mampu menangkap “udang di balik batu”.
Ia mengajak masyarakat untuk melakukan revolusi pola pikir agar tidak mudah menerima narasi tunggal, khususnya yang datang dari lembaga-lembaga global. Dalam pandangannya, media memiliki peran besar dalam membentuk ketakutan massal selama pandemi.
Baca juga:Tak Minta Maaf, Sebut Tujuan Selamatkan Bangsa
Menanggapi banyaknya warganet yang mengucapkan terima kasih dan meminta maaf kepadanya, Darma menegaskan tidak perlu ada permintaan maaf maupun ucapan terima kasih. Ia menyebut apa yang dilakukannya bersama sejumlah tokoh lain semata-mata untuk menyelamatkan bangsa.
Ia menyebut beberapa nama yang selama ini vokal mengkritisi kebijakan pandemi, dengan tujuan yang sama, yakni mengingatkan publik terhadap apa yang ia sebut sebagai skenario global.
Baca juga:Covid-19 Disebut Awal Perang Dunia Ketiga
Salah satu pernyataan paling kontroversial Darma adalah ketika ia menyebut Covid-19 sebagai awal dari Perang Dunia Ketiga. Menurutnya, perang modern tidak lagi menggunakan senjata militer konvensional, melainkan ketakutan massal dan kebijakan yang memaksa kepatuhan publik.
Ia mengibaratkan ketakutan sebagai bom, kebijakan sebagai misil, dan kepatuhan massal sebagai pasukan militer. Darma juga menyinggung pernyataan World Economic Forum yang menurutnya berkaitan dengan pengujian kepatuhan manusia.
Baca juga:Kepatuhan Massal dan Agenda Lanjutan
Darma menilai uji kepatuhan tersebut sebagian besar berhasil, meski ia menyebut tidak ada kejahatan yang sempurna. Ia meyakini terbongkarnya dokumen Epstein merupakan kesempatan bagi masyarakat untuk sadar sebelum agenda lanjutan dijalankan.
Agenda tersebut, menurut Darma, tidak berhenti pada isu kesehatan. Ia menyinggung potensi program lanjutan seperti geoengineering hingga konvergensi bio-digital yang disebutnya sebagai tujuan akhir.
Di akhir pernyataannya, Darma mengimbau para pejabat, influencer, dan media yang selama pandemi aktif menggaungkan ketakutan untuk melakukan refleksi dan meminta maaf kepada publik jika terbukti ikut menyebarkan narasi yang keliru.
Pernyataan Darma Pongrekun klaim dokumen Epstein bongkar rekayasa Covid-19 pun memicu pro dan kontra di ruang publik. Sebagian menilai pandangannya kontroversial, sementara lainnya melihatnya sebagai kritik keras terhadap sistem global yang selama ini jarang dipertanyakan.
Editor : Ayu Dhea Cheryl