RADAR TULUNGAGUNG - Meski siklon tropis yang sebelumnya terpantau di sekitar wilayah Australia telah melemah, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan masyarakat agar tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem di berbagai daerah Indonesia.
Prakirawan BMKG, Wahyu Argo, menjelaskan bahwa eks Siklon Tropis Luana kini telah berubah menjadi sistem tekanan rendah dengan tekanan udara sekitar 990 hektopascal dan kecepatan angin mencapai 55 kilometer per jam. Sistem tersebut juga bergerak menjauh ke arah tenggara sehingga tidak lagi memberikan dampak langsung ke Indonesia.
Namun demikian, dampak tidak langsung dari siklon tropis tetap berpotensi memicu hujan lebat, angin kencang, hingga gelombang tinggi. Karena itu, kewaspadaan tetap diperlukan, terutama bagi masyarakat yang tinggal di wilayah pesisir dan daerah rawan bencana hidrometeorologi.
Apa Itu Siklon Tropis?
Wahyu menjelaskan bahwa siklon tropis merupakan sistem cuaca berskala besar yang terbentuk di atas perairan tropis hangat. Fenomena ini ditandai dengan tekanan udara rendah di pusatnya, pusaran angin kuat, serta pertumbuhan awan konvektif yang intens.
Kecepatan angin dalam siklon bahkan bisa mencapai 63 kilometer per jam atau lebih. Meski tidak selalu melintasi daratan Indonesia, keberadaannya di Samudra Hindia maupun Pasifik barat tetap dapat memengaruhi kondisi atmosfer nasional.
Dampaknya antara lain peningkatan curah hujan, penguatan angin permukaan, serta naiknya tinggi gelombang laut.
Cuaca Ekstrem Masih Mengancam Sepekan ke Depan
BMKG memprediksi cuaca Indonesia dalam sepekan ke depan umumnya didominasi hujan ringan hingga sedang. Meski begitu, sejumlah wilayah perlu mewaspadai potensi hujan lebat bahkan sangat lebat pada periode tertentu.
Daerah yang masuk dalam daftar kewaspadaan meliputi Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, hingga Papua Pegunungan.
Sementara itu, kawasan Jabodetabek secara umum diperkirakan mengalami hujan ringan hingga sedang. Tetapi pada rentang waktu tertentu, potensi hujan lebat masih bisa terjadi di sebagian wilayah.
“Kondisi siklon memang sudah melemah, tetapi potensi cuaca ekstrem tetap perlu diwaspadai,” ujar Wahyu.
Gelombang Tinggi Ancam Nelayan
Tidak hanya hujan dan angin, BMKG juga memperingatkan adanya gelombang laut cukup tinggi akibat pengaruh tekanan rendah dari eks siklon.
Wilayah Samudra Hindia, mulai dari barat Lampung hingga selatan Pulau Jawa dan Nusa Tenggara Timur, berpotensi mengalami gelombang mencapai 2,5 meter.
Kondisi ini dinilai berbahaya bagi aktivitas pelayaran, terutama nelayan dan kapal berukuran kecil.
BMKG mengimbau pelaku aktivitas laut untuk rutin memantau informasi prakiraan cuaca sebelum berlayar guna menghindari risiko kecelakaan.
Perubahan Iklim Ikut Memperparah Risiko
Menurut Wahyu, perubahan iklim turut berkontribusi terhadap meningkatnya frekuensi dan intensitas cuaca ekstrem. Meski memiliki skala waktu berbeda, perubahan iklim dapat memperbesar peluang terjadinya hujan lebat maupun angin kencang.
Perubahan iklim bersifat jangka panjang, sedangkan cuaca ekstrem terjadi dalam periode lebih singkat. Namun keduanya saling berkaitan dalam membentuk pola cuaca yang semakin sulit diprediksi.
Musim Hujan Diperkirakan Berlangsung hingga April
BMKG memperkirakan musim hujan di Indonesia masih akan berlangsung setidaknya hingga April mendatang. Artinya, curah hujan tinggi masih berpotensi terjadi di sejumlah wilayah.
Situasi ini menuntut kesiapsiagaan masyarakat serta pemerintah daerah untuk meminimalkan dampak bencana seperti banjir dan longsor.
Langkah Mitigasi yang Perlu Dilakukan
BMKG merekomendasikan beberapa langkah mitigasi untuk menghadapi potensi cuaca ekstrem. Masyarakat diminta memastikan saluran air tidak tersumbat agar mampu mencegah banjir.
Selain itu, warga disarankan mengamankan barang berharga ke tempat lebih tinggi serta memperkuat bagian rumah yang rentan terhadap angin kencang, seperti atap.
Saat angin kencang terjadi, masyarakat juga diminta menghindari berteduh di bawah pohon atau papan reklame.
Yang tidak kalah penting, publik harus rutin memantau informasi cuaca terbaru dari BMKG sebagai acuan dalam beraktivitas.
Pemerintah daerah pun diimbau meningkatkan kesiapsiagaan dengan memetakan wilayah rawan, memastikan infrastruktur dan drainase berfungsi baik, serta memperkuat koordinasi lintas sektor.
Dengan melemahnya siklon tropis bukan berarti ancaman telah berakhir. Kewaspadaan kolektif menjadi kunci agar masyarakat dapat menghadapi potensi cuaca ekstrem yang masih membayangi Indonesia dalam beberapa bulan ke depan.
Editor : Rosana Mar'atu Solikah