RADAR TULUNGAGUNG - Ancaman cuaca ekstrem kembali menjadi perhatian nasional. Komisi IV DPR RI mendorong Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) untuk memperkuat teknologi modifikasi cuaca guna menghadapi potensi siklon tropis serta hujan ekstrem yang semakin sulit diprediksi.
Dorongan tersebut disampaikan dalam agenda di Kompleks DPR RI, Senayan, Jakarta, Kamis (5/2/2026). Para legislator menilai peningkatan frekuensi cuaca ekstrem harus diantisipasi sejak dini agar dampaknya tidak semakin meluas, terutama bagi wilayah dengan tingkat kerawanan tinggi terhadap bencana hidrometeorologi.
BMKG sendiri mengungkapkan bahwa tren cuaca ekstrem menunjukkan perubahan signifikan dalam beberapa dekade terakhir. Jika sebelumnya siklon tropis cenderung terbentuk jauh dari daratan Indonesia, kini fenomena tersebut terdeteksi semakin mendekati wilayah pesisir bahkan berpotensi memengaruhi cuaca di darat.
Siklon Tropis Kian Dekat ke Indonesia
BMKG menegaskan bahwa perubahan pola atmosfer global menjadi salah satu faktor yang mendorong pergeseran jalur siklon tropis. Dampaknya, Indonesia yang selama ini relatif aman dari lintasan langsung siklon kini harus meningkatkan kewaspadaan.
Dalam proyeksi 10 hingga 20 tahun ke depan, potensi kejadian cuaca ekstrem diperkirakan meningkat. Kondisi ini tidak hanya memicu hujan berintensitas tinggi, tetapi juga angin kencang hingga gelombang laut yang berbahaya.
Pulau Jawa dan Sumatera disebut sebagai wilayah yang memiliki risiko cukup besar. Kepadatan penduduk serta kondisi geografis membuat dua pulau tersebut rentan mengalami banjir dan longsor ketika hujan ekstrem terjadi dalam durasi panjang.
“Perubahan ini harus menjadi alarm bagi semua pihak untuk memperkuat mitigasi bencana,” demikian penekanan yang disampaikan dalam forum tersebut.
Teknologi Modifikasi Cuaca Jadi Andalan
Salah satu langkah strategis yang didorong DPR adalah optimalisasi teknologi modifikasi cuaca. Teknologi ini dinilai mampu mengurangi intensitas hujan di area tertentu atau mengalihkan awan hujan sebelum mencapai wilayah rawan bencana.
Meski bukan solusi tunggal, modifikasi cuaca dapat menjadi instrumen penting dalam strategi pengurangan risiko bencana, khususnya saat terjadi potensi hujan ekstrem berskala besar.
Komisi IV DPR RI menilai penguatan teknologi harus dibarengi dengan kesiapan sumber daya manusia, peralatan modern, serta koordinasi lintas lembaga agar respons terhadap cuaca ekstrem bisa dilakukan lebih cepat.
Selain itu, dukungan anggaran juga dianggap krusial untuk memastikan program mitigasi berjalan optimal.
Perkuat Sistem Peringatan Dini
BMKG menegaskan bahwa penguatan sistem peringatan dini menjadi langkah mitigasi paling mendesak. Informasi cuaca harus dapat diterima masyarakat secara cepat, akurat, dan mudah dipahami.
Selama ini, tantangan terbesar bukan hanya pada prediksi cuaca, tetapi juga distribusi informasi ke masyarakat. Tidak jarang peringatan sudah dikeluarkan, namun tidak seluruh warga mendapatkan informasi tepat waktu.
Karena itu, integrasi teknologi komunikasi dinilai penting agar peringatan bisa menjangkau hingga tingkat daerah, termasuk desa-desa yang rawan bencana.
“Yang paling penting adalah memastikan informasi benar-benar diterima masyarakat sehingga mereka bisa melakukan langkah antisipasi,” tegas pihak BMKG.
Mitigasi Jadi Tanggung Jawab Bersama
Peningkatan risiko cuaca ekstrem menuntut kolaborasi antara pemerintah pusat, daerah, hingga masyarakat. Edukasi kebencanaan dinilai perlu terus digencarkan agar warga memahami tindakan yang harus dilakukan saat terjadi potensi banjir, longsor, maupun angin kencang.
Para ahli juga mengingatkan bahwa perubahan iklim global turut memperbesar ketidakpastian cuaca. Oleh karena itu, pendekatan adaptif harus menjadi bagian dari kebijakan jangka panjang.
Langkah sederhana seperti menjaga lingkungan, memperbaiki drainase, hingga tidak membangun di zona rawan longsor dapat membantu menekan dampak bencana.
Dengan tren siklon tropis yang semakin mendekat dan intensitas hujan yang sulit diprediksi, penguatan teknologi serta sistem peringatan dini menjadi investasi penting bagi keselamatan masyarakat.
Kewaspadaan sejak sekarang diharapkan mampu mengurangi risiko korban maupun kerugian ekonomi ketika cuaca ekstrem benar-benar terjadi di masa mendatang.
Editor : Rosana Mar'atu Solikah