Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Momentum Hari Pers Nasional, Pers Didorong Tetap Independen dan Edukatif di Tengah Gempuran AI dan Medsos

Rinto Wahyu Hidayat • Senin, 9 Februari 2026 | 13:58 WIB

Di tengah derasnya arus medsos dan kecerdasan buatan (AI), pers dituntut tetap menjaga kredibilitas dengan menyampaikan fakta yang utuh dan berimbang kepada masyarakat.(Ilustrasi Gemini AI)
Di tengah derasnya arus medsos dan kecerdasan buatan (AI), pers dituntut tetap menjaga kredibilitas dengan menyampaikan fakta yang utuh dan berimbang kepada masyarakat.(Ilustrasi Gemini AI)

RADAR TULUNGAGUNG - Momentum Hari Pers Nasional saat ini memerlukan semangat tinggi bagi para wartawan.

Lantaran di tengah perkembangan zaman sekarang, perilaku warga sudah berubah.

Dulu masih sering membaca media massa, kini disrupsi tidak bisa dihindari.

Maka perlu langkah kongkret agar bisa mempertahankan kepercayaan masyarakat.

Termasuk dengan mengembalikan marwah pers yang independen dan memberikan informasi akurat dan berimbang.

Maka sebagai wartawan, perlu kembali memiliki semangat dalam menjalankan fungsi pers sesuai dengan undang-undang.

“Di tengah disrupsi media, pers harus tetap aktif dan menjadi pembeda dengan media sosial. Sebab, isi informasi suatu berita telah terverifikasi dengan kode etik,” terang praktisi hukum, Rudy Iswahyudi, Minggu (8/2).

Dia mengaku adanya pers bisa membantu masyarakat untuk mendapatkan informasi yang layak dan tidak sepihak.

Artinya, secara kualitas, pers memiliki peran penting di saat serbuan teknologi membajiri individu.

“Fungsi edukatif harus dikedepankan,” terang pria tersebut.

Apalagi, pers memiliki undang-undang tersendiri ketika menjalankan pekerjaan.

Dengan demikian bisa masuk ke segala lini, tidak terkecuali bidang hukum.

Di bidang hukum, peran pers bisa membantu masyarakat untuk mencari keadilan yang harus ditegakkan.

“Pers harus bermartabat dan independen,” tandasnya.

Sementara itu, pengamat kebijakan publik, Andreas Djatmiko mengatakan, di tengah masifnya perkembangan teknologi AI dan medsos, media memiliki peluang sekaligus ancaman yang tidak dapat dihindari lagi, terutama terkait kredibilitas akurasi dan kecepatan informasi yang disajikan.

Sebagai orang awam, kata dia, idealnya suatu media tetap menjadi benteng kredibilitas yang tangguh.

Media sebagai pionir diharapkan senantiasa menjadi rujukan utama kebenaran di tengah banjir konten buatan AI, dengan melakukan verifikasi ketat sumber informasi sebelum menerbitkan berita.

Jurnalis hendaknya menjadikan teknologi AI sebatas mitra (alat bantu), bukan pengganti jurnalis.

”Saya berharap media selalu mempertahankan sentuhan empati, nurani, dan konteks mendalam yang tidak dimiliki oleh tekhnologi (kecerdasan buatan),” kata pria yang juga dosen UBHI PGRI Tulungagung ini.

Dia menambahkan, pers hendaknya di tengah masifnya medsos tetap menjadi yang literat dan edukatif, aktif mengedukasi publik mengenai bahaya deepfake, dan cara membedakan konten asli dan buatan AI.

Media melalui jurnalis diharapkan selalu menyajikan konten yang relevan dengan minat pembaca namun tetap berpegang pada kode etik jurnalistik.

“Sekalipun ada sedikit kekhawatiran bagi saya selaku awam, terhadap media yang terlalu bergantung pada AI untuk memproduksi berita, sehingga mengabaikan investigasi mendalam dan lapangan,” pungkasnya. (rin/c1/din)

Editor : Vidya Sajar Fitri
#media #ai #HPN 2026 #hari pers nasional