Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Gempa Pacitan Magnitudo 6,4 Berjenis Megathrust, BMKG Ungkap Mekanisme Sumber dan Alasan Tak Picu Tsunami

Ayu Dhea Cheryl • Rabu, 11 Februari 2026 | 09:58 WIB

Peta BMKG menunjukkan lokasi episentrum gempa Pacitan magnitudo 6,4 yang terjadi di laut selatan Jawa, Jumat (6/2/2026). BMKG memastikan gempa megathrust ini tidak berpotensi tsunami.
Peta BMKG menunjukkan lokasi episentrum gempa Pacitan magnitudo 6,4 yang terjadi di laut selatan Jawa, Jumat (6/2/2026). BMKG memastikan gempa megathrust ini tidak berpotensi tsunami.

Gempa Pacitan bermagnitudo 6,4 mengguncang wilayah Kabupaten Pacitan, Jawa Timur, dan sejumlah daerah di sekitarnya pada Jumat, 6 Februari 2026, sekitar pukul 06.00 WIB. Getaran gempa bahkan dirasakan hingga Yogyakarta dan kawasan utara Pulau Jawa, membuat warga panik dan berhamburan keluar rumah.

Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Gempa Pacitan tersebut berpusat di laut, sekitar 89 kilometer tenggara Kota Pacitan, dengan kedalaman 58 kilometer. Lokasi dan karakteristik gempa ini kemudian diklasifikasikan sebagai gempa berjenis megathrust.

Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Daryono, menjelaskan bahwa Gempa Pacitan memiliki karakteristik khusus yang dapat dilihat dari hasil analisis mekanisme sumber gempa. Analisis tersebut menunjukkan adanya pergerakan naik atau thrust fault, yang merupakan ciri khas gempa akibat aktivitas subduksi lempeng tektonik.

Baca juga:Mekanisme Gempa Megathrust di Pacitan

Menurut Daryono, mekanisme pergerakan naik terjadi akibat tumbukan dua lempeng tektonik yang bergerak saling mendekat. Dalam proses tersebut, salah satu lempeng menunjam ke bawah lempeng lainnya, sehingga memicu pelepasan energi dalam bentuk gempa bumi.

“Dari hasil analisis mekanisme sumber, gempa ini menunjukkan pergerakan naik. Ini menandakan aktivitas subduksi di selatan Jawa,” jelas Daryono, Jumat (6/2/2026).

Dengan mekanisme tersebut, gempa ini tergolong gempa dangkal yang dipicu oleh aktivitas subduksi pada zona megathrust selatan Jawa. Wilayah ini memang dikenal sebagai salah satu zona seismik paling aktif di Indonesia.

Baca juga:BMKG Pastikan Tak Berpotensi Tsunami

Meski berjenis megathrust, BMKG memastikan Gempa Pacitan bermagnitudo 6,4 ini tidak berpotensi menimbulkan tsunami. Daryono menegaskan, tidak semua gempa megathrust selalu memicu tsunami atau guncangan besar.

“Potensi tsunami sangat bergantung pada sejumlah faktor, seperti magnitudo, kedalaman, mekanisme sumber, dan deformasi dasar laut. Pada gempa ini, parameter tersebut tidak memenuhi syarat terjadinya tsunami,” tegasnya.

Kepastian ini menjadi penenang bagi masyarakat pesisir selatan Jawa yang sempat khawatir mengingat sejarah gempa di wilayah tersebut.

Baca juga:Getaran Dirasakan Hingga Banyak Daerah

Dampak Gempa Pacitan dirasakan di berbagai wilayah dengan intensitas yang bervariasi. Pada skala intensitas IV MMI, guncangan dirasakan oleh banyak orang di dalam rumah, terutama di wilayah Pacitan, Bantul, dan Sleman. Getaran cukup kuat hingga membuat barang-barang rumah tangga bergoyang.

Sementara itu, pada intensitas III MMI, getaran terasa jelas di dalam rumah seperti dilalui kendaraan besar. Wilayah yang merasakan intensitas ini antara lain Kulon Progo, Trenggalek, Wonogiri, Malang, Cirebon, Blitar, Surakarta, Karanganyar, Magelang, Jombang, Tulungagung, Ponorogo, Magetan, Nganjuk, Wonosobo, dan Banjarnegara.

Adapun intensitas II MMI dirasakan di Tuban dan Jepara. Pada level ini, getaran tergolong ringan dan ditandai dengan bergoyangnya benda-benda ringan yang digantung.

Baca juga:Pacitan dan Sejarah Tsunami

BMKG juga mengingatkan bahwa wilayah Pacitan memiliki catatan sejarah kegempaan yang perlu diwaspadai. Berdasarkan data historis, gempa di Pacitan pernah memicu tsunami pada tahun 1840 dan 1959.

Meski demikian, BMKG menegaskan setiap gempa memiliki karakteristik berbeda. Oleh karena itu, masyarakat diminta tidak terpancing isu atau informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.

BMKG mengimbau warga tetap tenang, menjauhi bangunan yang berpotensi runtuh, serta terus memantau informasi resmi melalui kanal BMKG. Kesiapsiagaan dan literasi kebencanaan dinilai menjadi kunci utama dalam menghadapi potensi gempa susulan di wilayah selatan Jawa.

Editor : Ayu Dhea Cheryl
#bmkg #gempa jawa timur #gempa megathrust #gempa pacitan #potensi tsunami