RADAR TULUNGAGUNG – Zona Megathrust Indonesia kembali menjadi sorotan setelah para ahli mengungkap besarnya potensi gempa dan tsunami dari pertemuan lempeng Indo-Australia dan Eurasia di selatan Pulau Jawa. Wilayah ini disebut menyimpan energi besar yang sewaktu-waktu dapat dilepaskan dalam bentuk gempa berkekuatan sangat tinggi.
Menurut penjelasan para peneliti kebumian, Zona Megathrust Indonesia merupakan bagian dari sistem subduksi aktif, yakni wilayah pertemuan dua lempeng tektonik besar. Proses penunjaman lempeng ini membentuk patahan panjang di bawah permukaan bumi, yang menjadi sumber gempa besar berkedalaman dangkal, umumnya kurang dari 50 kilometer.
Potensi dari Zona Megathrust Indonesia bukanlah ancaman baru. Secara geologis, sistem ini telah terbentuk sejak jutaan tahun lalu ketika rangkaian busur kepulauan Indonesia mulai muncul. Artinya, aktivitas kegempaan besar di wilayah Nusantara merupakan bagian dari dinamika alam yang telah berlangsung sangat lama.
Baca Juga: Gempa Pacitan Magnitudo 5,7 Guncang Jatim, BMKG Ingatkan Ancaman Megathrust di Pesisir Selatan
BMKG Catat 13 Titik Megathrust Aktif
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat sedikitnya 13 titik megathrust tersebar di enam zona subduksi aktif Indonesia. Wilayah tersebut membentang dari Sumatera, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, hingga Sulawesi dan Papua. Setiap segmen memiliki potensi kekuatan gempa berbeda, tergantung akumulasi energi yang tersimpan.
Salah satu segmen yang paling mendapat perhatian adalah Megathrust Selat Sunda. Data BMKG menunjukkan segmen ini terakhir melepaskan gempa besar pada tahun 1757. Sementara segmen Mentawai-Siberut bahkan belum aktif sejak gempa besar 1797. Kondisi semacam ini dikenal sebagai seismic gap, yaitu zona yang lama tidak mengalami pelepasan energi, tetapi secara geologis justru berpotensi memicu gempa besar.
Para ahli menekankan bahwa istilah ini bukan untuk menakut-nakuti, melainkan sebagai dasar kewaspadaan ilmiah. Semakin lama energi tertahan, semakin besar potensi guncangan yang bisa terjadi ketika pelepasan terjadi.
Jejak Tsunami Besar di Selatan Jawa
Peneliti dari Pusat Riset Kebumian dan Geohazard BRIN mengungkap bukti sejarah tsunami besar di pesisir selatan Jawa. Endapan paleo tsunami ditemukan di wilayah selatan Banten hingga Pacitan. Lapisan sedimen tersebut menjadi bukti bahwa gelombang besar pernah menyapu kawasan itu pada masa lampau.
Hasil penanggalan radiokarbon menunjukkan sedikitnya tiga kejadian tsunami besar terjadi sekitar 1.800 tahun lalu, 1.000 tahun lalu, dan 400 tahun lalu. Pola ini memperlihatkan siklus perulangan tsunami besar sekitar 600–800 tahun sekali.
Jika kejadian terakhir sekitar 400 tahun lalu, maka secara statistik peristiwa serupa berpotensi kembali terjadi dalam rentang 200 hingga 400 tahun ke depan. Namun, para ahli menegaskan bahwa belum ada teknologi yang mampu memprediksi waktu pasti gempa.
Baca Juga: Gempa Pacitan Guncang Dini Hari, BMKG Ungkap Jejak Tsunami 1840 dan Potensi Megathrust Selatan Jawa
Guncangan Bisa Terasa di Seluruh Jawa
Ahli kebumian menyebut gempa dari megathrust selatan Jawa dapat dirasakan hampir di seluruh Pulau Jawa. Selain guncangan kuat, potensi tsunami besar juga mengancam garis pantai selatan, terutama daerah dengan dataran rendah.
Jejak sejarah menunjukkan pernah terjadi gempa berkekuatan mendekati Magnitudo 9 di wilayah ini. Skala tersebut termasuk kategori gempa raksasa yang berpotensi memicu kerusakan luas dan tsunami besar.
Mitigasi Jadi Kunci Utama
Meski istilah “tinggal menunggu waktu” kerap muncul, BMKG menegaskan masyarakat tidak perlu panik. Fokus utama adalah mitigasi bencana, seperti mengenali jalur evakuasi, memahami tanda-tanda tsunami, serta mengikuti informasi resmi saat terjadi gempa.
Pemerintah daerah di kawasan pesisir selatan Jawa juga didorong memperkuat sistem peringatan dini dan edukasi kebencanaan. Dengan kesiapsiagaan, risiko korban jiwa dan kerusakan dapat ditekan.
Pada akhirnya, Zona Megathrust Indonesia adalah realitas geologi yang tak bisa dihindari. Namun dengan pemahaman dan kesiapan yang baik, dampaknya dapat diminimalkan.
Editor : Lucky Naiha Syafira